REI Jakarta Siapkan 25 Pengembang untuk Melantai di Bursa, Target Modal Rp 5 T
JAKARTA, investortrust.id – Dewan Pengurus Daerah Realestat Indonesia (DPD REI) DKI Jakarta menargetkan sedikitnya 25 pengembang properti skala menengah mulai initial public offering (IPO) atau melantai di bursa pada 2026–2028.
Ketua DPD REI DKI Jakarta, Arvin F Iskandar menyatakan, langkah tersebut dilakukan melalui penyelenggaraan workshop pasar modal guna mendorong anggota REI memanfaatkan alternatif pembiayaan selain perbankan.
Baca Juga
8 Maret Pemerintah akan Groundbreaking Hunian untuk MBR Setara 54 Tower di Meikarta
“Jadi, kita lakukan workshop ini untuk men-support teman-teman kita anggota REI DKI. Tentunya top 30 developer yang sudah go public (IPO) merupakan anggota REI DKI. Cuman masih banyak teman-teman kita ini sesama developer yang masih medium size (belum go public),” kata Arvin di main hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (23/2/2026).
Menurutnya, pengembang skala menengah masih menghadapi kendala transparansi laporan keuangan serta keraguan untuk masuk ke pasar modal. Padahal, akses pendanaan melalui bursa dinilai penting di tengah sikap kehati-hatian perbankan terhadap sektor properti pascapandemi COVID-19.
“Kita tahu bank konvensional saat ini terhadap properti kan ya dibilang merah enggak, kuning iya. Jadi, bagaimana di tahun 2026 dengan program Pak Presiden Prabowo untuk men-support 3 juta rumah ini, para developer ini bisa meraih program tersebut yaitu tidak menggunakan dana perbankan tapi melalui capital market,” jelas Arvin.
Dia menambahkan, sumber permodalan pengembang saat ini masih didominasi pembiayaan internal dan kredit bank, dengan skema umum 30% dana sendiri dan 70% pembiayaan perbankan.
“Pertama dari self-financing operasional. Kedua biasanya perbankan mintanya 30% self-financing, 70% bisa dibiayai perbankan,” ujar Arvin.
Ihwal itu, ia menilai pengembang kelas menengah perlu mendapatkan kesempatan pendanaan yang sama seperti perusahaan besar yang telah melantai di bursa.
“Itu yang kita targetkan, supaya teman-teman yang medium size ini di tahun 2026 bisa mendapatkan hak yang sama juga, tidak hanya developer-developer yang besar,” ujar Arvin.
Lebih lanjut, Arvin menjelaskan, strategi utama REI DKI untuk mendorong pengembang go public (IPO) guna meningkatkan transparansi laporan keuangan serta membuka diri terhadap pendanaan ekuitas.
“Satu, lebih transparan terhadap laporan keuangan. Kedua, jangan khawatir apabila yang medium size ini untuk mendapatkan pendanaan di equity,” ucap dia. Selain pendanaan saham, kata Arvin, pihaknya juga mendorong pemanfaatan instrumen utang seperti obligasi sebagai sumber pembiayaan jangka panjang.
Seiring dengan itu, kata Arvin, REI DKI menargetkan sekitar 5–10% pengembang baru akan proses pendanaan di pasar modal pada periode 2026 hingga 2028.
“Minimalnya 5% itu sekitar 25 developer. Kita mengharapkan 25 pengembang (anggota REI DKI) yang medium size ini bisa bersama-sama untuk menjalankan atau mendapatkan dana di capital market,” imbuh dia.
Baca Juga
Ia memperkirakan satu perusahaan pengembang menengah berpotensi menghimpun dana Rp 100 – 200 miliar. Dengan asumsi tersebut, total potensi pendanaan sektor properti untuk melantai di bursa nantinya tidak kurang dari Rp 5 triliun.
“Satu perusahaan berarti 25 x 200 berapa itu ya? Rp 5 triliun. Jadi yang kita targetkan itu untuk properti ini minimal Rp 5 triliun,” papar Arvin.
Alhasil, REI DKI berharap pasar modal dapat menjadi alternatif pembiayaan jangka panjang bagi pengembang sekaligus mendukung pertumbuhan industri properti nasional yang melibatkan tidak kurang dari 180 sektor industri turunan, mulai dari furnitur hingga material bangunan.

