Kemenperin Matangkan Program Kemitraan dengan Organisasi Pengembangan Industri PBB, UNIDO
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkuat kemitraan strategis dengan United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) melalui finalisasi Indonesia-UNIDO Programme for Country Partnership (IUPCP) periode 2026-2030.
Kerangka kerja sama ini menjadi bagian penting dari diplomasi industri Indonesia serta diharapkan menjadi platform komprehensif untuk mendukung pembangunan industri nasional, transformasi hijau, dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Program kerja sama baru ini merupakan kelanjutan dari Indonesia-UNIDO Country Programme (IUCP) 20212025. Selama periode tersebut, berbagai kolaborasi strategis telah menghasilkan capaian konkret dalam peningkatan daya saing industri, adopsi teknologi hijau, efisiensi proses produksi, serta penguatan standar industri berkelanjutan.
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menegaskan, Indonesia sedang mempercepat transformasi industri hijau sebagai jalur utama menuju Net Zero Emissions 2060, bahkan untuk NZE sektor manufaktur dipercepat menjadi 2050 untuk dan memastikan daya saing industri di pasar global rendah karbon.
"Program seperti Global Eco Industrial Parks Programme (GEIPP) dan Global Greenchem Innovation and Network Programme (GGINP) telah memberikan dampak nyata bagi sektor industri dalam periode 20212025, ujar Wamenperin dalam keterangan tertulisnya yang dikutip Kamis (27/11/2025).
Hal tersebut disampaikan saat Wamenperin melakukan pertemuan bilateral yang dipimpin oleh jajaran pimpinan tinggi UNIDO dan dihadiri langsung oleh Mr. Ciyong Zou, Deputy to the Director General & Managing Director, Directorate of Technical Cooperation and Sustainable Industrial Development, yang memimpin jalannya pembahasan sebagai pejabat tertinggi UNIDO.
Baca Juga
Menperin Sebut Pertumbuhan Industri Tekstil Capai 5,39%, Indonesia Siap Jadi Pemain Global
Kemenperin mencatat bahwa lima kawasan industri telah menjadi pilot project penerapan konsep eco-industrial park melalui GEIPP fase kedua, yakni Batamindo, MM2100, KIIC Karawang, Kawasan Industri Medan, dan Deltamas. Upaya ini diharapkan menjadi katalis percepatan implementasi kawasan industri hijau secara nasional.
"Finalisasi Program 2026-2030 akan memperkuat dukungan teknis UNIDO di Indonesia, tidak hanya dalam integrasi standardisasi, sertifikasi, dan penguatan ekosistem industri hijau, tetapi juga dalam memperkuat hilirisasi, rantai suplai global, transformasi digital, pengembangan kapasitas SDM, serta pengembangan kewilayahan secara menyeluruh," paparnya.
Selain itu, Kemenperin tengah mendorong pembentukan Eco-Industrial Park (EIP) Center di Pusat Industri Digital 4.0 sebagai pusat keunggulan, inkubasi, dan katalis transformasi kawasan industri berwawasan lingkungan di Indonesia.
Indonesia dan UNIDO juga meninjau peluang sinergi melalui BRICS Center for Industrial Competencies (BCIC), terutama dalam penguatan SDM industri, peningkatan daya saing IKM, pengembangan ekonomi sirkular, serta akselerasi transformasi digital Industri 4.0.
Wamen menekankan bahwa kerja sama ini semakin relevan di tengah tuntutan global terhadap industri rendah emisi. "Industri adalah tulang punggung ekonomi nasional. Karena itu, transformasi hijau bukan pilihan tetapi keharusan untuk menjaga keberlanjutan dan daya saing jangka panjang," tegas Faisol Riza.

