Trakindo Dorong Siswa Ciptakan Solusi untuk Sekolah Ramah Anak
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Program Generasi Trakindo 2026 yang digagas PT Trakindo Utama, distributor alat berat merek Caterpilar di Indonesia, mendorong siswa di SDN Pelambuan 4 Banjarmasin, Kalimantan Selatan dan SMP Negeri 1 Lubuk Pakam, Sumatra Utara menciptakan inovasi membangun sekolah ramah anak. Melalui pendekatan challenge based learning (CBL), siswa mengenali persoalan di lingkungan sekolah lalu mengembangkan solusi sesuai kebutuhan teman-temannya.
Di SDN Pelambuan 4 Banjarmasin, siswa mengembangkan Papan Kompas atau Kontrol Mulut Pastikan Sopan untuk membantu mengurangi kebiasaan mengejek, berkata kasar, dan saling menghina yang sebelumnya masih dianggap sebagai candaan. Papan Kompas dirancang sebagai media pembelajaran berbasis permainan edukatif. Ide tersebut terinspirasi dari papan perkalian yang biasa digunakan di kelas, kemudian dikembangkan menjadi permainan bertema petualangan agar lebih menarik dan mudah dipahami siswa.
Dalam permainan tersebut, siswa belajar mengendalikan ucapan melalui sistem penghargaan dan konsekuensi. Pendekatan itu membuat pembelajaran mengenai komunikasi yang baik tidak hanya disampaikan melalui nasihat, tetapi juga melalui aktivitas yang dekat dengan keseharian siswa.
Baca Juga
Dorong Transformasi Digital Industri Alat Berat, Trakindo Kembangkan Tiga Aplikasi Ini
Perwakilan kelompok siswa SDN Pelambuan 4 Banjarmasin, Nur Fazrian, mengatakan penerapan inovasi tersebut membuat suasana kelas menjadi lebih nyaman.
“Suasana kelas menjadi lebih damai dan saling menghargai. Yang paling terasa bukan hanya berkurangnya kata-kata kasar, tetapi juga tumbuhnya sikap saling menghargai antarteman sekelas,” kata Fazrian dikutip Selasa (18/8/2026).
Sekolah juga melibatkan siswa dalam proses mengenali persoalan dan merancang penyelesaiannya. Guru berperan sebagai pendamping, sementara perkembangan siswa dan inovasi yang mereka kembangkan dipantau melalui jurnal kelas.
Guru pendamping SDN Pelambuan 4 Banjarmasin, Anugrah Mitria Sari, mengatakan proses tersebut memberikan pengalaman berbeda bagi siswa karena mereka tidak hanya menerima solusi dari guru.
“Yang paling membanggakan bukan hanya melihat hasil akhirnya, tetapi bagaimana siswa berani mengenali persoalan di sekitarnya dan mencari jalan keluarnya sendiri. Dari proses itu, anak-anak menjadi lebih peka terhadap cara mereka berkomunikasi dan memahami bahwa setiap anak bisa menjadi bagian dari perubahan di sekolah,” ujar Anugrah.
Persoalan berbeda dihadapi siswa SMP Negeri 1 Lubuk Pakam. Sebagian siswa masih enggan mendatangi ruang Bimbingan Konseling (BK) karena khawatir mendapat stigma sebagai siswa bermasalah. Para siswa justru merasa lebih nyaman berbicara dengan guru BK di tempat lain, seperti taman atau sudut sekolah. Kondisi tersebut kemudian mendorong mereka mengembangkan Perisai Pintar, sebuah aplikasi yang memungkinkan siswa menyampaikan cerita dan keluhan secara anonim kepada guru BK.
Sebelumnya, sekolah telah menyediakan kotak curhat sebagai sarana bagi siswa untuk menyampaikan persoalan. Namun, penggunaannya belum berjalan efektif sehingga siswa mencari pendekatan lain yang dinilai lebih sesuai dengan kebiasaan teman-temannya.
Hasil observasi menunjukkan sekitar 60% siswa mendukung pengembangan Perisai Pintar. Dalam prosesnya, siswa juga mendapat kesempatan mempelajari pembuatan aplikasi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan mengembangkan situs tersebut bersama tim.
Perwakilan kelompok siswa SMP Negeri 1 Lubuk Pakam, Angelika Patresia Gultom, mengatakan Perisai Pintar dapat menjadi ruang bagi siswa untuk menyampaikan persoalan yang sulit diceritakan secara langsung.
“Senang sih, kan saya juga sama teman-teman kan sama-sama seumuran, jadi ngerti gimana perasaannya kalau curhat itu enggak didengar. Jadi kalau ada Perisai Pintar ini, kami punya tempat untuk berkeluh kesah,” kata Angelika.
Guru BK SMP Negeri 1 Lubuk Pakam, Mennusuriani Saragih, mengatakan pendekatan Challenge Based Learning membantu siswa membangun kemampuan bekerja sama. “Yang saya lihat dari materi CBL, anak-anak akhirnya bisa bekerja sama, bergotong royong dalam melaksanakan program CBL ini di sekolah,” ujar Mennusuriani.
Menjangkau ratusan sekolah
Papan Kompas dan Perisai Pintar merupakan bagian dari program Generasi Trakindo 2026 yang mengangkat tema Sekolah Ramah Anak. Program tersebut menggunakan pendekatan challenge based learning yang mendorong siswa mengenali persoalan, merancang solusi, dan terlibat langsung dalam proses perubahan di lingkungan sekolah.
Baca Juga
Mengelola Siklus Industri dan Keberlanjutan, Strategi Trakindo Bertahan 55 Tahun
Hingga 2026, program Generasi telah menjangkau 205 sekolah yang terdiri dari 30 SDN dan SMPN Mitra serta 175 sekolah imbas di 18 provinsi di Indonesia. Sejak 2021, program tersebut telah mendorong lahirnya lebih dari 150 inovasi yang dikembangkan berdasarkan kebutuhan masing-masing sekolah dan lingkungan sekitarnya.
Corporate Communication & CSR Manager PT Trakindo Utama, Candy Sihombing, mengatakan pengalaman kedua sekolah tersebut menunjukkan pentingnya memberikan ruang kepada siswa untuk mengenali persoalan di lingkungan mereka dan ikut mencari solusinya.
“Ketika siswa diberikan ruang untuk memahami persoalan di sekitarnya dan dipercaya untuk mencari solusi, mereka belajar bahwa suara dan gagasan mereka dapat memberikan dampak nyata bagi lingkungan sekolah. Bagi kami, keberhasilan Program GENERASI tidak hanya terlihat dari lahirnya inovasi, tetapi juga dari tumbuhnya kepedulian dan kepercayaan diri siswa untuk menjadi bagian dari perubahan,” jelas Candy.

