Industri Telekomunikasi Soroti Kebutuhan 5G dan AI untuk Capai Target Ekonomi 8%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Percepatan digitalisasi dinilai menjadi fondasi penting untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi 8% dan pemerataan pembangunan di wilayah 3T. Namun sejumlah pelaku industri telekomunikasi turut menyoroti soal kebutuhan jaringan 5G dan ekosistem kecerdasan buatan (AI).
Hal itu disampaikan oleh Ketua Mastel Sarwoto Atmosutarno dalam acara diskusi Indotelko Forum bertajuk 'Implementasi Kolaborasi Percepatan Digitalisasi.' Ia menyebut, berdasarkan hitungan, ekonomi digital akan berkontribusi 8-10% terhadap Produk Domestik Bruto (PBD) dengan nilai ekonomi di atas US$ 100 miliar.
“Saat ini 5G yang ada baru antara Bali dan Jakarta. Ini tantangan real untuk kita mengekspansi di tahun depan,” ungkapnya secara virtual di Jakarta, Kamis (27/11/2025).
Sementara itu, Ketua Bidang Regulasi APJII Syahrial Syarif mencatat, penetrasi internet Indonesia mencapai 80,66% atau 229 juta pengguna. Keterlibatan ISP lokal dinilai penting untuk memperkuat jangkauan layanan lewat kolaborasi dengan ISP besar dan RT RW Net.
“88% ISP lokal memberi layanan sangat terbatas karena berbagai alasan. Salah satu yang mengemuka adalah bagaimana teman-teman lokal bisa memanfaatkan infrastruktur secara terbuka dengan harga wajar,” ungkap Syahrial.
Ketersedian SDM dan Sinergi berbagai pihak
Untuk mengatasi sejumlah tantangan tersebut, Lintasarta menilai diperlukan penguatan data center dan cloud untuk menjadi fondasi kedaulatan digital nasional. Director & Chief IT Services Officer Lintasarta Ginandjar mengingatkan, Indonesia harus mempercepat pengembangan talenta AI agar tidak tertinggal dari negara lain.
Baca Juga
Sinyal Telekomunikasi Aceh Lumpuh di 495 Titik, Menkomdigi Desak Operator Gerak Cepat
“AI ini kesempatan besar buat kita bisa tumbuh lebih cepat, namun jika salah menyikapi kita bisa ketinggalan dari yang lain. Untuk itu kolaborasi setiap layer penting sekali,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa percepatan digitalisasi tidak hanya bertumpu pada jaringan, tetapi juga pada kesiapan infrastruktur inti seperti data center dan cloud yang berperan sebagai fondasi kedaulatan digital.
“Data center itu jantungnya, di dalamnya ada cloud. Ini merupakan jantung yang memang harus kita sama-sama lakukan kolaborasi juga bagaimana kita bisa menyiapkan infrastruktur data center buat surfing seluruh Indonesia, agar seluruh pemrosesan, pemanfaatan in source,” jelas Ginandjar.
Di sisi lain, Head of Government Industry Relation Ericsson Indonesia Ronni Nurmal menekankan, perlunya roadmap digital yang terarah dan berorientasi pada pemanfaatan industri. Ia menilai sinergi seluruh pemangku kepentingan diperlukan agar percepatan digitalisasi benar-benar meningkatkan daya saing nasional.
“Kita jangan cuma membangun jalan tolnya saja, tapi pikirkan juga ini 5G, AI mau dipake untuk industri, kolaborasi, efektivitas, produktivitasnya apa? Jadi kita melihat ini harus menyeluruh, sinergi semua stakeholder sehingga roadmap kita terarah dan benar-benar membuat kita lebih unggul dari yang lain,” jelasnya.
Sebelumnya, Direktur Strategi dan Kebijakan Infrastruktur Digital Kemenkomdigi Denny Setiawan mengatakan, pemerintah tengah menyusun roadmap infrastruktur digital mencakup kabel laut, data center, fiber optic, dan mobile broadband. Ia menyebut rencana lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz akan mendukung perluasan digitalisasi hingga ke desa-desa.
Kemenkomdigi juga mendorong pengembangan infrastruktur sharing dan open access untuk mempercepat pemerataan layanan digital. “Kata kuncinya lebih ke open access dan regulasi kompetisi akses,” jelas Denny.

