Ekspor ke Venezuela Aman, Toyota Justru Tapi Khawatirkan Hal Ini
Poin Penting
|
BANDUNG, Investortrust.id - PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) memastikan kegiatan ekspor kendaraan ke Venezuela tetap berjalan tanpa gangguan, meski negara Amerika Latin tersebut tengah menghadapi tekanan geopolitik yang dipicu ketegangan dengan Amerika Serikat. Manajemen Toyota menegaskan hingga saat ini tidak ada hambatan berarti dalam pengiriman kendaraan ke pasar tersebut.
Presiden Direktur TMMIN, Nandi Julyanto, menyampaikan bahwa perusahaan telah berkomunikasi secara intens dengan mitra di Venezuela dan memastikan seluruh proses ekspor masih berjalan normal. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Toyota mengekspor dua model ke Venezuela, yakni Yaris Cross dan Wigo atau Agya. Sepanjang Januari hingga November 2025, ekspor Yaris Cross tipe G tercatat sebanyak 1.008 unit, sementara Wigo mencapai 5.971 unit.
“Tapi so far saya sudah denger kemarin, kita sudah komunikasi dengan Venezuela semua everything oke. Karena pemerintahnya kan juga gak itu ya. So far sih masih oke, cuma yang jadi isu kan sebenarnya nanti itu tarif-tarif itu,” ujar Nandi saat Media Workshop di Bandung, Jawa Barat, Jumat (9/1/2026).
Baca Juga
Menurut Nandi, isu utama yang menjadi perhatian Toyota ke depan bukan semata konflik geopolitik, melainkan kebijakan tarif perdagangan. Tantangan tersebut terutama dirasakan oleh negara-negara yang belum memiliki perjanjian perdagangan bebas atau belum menjadi mitra dagang Indonesia.
“Isu sebenarnya ke depan itu soal tarif. Tapi tarif ini kan bukan hanya kita saja. Negara lain seperti China juga menghadapi hal yang sama kalau tidak punya trade agreement,” imbuhnya.
Sementara itu, Wakil Presiden Direktur TMMIN Bob Azam mengingatkan bahwa ketegangan geopolitik berpotensi menimbulkan dampak lanjutan yang lebih luas, khususnya terhadap rantai pasok industri otomotif. Menurutnya, gangguan arus perdagangan global dapat berimbas langsung pada kelancaran distribusi komponen dan kendaraan.
“Jadi sekali terjadi ketegangan, arus barang itu terganggu, otomatis supply chain juga akan terganggu. Jadi itu yang harus kita waspadai. Karena sebenarnya industri kita ini tidak didesain untuk perdagangan yang sifatnya hanya mengandalkan multilateral. Ini sebenarnya desain untuk multilateral. Tapi sekarang kan, dunia seperti terbelah-belah,” ujar Bob Azam.

