Hashim Sebut Pasar Karbon Indonesia Berpotensi Bernilai Puluhan Miliar Dolar
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo menilai pasar karbon berpotensi menjadi salah satu sumber ekonomi baru untuk mendukung target pertumbuhan 8% yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
Menurut dia, kontribusi yang dihasilkan dari pasar karbon bisa mencapai puluhan miliar dolar Amerika Serikat (AS). Namun, Hashim tidak memungkiri bahwa hal ini bergantung harga karbon yang terbentuk di pasar global.
“Saya tidak mau salah ucap, tetapi dari yang saya lihat dan dengar, potensi pasar karbon Indonesia bisa mencapai puluhan miliar dolar,” ujar Hashim dalam acara ESG Sustainable Forum 2026 di Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Baca Juga
Tumbuh 22%, Bursa Karbon Catat 111 Pengguna Jasa di Kuartal I-2025
Hashim menjelaskan, nilai tersebut menjadi sangat signifikan jika dibandingkan harga karbon di sejumlah negara maju. Di Kanada, harga karbon per ton saat ini bisa mencapai sekitar US$ 100. Sedangkan di Uni Eropa, harga karbon dilaporkan berada pada level 50–60 euro per ton.
Hashim menilai, dengan kekayaan sumber daya alam dan luasnya potensi serapan karbon, Indonesia memiliki peluang besar mengambil peran strategis dalam pasar karbon global, baik melalui pendekatan nature-based solutions maupun solusi berbasis teknologi.
Selain solusi berbasis alam, Hashim juga menyoroti potensi besar bisnis carbon capture and storage (CCS) di Indonesia. Meski bersifat mekanis dan bukan nature-based solution, teknologi ini dinilai tetap memiliki nilai ekonomi dan lingkungan tinggi.
“Carbon capture bukan nature based solution, itu kan mechanical solution. Namun, masih ada manfaat juga, kita dapat anugerah dari Tuhan, di wilayah Indonesia, termasuk di bawah laut terdapat banyak rongga, caverns. Caverns itu banyak sekali sehingga daya atau kapasitas kita Indonesia bisa sampai 500-700 gigaton karbon yang saya dapat informasi,” ungkapnya.
Dia menerangkan, rongga-rongga (caverns) tersebut sangat bermanfaat untuk menyerap karbon, misalnya dari negara-negara di Asia, seperti Singapura, Korea Selatan, dan Jepang yang memang sangat kurang rongganya.
“Indonesia ternyata banyak lubang-lubang di bawah laut, di bawah tanah. Itu akibat juga karena industri minyak di Indonesia sudah sejak zaman Belanda. Banyak sumur-sumur sudah diekstraksi, sudah ditarik ya. So, ini carbon capture juga merupakan salah satu bisnis yang menjanjikan,” sebut Hashim.
Baca Juga
Kendati demikian, Hashim menjelaskan bahwa bisnis carbon capture ini umumnya hanya dapat digarap oleh pelaku berskala besar karena membutuhkan investasi minimal miliaran dolar AS.
Sejumlah perusahaan energi global, seperti Exxon dan BP disebut telah menunjukkan ketertarikan, termasuk beberapa grup usaha nasional yang memiliki aset migas lama, seperti di wilayah Arun, Aceh. “Ini bisnis untuk pelaku besar, tapi potensinya luar biasa. Indonesia punya keunggulan komparatif yang sangat kuat,” ucapnya.

