Tender MRT Jakarta Timur–Barat Masih Didominasi Investor Jepang, Ini Alasannya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Proses pelelangan atau tender proyek MRT Jakarta lintas Timur–Barat atau East–West saat ini masih didominasi investor Jepang. PT MRT Jakarta (Perseroda) memastikan, kondisi tersebut terjadi karena proyek tahap awal masih berada di bawah skema pendanaan Japan International Cooperation Agency (JICA).
Direktur Konstruksi MRT Jakarta, Weni Maulina menyampaikan, pihaknya telah melakukan market sounding untuk menjaring calon peserta tender. “Kita sudah mengadakan market sounding, mengundang para potential bidder dan mereka sudah menunjukkan ketertarikan,” ungkapnya saat ditemui di Stasiun Bundaran HI Bank Jakarta, Rabu (3/12/2025).
Weni menjelaskan, kebanyakan investor berasal dari Jepang imbas ketentuan yang telah ditandatangani bersama JICA. Aturan itu mengharuskan peserta tender (bidder) berasal dari negara pemberi pinjaman. “Ini memang masih dengan skema government to government (G2G) loan dengan Jepang (JICA), potential bidder-nya memang mostly dari Jepang,” jelasnya.
Baca Juga
Ia menegaskan, pembatasan peserta tender bukan keputusan MRT Jakarta, melainkan bagian persyaratan pembiayaan. “Karena yang tender pertama ini masih dengan JICA loan, syarat dari JICA loan yang kita gunakan harus dari Jepang. Jadi, bidder utamanya memang masih dari Jepang,” tutur Weni.
PT MRT Jakarta (Perseroda) telah memastikan pembangunan MRT lintas Timur – Barat (East – West) dimulai pada akhir 2026. Division Head of Project Management for Construction (PMC) 1 MRT Jakarta, Sony Desta mengatakan, pelaksanaan konstruksi belum dapat dimulai lebih awal karena tender baru digelar pada kuartal IV 2025.
“Saya bilangnya akhir 2026 (mulai konstruksi lintas Timur – Barat) karena ini tender-nya juga baru mau dimulai. Namun, kami lagi mempersiapkan proses tender dulu. Itu kayaknya di akhir tahun (2026),” ungkap Sony di lokasi proyek MRT Jakarta Bundaran HI – Kota, Jakarta Pusat, Kamis (27/11/2025) lalu.
Sony menyampaikan, proyek MRT Timur – Barat akan menghadapi tantangan lebih besar dibanding fase sebelumnya, yakni rute yang lebih panjang. “Di sana (proyek MRT East – West) sebetulnya lebih masif ya, itu (panjangnya) 24,5 km, ditambah akses ke Depo 5,9 km ya. Jadi, itu lebih panjang ya, ketimbang Fase 1 dan Fase 2,” ucapnya.
Meski demikian, Sony menegaskan MRT Jakarta tetap akan menjalankan pembangunan sesuai rencana. “Setiap proyek pasti ada tantangan, hanya masalah panjang bisa jadi tantangannya lebih besar. Namun, apa pun itu kan namanya proyek untuk pembangunan, kita jalani,” tegasnya.
Baca Juga
MRT Jakarta Pastikan Stasiun dan Tunnel Sedalam 28 Meter Aman Banjir dan Gempa
Sebelumnya, MRT Jakarta membidik konstruksi proyek lintas Timur – Barat dimulai pada semester II tahun 2026. Diketahui, persiapan dokumen tender dan market sounding proyek ini sedang dilakukan. Direktur Konstruksi MRT Jakarta, Weni Maulina menyebutkan, skema pengadaan akan menggunakan guideline dari Japan International Cooperation Agency (JICA) dengan estimasi waktu pelaksanaan tender sekitar 10 – 12 bulan.
Proyek ini akan didanai bersama antara JICA dan Asian Development Bank (ADB) dengan estimasi nilai investasi tahap I di trase Medan Satria – Tomang tidak kurang dari Rp 50 triliun. Adapun paket awal yang akan dilelang meliputi CP 100, CP 104, CP 105 untuk bagian underground section, serta CP 109.

