LLDIKTI III Tegaskan ESG Bukan Lagi Pemanis Laporan, Perguruan Tinggi Didesak Cepat Merespons
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah III Jakarta menegaskan bahwa ESG telah bertransformasi dari sekadar komponen pemanis laporan tahunan menjadi metrik operasional yang mengikat.
Hal itu diungkapkan Kepala LLDIKTI Wilayah III Jakarta Henri Togar Hasiholan Tambunan dalam acara Parallel Discussion & Paper Presentation Management & Environmental, Social, and Governance (ESG) yang digelar Universitas Paramadina pada Selasa (18/8/2026).
"ESG hari ini bukan lagi sekedar pemanis laporan tahunan atau kampanye humas perusahaan saja, ya. Ia telah bertransformasi menjadi metrik operasional yang sangat mengikat," ujar Henri.
Henri menjelaskan, tekanan investor global dan regulasi ketat memaksa sektor industri merombak rantai pasok serta arsitektur tata kelola mereka. Oleh karena itu, ekosistem pendidikan tinggi dituntut untuk cepat merespons perubahan tersebut dengan tidak lagi berpatokan pada teori manajemen klasik semata.
"Kita tidak bisa lagi sekedar mentransfer teori manajemen klasik, ya, kepada para mahasiswa khususnya mahasiswa doktoral kita," jelas Henri.
Baca Juga
Rektor Paramadina: 17 Agustus Harus Jadi Momentum Koreksi Demokrasi dan Negara Hukum
Ia menekankan bahwa mahasiswa doktoral, dosen, dan peneliti perguruan tinggi harus mampu membedah integrasi aspek lingkungan, keadilan sosial, serta akuntabilitas tata kelola tanpa mengorbankan ketahanan ekonomi bisnis.
Memomentumkan peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia, Henri mengingatkan pesan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi agar perguruan tinggi tidak hanya menjadi penonton, melainkan tulang punggung kebangkitan bangsa. Hal tersebut sejalan dengan fokus kebijakan saat ini, yaitu diktisainstek berdampak.
Lebih lanjut, hasil riset dan disertasi akademisi diharapkan mampu melahirkan purwarupa, paten, serta solusi praktis bagi arsitektur bisnis nasional, bukannya berhenti sebagai dokumen pasif di perpustakaan.
Kehadiran keynote speaker asal Jepang, Dr. Akihisa Mori, diharapkan menjadi ajang perbandingan yang berharga mengingat ketatnya standar lingkungan dan kepatuhan sosial di negara tersebut. Forum akademik ini ditargetkan mampu memantik dialog komparatif yang tajam guna merumuskan kolaborasi nyata antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan masyarakat Indonesia.
"Jadikan hari ini sebagai arena bertukar gagasan, ya, bertukar pemikiran yang tajam, pragmatis, namun tetap kokoh berdiri di atas kaidah akademik yang ketat," tutur Henri.
Baca Juga
Dalam kesempatan ini, Henri turut mengapresiasi inisiatif Universitas Paramadina yang menggelar seminar tersebut. Langkah ini dinilai sangat relevan dan tepat waktu di tengah pesatnya kebutuhan industri terhadap riset serta talenta yang memahami dinamika keberlanjutan.
Turut hadir dalam kesempatan ini, Rektor Universitas Paramadina Didik J. Rachbini dan Ketua Program Doktor Ilmu Manajemen dan Bisnis di Universitas Paramadina Ahmad Badawi Saluy.

