Bahlil Minta Masyarakat Tenang, Pemerintah Sudah Dapat Alternatif Sumber 'Crude'
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengimbau kepada masyarakat untuk tidak khawatir terkait dengan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Sebab, pemerintah sudah mendapatkan alternatif sumber minyak mentah (crude).
Bahlil memahami konflik geopolitik di Timur Tengah membuat masyarakat menjadi waswas. Pasalnya, imbas konflik tersebut membuat Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia menjadi ditutup.
Kondisi ini dikhawatirkan bakal mempengaruhi pasokan bahan bakar minyak (BBM) di Tanah Air. Namun demikian, Bahlil menegaskan bahwa pemerintah sudah mendapatkan alternatif sumber minyak selain dari Timur Tengah.
“Untuk menjamin pasokan BBM kita, ada dua, yang pertama di middle east itu adalah crude-nya, sementara minyak jadinya tidak dari middle east. Ketika terjadi ketegangan di Timur Tengah, pemerintah atas arahan Bapak Presiden untuk mencari sumber-sumber pasokan lain untuk mengganti yang dari middle east, Alhamdulillah sudah dapat,” kata Bahlil dalam konferensi pers, Selasa (31/3/2026).
Baca Juga
Pertamina Dukung Keputusan Pemerintah Tak Naikkan Harga Semua Jenis BBM
Selain telah mendapatkan alternatif sumber crude, Bahlil juga mengungkapkan bahwa produksi BBM dalam negeri pun mengalami peningkatan setelah diresmikannya Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan pada Januari 2026 kemarin.
“RDMP yang di Balikpapan itu menghasilkan 5,6 juta kiloliter bensin dan kurang lebih sekitar 4,5 juta kiloliter solar,” ucap mantan Menteri Investasi tersebut.
Baca Juga
Menurutnya, dengan kondisi ini membuat Indonesia ke depannya bakal lebih banyak melakukan impor crude. Adapun untuk pengolahan minyak mentahnya bisa dilakukan di dalam negeri.
“Jadi artinya apa? Yang kita kedepan impor yang paling banyak itu crude. Crude-nya yang paling banyak. Sementara yang untuk BBM yang RON 90, 95, 98 dan 92 sebagian kita produksi di dalam negeri, sebagian kita impor dari negara Asia Tenggara,” sebutnya.
Sementara itu, terkait dengan LPG, Bahlil mengatakan bahwa impor LPG Indonesia dari Timur Tengah sekitar 20%. Untuk impor LPG dari Timur Tengah ini pemerintah juga sudah mendapatkan alternatifnya.
“LPG sekarang kita sudah dorong untuk mengambil di beberapa negara yang non middle east, terutama di Amerika. Jadi secara pasokan, insyaAllah mohon doanya clear, nggak ada masalah. Jadi insyaAllah nggak perlu ada keraguan lagi, untuk pengganti dari middle east sudah kita dapat,” ungkap Bahlil.

