Wamenpar Tegaskan Wisata Ramah Muslim Tak Ubah Karakter Lokal
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menegaskan bahwa pariwisata ramah muslim (moslem friendly tourism) memiliki potensi besar untuk mendorong daya saing pariwisata nasional di tengah perubahan preferensi wisatawan global. Namun, Kemenpar memastikan pengembangan konsep ini tidak akan mengubah karakter dan kearifan lokal destinasi wisata di Indonesia.
“Layanan ramah muslim ini sama sekali tidak berarti mengubah karakter destinasi. Kami tidak mengubah local wisdom, justru itulah kekuatan pariwisata kita,” tegas Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa dalam Kadin Sharia Economic Outlook 2026 di Menara Kadin Indonesia, Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Menurut dia, fokus utama pengembangan pariwisata ramah muslim adalah peningkatan standar layanan, seperti penyediaan musala di akomodasi, penanda arah kiblat, ketersediaan makanan halal, paket wisata ramah muslim, hingga pemandu wisata kompeten.
Dengan pendekatan tersebut, Kementerian Pariwisata berharap pariwisata ramah muslim dapat menjadi salah satu bidang strategis yang memperkuat daya saing Indonesia di pasar global, tanpa mengorbankan identitas, budaya, dan karakter unik setiap destinasi.
Puspa menekankan, konsep yang diperkenalkan pemerintah adalah muslem friendly tourism, bukan halal tourism dalam pengertian sempit yang kerap dianggap sensitif oleh sebagian pihak. Menurutnya, pemahaman yang utuh terhadap konsep ini justru akan membuka peluang pasar yang sangat besar bagi Indonesia.
“Kalau kita bicara halal tourism ini memang sering kali sensitif. Namun, kalau kita memahami konsepnya, ini justru sesuatu yang sangat baik. Apalagi kalau melihat potensi pasar muslim traveller di seluruh dunia,” sambung Puspa.
Baca Juga
Devisa Pariwisata Tembus US$ 13,82 Miliar, Menpar Klaim Daya Saing RI Menguat
Sebagai negara dengan mayoritas penduduk muslim yakni 86% lebih, Puspa menyebut bahwa Indonesia seharusnya menjadi pusat industri pariwisata ramah muslim dunia, bukan hanya menjadi target pasar.
Puspa menekankan bahwa Indonesia perlu memproduksi layanan dan produk pariwisata untuk menyasar pasar global. Tujuannya agar tidak menjadi sekadar sasaran negara lain yang ingin menjual produk halal ke dalam negeri. “Seharusnya kita ini menjadi center of tourism industry, termasuk muslim tourism industry. Jangan sampai justru kita yang hanya menjadi target pasar negara lain,” tegasnya.
Sejak awal menjabat, Puspa mengaku bahwa Kementerian Pariwisata menyadari bahwa pengembangan pariwisata ramah muslim tidak bisa dilakukan secara instan. Diperlukan dialog lintas pemangku kepentingan serta proses sosialisasi yang panjang agar konsep ini dipahami dengan benar oleh masyarakat. “Kami berdiskusi panjang dengan banyak pihak, termasuk Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). Ini bukan edukasi satu malam, tetapi proses yang panjang. Karena itu kami menyebutnya sebagai pariwisata inklusif,” kata Puspa.
Dia menilai, pariwisata Indonesia pada dasarnya adalah pariwisata yang menerima semua kalangan tanpa memandang negara asal, agama, budaya, maupun latar belakang lainnya. Nilai keberagaman dan keguyuban yang hidup di masyarakat Indonesia juga tercermin dalam cara Indonesia menyambut wisatawan.
Puspa mencontohkan Bali dengan mayoritas penduduk agama Hindu, tetap menyediakan fasilitas ibadah bagi wisatawan muslim. “Kalau di Bali cari masjid itu mudah. Di hotel-hotel juga tersedia musala. Ini menunjukkan betapa terbukanya kita,” ujarnya.
Dalam konteks tersebut, layanan ramah muslim dipandang sebagai bagian dari penguatan kualitas layanan pariwisata sekaligus pengembangan ekonomi nasional. Kemenpar menegaskan, orientasi pembangunan pariwisata tidak lagi semata-mata pada jumlah kunjungan dan devisa, melainkan pada kualitas dan keberlanjutan.
Baca Juga
“Sekarang kita bicara pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan. Kualitas layanan, dampak ekonomi, dan inklusivitas manfaatnya itu yang menjadi tujuan utama,” tandas Puspa.
Ia menambahkan, pariwisata ramah muslim merupakan serangkaian layanan tambahan yang mencakup amenitas, atraksi, dan aksesibilitas untuk memenuhi kebutuhan, serta pengalaman wisatawan muslim. Hal ini sejalan dengan tren experience based tourism yang semakin berkembang secara global.

