KAI Perkuat Jalur Daop 3 Cirebon–4 Semarang di Tengah Cuaca Ekstrem
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — PT Kereta Api Indonesia (Persero) memperkuat jalur kereta api di wilayah Jawa Tengah, khususnya pada lintasan Daerah Operasi (Daop) 3 Cirebon hingga Daop 4 Semarang, di tengah cuaca ekstrem pada periode angkutan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru 2025/2026).
Vice President Public Relations KAI, Anne Purba menyatakan, penguatan dilakukan karena sejumlah kejadian bencana sebelumnya, seperti longsor dan banjir, terjadi di wilayah tersebut.
“Sepanjang Jawa Tengah, sekitar Daop 3 ke Daop 4 ini memang terus kita lakukan penguatan-penguatan, karena sebelumnya di situ ada longsor dan banjir,” kata Anne saat ditemui di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Selasa (23/12/2025).
Baca Juga
Lepas Kereta Nataru di Stasiun Gambir, AHY Sebut Keselamatan Nomor Satu
Anne menjelaskan, terdapat ratusan titik rawan bencana di sepanjang jalur tersebut. Salah satu lokasi yang sempat terdampak banjir berada di kawasan Kaligawe, Semarang. “Sudah kita lakukan penguatan, penambahan kricak, dan peninggian rel. Jadi itu salah satu dari ratusan titik yang kita mitigasi,” terang dia.
Menurut Anne, KAI telah mengategorikan titik-titik rawan tersebut berdasarkan jenis potensi bencana, mulai rawan longsor, banjir, hingga dampak rob. Seluruh titik tersebut telah masuk dalam program mitigasi. “Itu tidak cuma satu atau dua titik, tapi ratusan titik,” tutur Anne.
Selain penguatan jalur, KAI menyiagakan sejumlah sarana pendukung di 131 titik rawan bencana. Anne menyebutkan, KAI menempatkan 19 titik lokomotif posko, 17 titik pembangkit posko, serta tiga titik crane yang disiagakan. “Semua sudah standby di posisi masing-masing,” ujar dia.
Dari sisi keamanan, KAI menerjunkan hampir 2.500 petugas tambahan di berbagai titik rawan. Personel tersebut disiagakan untuk pengamanan jalur, penjagaan perlintasan, serta pemantauan kondisi lintasan secara intensif. “Ada hampir 2.500 petugas untuk pengamanan di titik-titik yang harus kami pantau setiap saat. Itu di luar petugas reguler,” ucap Anne.
Secara terpisah, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengungkap langkah mitigasi yang dilakukan PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem selama masa libur Nataru 2025/2026.
Menurut AHY, ada sejumlah lokasi yang secara historis rentan terhadap bencana, termasuk banjir rob. Salah satunya berada di wilayah Semarang, Jawa Tengah, yang juga menghadapi persoalan penurunan permukaan tanah (landsubsidence). “Ada sejumlah lokasi yang punya tantangan atau ancaman banjir rob, misalnya di Jawa Tengah, di Semarang,” kata AHY saat konferensi pers di Stasiun Gambir, Jakarta, Selasa (23/12/2025).
Dikatakan AHY, KAI telah melakukan langkah mitigasi internal untuk menjaga agar jalur rel tidak tergenang atau terdampak bencana. Pemerintah juga mendorong kolaborasi lintas kementerian dalam upaya pengamanan infrastruktur perkeretaapian.
“Saya sudah sampaikan kepada Pak Deputi (Odo R.M. Manuhutu dan Rachmat Kaimuddin) untuk sama-sama kita kawal dengan Kementerian Pekerjaan Umum. Jadi ini kolaborasi tentu Kementerian Perhubungan dengan Kementerian Pekerjaan Umum,” jelas AHY.
Baca Juga
KAI Reaktivasi Rel Kereta Sepanjang 600 Km, Bandung Raya Jadi Prioritas
Ia menambahkan, upaya rekayasa teknis diperlukan di lokasi rel yang berdekatan dengan daerah aliran sungai (DAS). “Kalau ada sungai yang sudah mepet ke arah rel, maka harus ada upaya membuat tanggul atau melakukan engineering tertentu agar sungai tidak mengganggu dan membahayakan rel,” tutur AHY.
Sementara itu, Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin menyatakan, KAI telah mengidentifikasi daerah-daerah rawan yang masuk dalam pantauan khusus selama periode Nataru, terutama di wilayah Jawa Tengah. Ia menjelaskan, KAI telah melakukan penguatan fondasi rel dengan menebar sekitar 183.000 meter kubik (m3) batu krikil. Selain itu, dilakukan pula peninggian jalur rel di beberapa lokasi serta penguatan rel di titik-titik yang rawan terdampak limpahan sungai.

