Industri Susu Nasional Diklaim Mampu Dukung MBG Meski Impor Masih 80%, Mengapa?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai industri pengolahan susu nasional memiliki potensi besar untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Meski masih menghadapi tantangan ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor, namun industri susu dinilai sangat mampu memenuhi kebutuhan nasional.
Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kemenperin Merrijantij Punguan Pintaria mengatakan, secara kapasitas nasional industri pengolahan susu sebenarnya mampu menjawab peningkatan kebutuhan program MBG, meskipun saat ini masih terdapat kendala pada segmen kemasan kecil.
“Artinya industri pengelolaan susu kita secara nasional mampu untuk memenuhi tantangan kebutuhan MBG, walaupun saat ini sedang terseot-seot karena memang untuk kemasan kecil kapasitasnya masih belum sesuai,” ujarnya dalam acara Perayaan Lima Puluh Tahun Kemitraan Nestlé Indonesia dengan Peternak Sapi Perah Rakyat asal Jawa Timur di Jakarta, Senin (15/12/2025).
Ia menjelaskan, kebutuhan bahan baku industri pengolahan susu nasional saat ini mencapai 5,06 juta ton setara susu segar. Namun, sekitar 80% kebutuhan tersebut masih dipenuhi melalui impor.
Baca Juga
Perkuat Ekonomi Daerah, OJK Dorong Digitalisasi Ekosistem Sapi Perah
“Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan rantai pasok susu segar dalam negeri menjadi kunci utama untuk menurunkan ketergantungan impor,” katanya.
Dari sisi konsumsi, Merrijantij mencatat tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia masih relatif rendah, yakni 17,76 liter per kapita per tahun pada 2022. Angka ini jauh tertinggal dibandingkan negara ASEAN lain seperti Malaysia, Singapura, dan Vietnam.
Seiring perubahan gaya hidup, Kemenperin meyakini permintaan produk susu, terutama susu cair, akan terus tumbuh ke depan. Momentum ini dinilai sejalan dengan implementasi MBG sebagai program prioritas pemerintah.
Untuk memperkuat industri hulu, Kemenperin telah menjalankan berbagai program, mulai dari bantuan mesin pendingin, digitalisasi tempat pengumpulan susu, hingga pengembangan aplikasi pemantauan pasokan susu segar. Hingga 2024, digitalisasi telah diterapkan di 96 tempat pengumpulan susu yang melibatkan lebih dari 12.000 peternak sapi perah.
Selain itu, pemerintah juga menyediakan insentif melalui program restrukturisasi mesin dan peralatan industri dengan skema reimbursement hingga 35%, termasuk untuk mesin pendukung di tingkat koperasi dan kelompok peternak.
“Kami menyadari upaya-upaya tersebut belum sepenuhnya mengakomodasi seluruh kooperasi atau peternak, sehingga dukungan dan kolaborasi industri sangat dibutuhkan untuk memperluas jangkauan,” kata Merrijantij.
Kemenperin berharap penguatan kemitraan antara industri, koperasi, dan peternak dapat memperkokoh struktur industri pengolahan susu nasional, sekaligus memastikan ketersediaan bahan baku berkelanjutan bagi program MBG dan ketahanan pangan jangka panjang.

