Pasokan BBM Aman, 21 Hari Cadangan Operasional dan Bukan untuk Konsumsi Harian
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Founder DS Research Center Dwi Soetjipto mengimbau masyarakat agar tidak panik terhadap isu pasokan bahan bakar minyak (BBM) nasional di tengah meningkatnya dinamika geopolitik global, termasuk situasi keamanan di kawasan Selat Hormuz.
Menurut Dwi, hingga saat ini pasokan energi nasional masih dalam kondisi aman dan distribusi BBM kepada masyarakat tetap berjalan normal. “Untuk saat ini masyarakat tidak perlu cemas. Pasokan BBM tetap berjalan normal sehingga tidak perlu terjadi panic buying,” ujarnya, dikutip Jumat (20/3/2026).
Dia menjelaskan bahwa informasi yang sering beredar di masyarakat mengenai stok BBM Indonesia sekitar 21 hari kerap disalahartikan. Angka tersebut sebenarnya merujuk pada cadangan operasional, bukan cadangan strategis energi nasional.
“Perlu dipahami bahwa angka 21 hari tersebut adalah cadangan operasional yang digunakan dalam sistem distribusi energi sehari-hari, bukan cadangan strategis energi nasional. Cadangan operasional tersebut merupakan stok yang dibutuhkan oleh PT Pertamina (Persero) untuk menjamin keamanan pasokan BBM kepada konsumen,” jelas Dwi.
Dengan demikian, kata Dwi, selama Pertamina tidak menghadapi kendala dalam produksi maupun rantai pasok energi—termasuk proses impor bahan baku—maka pasokan BBM kepada masyarakat seharusnya tetap aman.
“Cadangan operasional adalah cadangan yang dibutuhkan Pertamina untuk menjamin keamanan pasokan kepada konsumen. Jadi selama tidak ada gangguan pada produksi dan rantai suplai, pasokan BBM kepada masyarakat mestinya aman,” terangnya.
Baca Juga
Cadangan BBM Cukup 28 Hari, Masyarakat Tak Perlu 'Panic Buying'
Lebih lanjut, mantan Kepala SKK Migas itu juga menekankan pentingnya transparansi informasi kepada publik terkait kondisi produksi dan rantai pasok energi nasional. Menurutnya, pembaruan informasi secara berkala akan membantu menjaga kepercayaan masyarakat serta mencegah munculnya kekhawatiran yang berlebihan.
“Oleh karena itu diharapkan Pertamina dapat terus memberikan update kepada publik mengenai kondisi produksi dan rantai suplai energi nasional,” ucap Dwi.
Terkait dinamika geopolitik global, Dwi menjelaskan bahwa kawasan Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia. Gangguan di kawasan tersebut biasanya berdampak pada kenaikan harga minyak dunia dan meningkatnya volatilitas pasar energi. Meski
demikian, menurutnya kondisi saat ini masih dalam tahap pemantauan dan belum berdampak langsung terhadap pasokan energi nasional.
“Untuk Indonesia, dampaknya masih dalam tahap waspada dan wait and see sambil terus memantau perkembangan global,” jelasnya.
Dwi juga menyatakan keyakinannya bahwa pemerintah dan Pertamina memiliki berbagai langkah antisipasi apabila terjadi gangguan pada rantai pasok energi global, termasuk potensi gangguan distribusi di Selat Hormuz.
“Jika terjadi gangguan rantai suplai dari Selat Hormuz, kami yakin Pertamina dan pemerintah memiliki berbagai solusi untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional,” ujarnya.

