Konflik Yaman hingga Ukraina Dorong Kenaikan Harga Minyak
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Senin (29/12/2025), didorong meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan global, sehingga pelaku pasar kembali menyesuaikan posisi mereka di aset energi.
Kenaikan harga minyak terjadi ketika pasar mencermati eskalasi konflik di Yaman serta tudingan Rusia terhadap Ukraina terkait serangan pesawat tak berawak, yang secara bersamaan menggeser fokus investor dari prospek diplomasi menuju risiko geopolitik yang lebih tinggi.
Harga minyak mentah brent berjangka acuan global naik US$ 1 atau 1,7% menjadi US$ 61,64 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) acuan AS menguat US$ 1,10 atau 1,9% ke level US$ 57,84 per barel.
“Fokus pasar telah bergeser ke Timur Tengah karena ketidakstabilan baru, termasuk serangan udara Saudi di Yaman, membuat berita tentang gangguan pasokan tetap menjadi perhatian,” tulis Gelber & Associates dalam catatan risetnya dilansir CNBC.
Ketegangan di Yaman kembali meningkat setelah koalisi pimpinan Arab Saudi menegaskan akan merespons setiap gerakan militer kelompok separatis utama di selatan yang dinilai mengganggu upaya de-eskalasi. Pernyataan tersebut disampaikan menyusul perkembangan situasi keamanan di provinsi Hadramout bagian timur, sebagaimana dilaporkan kantor berita resmi Saudi pada Sabtu (27/12/2025).
Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC), kelompok separatis yang aktif di wilayah tersebut, menyatakan bahwa dua anggota pasukan elit Hadhrami tewas dalam eskalasi pertempuran pada Kamis (25/12/2025). Serangan udara Saudi kemudian dilaporkan terjadi pada Jumat (26/12/2025) pagi, dengan target pasukan STC di wilayah yang sama, menurut sumber yang dikutip Reuters.
Tekanan geopolitik juga datang dari Eropa Timur. Moskow menuduh Ukraina melancarkan serangan pesawat tak berawak terhadap kediaman Presiden Rusia Vladimir Putin di wilayah Rusia utara. Pemerintah Rusia menyatakan tuduhan tersebut mendorong Moskow untuk mempertimbangkan kembali posisinya dalam perundingan perdamaian.
Baca Juga
Tutup 2025, Pertamina Kirim Perdana 1 Juta Barel Minyak dari Aljazair ke Indonesia
Ukraina membantah tudingan tersebut. Menteri luar negerinya menyebut klaim Rusia sebagai upaya mencari “pembenaran palsu” untuk melanjutkan serangan terhadap Ukraina.
Sebelum tudingan itu mencuat, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy pada Senin mengatakan telah tercapai kemajuan signifikan dalam pembicaraan dengan Presiden AS Donald Trump. Kedua pihak sepakat bahwa tim Amerika Serikat dan Ukraina akan bertemu pekan depan guna membahas sejumlah isu yang bertujuan mengakhiri perang Rusia-Ukraina.
Trump juga disebut telah melakukan “panggilan positif” dengan Presiden Rusia Vladimir Putin terkait konflik tersebut, menurut pernyataan juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt pada hari yang sama.
Sebelumnya, harga minyak acuan justru sempat tertekan lebih dari 2% pada Jumat, seiring meningkatnya harapan pasar terhadap tercapainya kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina. Namun, sentimen itu dengan cepat berbalik setelah risiko geopolitik kembali mendominasi pemberitaan global.
Di luar faktor geopolitik, pasar juga mencermati permintaan fisik dari Asia. Analis UBS Giovanni Staunovo menilai impor minyak mentah melalui jalur laut yang kuat dari Tiongkok turut memperketat kondisi pasar minyak global.
Ia menambahkan bahwa level US$ 60 per barel berfungsi sebagai batas bawah yang relatif lunak bagi Brent. Menurut proyeksinya, harga minyak berpeluang pulih secara moderat pada 2026, seiring pertumbuhan pasokan dari negara-negara non-OPEC+ yang diperkirakan terhenti pada pertengahan tahun tersebut.
Baca Juga
Pertamina Hulu Rokan Terapkan CEOR di Minas, Bidik Kenaikan Minyak 16%
Pelaku pasar energi juga menanti data cadangan minyak Amerika Serikat untuk pekan yang berakhir 19 Desember. Laporan yang semula dijadwalkan rilis pada Senin pukul 10.30 waktu setempat ditunda tanpa kepastian jadwal baru.
Survei Reuters menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah AS diperkirakan turun pada pekan tersebut. Sebaliknya, stok distilat dan bensin diproyeksikan mengalami kenaikan, yang berpotensi membatasi ruang penguatan harga minyak dalam jangka pendek.

