Lewat IPFO, Pemerintah Ingin Dongkrak Investasi Infrastruktur Rp 10.300 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Menteri Koordinator (Menko) Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) meresmikan Infrastructure Project Facilitation Office (IPFO) di bawah Kemenko IPK sebagai langkah memperkuat kemitraan antara pemerintah, investor, dan mitra pembangunan untuk menggeber proyek infrastruktur nasional.
Kebutuhan investasi infrastruktur periode 2025–2029 mencapai lebih Rp 10.300 triliun.
Menko AHY menyebut, IPFO lahir dari hasil International Conference on Infrastructure (ICI) yang digelar pada Juni 2025. Dalam konferensi tersebut, pemerintah meluncurkan Project Catalog 2025 yang menampilkan 46 proyek strategis di sektor transportasi, energi, air, pengelolaan limbah, perumahan, dan kota cerdas.
“IPFO mewakili komitmen kami untuk mengubah koordinasi menjadi fasilitasi dan fasilitasi menjadi percepatan,” kata AHY dalam sambutannya di kantor Kemenko IPK, Jakarta, Selasa (21/10/2025).
Menurutnya, IPFO akan menjadi platform koordinasi terpadu yang membantu investor, pemilik proyek, dan pemerintah daerah dalam menyelaraskan prioritas, menavigasi prosedur, serta mempercepat pelaksanaan proyek.
Ia menegaskan, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, peran modal swasta harus semakin besar dalam pembiayaan infrastruktur. “Tugas pemerintah bukan hanya mengundang investasi, tetapi juga mendapatkannya melalui kepastian, kejelasan, konsistensi, dan kredibilitas,” jelas AHY.
AHY mengungkapkan, kebutuhan investasi infrastruktur periode 2025–2029 mencapai lebih Rp 10.300 triliun. Namun, partisipasi sektor swasta baru mencapai sekitar 28%. “Alih-alih melihat ini sebagai kesenjangan, kami melihatnya sebagai peluang besar. Di sinilah IPFO berperan menjembatani potensi dan realisasi,” ucapnya.
Melalui IPFO, lanjut AHY, pemerintah akan memperkuat penyediaan pipeline project, memperjelas standar dokumentasi, serta mengantisipasi tantangan yang dapat menghambat pelaksanaan proyek.
Dikatakan AHY, IPFO juga akan memperluas alat mitigasi risiko melalui PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dan PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII). “Selain itu, kami akan mendorong penerapan skema pembiayaan inovatif, seperti land value capture, asset recycling, dan limited concession scheme agar pembangunan infrastruktur dapat mendorong pemerataan ekonomi,” tuturnya.
AHY menggarisbawahi, IPFO akan menjadi jembatan antara pemerintah dan investor, sekaligus simbol komitmen bahwa pembiayaan infrastruktur tidak hanya tentang arus modal, tetapi dampak sosial dan lingkungan nyata.
“IPFO akan menjadi mitra terpercaya dan satu titik kontak yang andal bagi investor untuk mempercepat realisasi proyek. Indonesia terbuka untuk investasi, terbuka untuk inovasi, dan terbuka untuk kolaborasi,” imbuhnya.
Kemenko IPK sebelumnya menawarkan sebanyak 46 proyek infrastruktur senilai Rp 200 triliun pada acara International Conference of Infrastructure (ICI) 2025.
Menko AHY menjelaskan, puluhan proyek tersebut bakal ditawarkan kepada investor baik domestik maupun asing dari 33 negara di seluruh dunia. “Nah kalau ditanya, berapa jumlah investment yang diharapkan dari acara ini? Sebetulnya cukup banyak yang sudah bisa dikatakan dipelajari, sebagian sudah dikurasi ya, ada sekian puluh infrastruktur atau proyek infrastruktur yang bisa di diskusikan,” jelasnya beberapa waktu lalu.
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar Kemenko IPK Rachmat Kaimuddin mengatakan, puluhan proyek tersebut bakal menelan investasi sebesar Rp 200 triliun.
“Totalnya hampir Rp 200 triliun, sekitar Rp 190 triliun something. Namun, yang perlu kita ingat bahwa ini adalah proyek-proyek yang ada hubungannya dengan swasta (proyek kerja sama pemerintah dan badan usaha/KPBU),” ungkapnya.
Sementara itu, dalam dokumen ICI 2025, 46 proyek infrastruktur tersebut mencakup sektor properti, transportasi, hingga sarana dan prasarana penunjang untuk mewujudkan program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Berikut perincian 46 proyek yang dijajaki bersama dalam ajang ICI 2025:
Kementerian Pekerjaan Umum (PU)
- Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah Manggar di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur dengan nilai capital expenditure (capex) US$ 115,16 juta dan internal rate of return (IRR) 12,78%, serta net present value (NPV) sebesar US$ 5,31 juta. Diketahui, TPA Manggar mampu mengelola sampah sekitar 750 ton per hari.
- Proyek Strategis Nasional (PSN) Jalan Tol Gilimanuk-Mengwi Segmen Pekutatan – Soka – Mengwi di Provinsi Bali, dengan nilai capital expenditure (capex) diperkirakan US$ 1,56 miliar dan internal rate of return (IRR) 13,38%, serta net present value (NPV) sebesar US$ 192,64 juta. Diketahui, PSN ini masih dalam kalkulasi karena menunggu progres readiness criteria dan final business case.
- Jalan Tol Pejagan – Cilacap (KPBU solicited) di Provinsi Jawa Tengah dengan nilai capital expenditure (capex) US$ 1,69 miliar. Sementara, internal rate of return (IRR) dan net present value (NPV) masih dalam kajian menunggu progres readiness criteria and licensing, serta final business case.
- Jalan Tol Sentul Selatan-Karawang Barat (bagian dari JORR 3) di Provinsi Jawa Barat dengan nilai capital expenditure (capex) US$ 2,13 miliar dan internal rate of return (IRR) 16,27%, serta net present value (NPV) US$ 64,08 miliar.
- Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) kapasitas 5,4 megawatt (MW) di Bendungan Way Sekampung, Kecamatan Pringsewu, Provinsi Lampung dengan nilai capital expenditure (capex) US$ 7,25 juta dan internal rate of return (IRR) 12,64%, serta net present value (NPV) US$ 0,4 juta. Diketahui, proyek ini telah memasuki tahap pra-studi kelayakan atau pre-feasibility study.
- Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) kapasitas 3,32 megawatt (MW) di Bendungan Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan dengan nilai capex US$ 5 juta dan IRR 11,72%, serta NPV US$ 1,56 juta. Diketahui, proyek ini telah memasuki tahap pra-studi kelayakan.
- Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) kapasitas 3 megawatt (MW) di Bendungan Way Cipanas, Sumedang, Provinsi Jawa Barat dengan nilai capex US$ 4,81 juta dan IRR 11,80%, serta NPV US$ 2,41 juta. Diketahui, proyek ini telah memasuki tahap studi kelayakan.
- Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) kapasitas 7,4 Megawatt (MW) di Bendungan Leuwikeris, Provinsi Jawa Barat dengan nilai capex US$ 16 juta dan IRR 11,45%, serta NPV US$ 1,91 juta. Diketahui, proyek ini telah memasuki tahap studi kelayakan.
- Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) kapasitas 4,32 Megawatt (MW) di Bendungan Karalloe, Provinsi Sulawesi Selatan dengan nilai capex US$ 7,94 juta dan IRR 12,36%, serta NPV US$ 0,74 juta. Diketahui, proyek ini telah memasuki tahap pra-studi kelayakan.
Kementerian Perhubungan (Kemenhub)
- Pengembangan Transportasi Feeder MRT Lebak Bulus – Pondok Cabe – Rawa Buntu (BSD) dengan nilai capital expenditure (capex) US$ 1,25 miliar, operational expenditure (opex) US$ 11,7 juta per tahun dan internal rate of return (IRR) 9,16%. Sementara, net present value (NPV) masih dalam kajian mengingat proyek ini masih dalam bentuk konsep Kementerian Perhubungan.
- Pembangunan akses rel kereta api (KA) Pelabuhan Patimban di Subang, Jawa Barat dengan nilai capital expenditure (capex) diperkirakan US$ 771 juta dan internal rate of return (IRR) 13,6%, serta net present value (NPV) sebesar US$ 61,9 juta. Diketahui, proyek rel KA ini memiliki panjang kurang lebih 40 km dengan jarak tempuh tidak kurang 35 menit dari Pringkasap ke Patimban.
- Pengembangan Bandara Singkawang di Kalimantan Barat dengan nilai capital expenditure (Capex) US$ 52,5 juta, operational expenditure (opex) US$ 202,1 juta dan internal rate of return (IRR) 11,17%, serta NPV senilai US$ 13,7 juta. Kementerian Perhubungan menargetkan pemenang lelang segera diumumkan pada kuartal IV 2025 dan penandatanganan memorandum of understanding (MoU) di kuartal I 2026 untuk proyek ini.
- Pembangunan Transit Oriented Development (TOD) Terminal Tipe A Poris Plawad di Tangerang, Banten dengan nilai capital expenditure (capex) US$ 106,1 juta, operational expenditure (opex) US$ 3,6 juta dan internal rate of return (IRR) 10,26%, serta NPV senilai US$ 5,7 juta. Diketahui, posisi proyek ini berseberangan dengan Stasiun Batu Ceper yang melayani Commuter Line rute Stasiun Tangerang — Stasiun Duri dan Kereta Bandara Manggarai — Soekarno Hatta.
- Pengembangan Terminal Tipe A Purabaya di Sidoarjo, Jawa Timur dengan nilai capital expenditure (capex) US$ 111,6 juta, operational expenditure (opex) US$ 5,34 juta dan internal rate of return (IRR) 11,82%, serta NPV senilai US$ 1,1 juta. Diketahui, proyek ini akan masuk tahap pra-kualifikasi pada kuartal 1 2026 serta target mulai digarap pada tahun 2027.
Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP)
- Proyek hunian 14 tower dan 3.136 unit di Karawaci, Tangerang, Provinsi Banten seluas 37.779 meter persegi (m2) dengan nilai capital expenditure (capex) US$ 78,7 juta dan internal rate of return (IRR) 17,11%, serta net present value (NPV) US$ 3,55 juta. Diketahui, proyek ini menggunakan lahan eks debitur Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang dekat dengan fasilitas kesehatan, pendidikan, serta lapangan golf.
- Proyek hunian Pasir Gadung Sky Village sebanyak 8 tower dan 1.792 unit di Provinsi Banten seluas 22.113 m2 dengan nilai capital expenditure (capex) US$ 45,3 juta dan internal rate of return (IRR) 16,45%, serta net present value (NPV) US$ 1,8 juta. Diketahui, lokasi proyek ini berada di Cikupa, Tangerang yang merupakan kawasan industrial perkotaan dengan akses tol dan fasilitas kesehatan yang minimal 700 meter – 7 km, fasilitas pendidikan sekitar 2 km, serta sejumlah pusat perbelanjaan.
- Proyek hunian Maja Green Living seluas 74.902 m2 dengan estimasi 624 unit rumah tapak. Menurut perhitungan Kementerian PKP, proyek ini memiliki nilai capital expenditure (capex) US$ 5,62 juta dan internal rate of return (IRR) 15,33%, serta net present value (NPV) US$ 173.162. Adapun hunian ini hanya 10 menit dari Pasar Citeras, 5 km dari fasilitas kesehatan, serta 2 km dari sejumlah institusi pendidikan.
- Revitalisasi rumah susun (Rusun) Pasar Jumat, Jakarta Selatan seluas 15.907 m2 sebanyak 5 tower dan 2.170 unit. Adapun proyek ini memiliki nilai capital expenditure (capex) US$ 56 juta, operational expentidure (opex) US$ 15,3 juta dan internal rate of return (IRR) 22,51%, serta net present value (NPV) US$ 7,1 juta. Proyek ini merupakan kawasan transit-oriented development (TOD) MRT Lebak Bulus dan Tol Pondok Pinang – TMII sebagai salah satu jaringan Jakarta Outer Ring Road (JORR), bahkan hanya 10 menit jalan kaki dari pusat perbelanjaan.
- Proyek hunian Blok K Pulogebang di Jakarta Timur seluas 3,1 hektare (ha) dengan estimasi 6 tower dan 5.941 unit. Menurut perhitungan Kementerian PKP, proyek ini memiliki nilai capital expenditure (capex) US$ 92,7 juta dan internal rate of return (IRR) 21,58%, serta net present value (NPV) US$ 15,2 juta. Adapun hunian ini hanya sejengkal dari Stasiun Commuter Line Cakung serta Terminal Pulogebang, dan saat ini tahapan sudah mencapai tahap readiness criteria.
- Revitalisasi Rusun Klender seluas 10 ha dengan jumlah 14 tower dan 10.521 unit. Menurut Kementerian PKP, ada 1.280 unit yang akan direvitalisasi dengan nilai capital expenditure (capex) US$ 337,7 juta, operational expenditure (opex) US$ 51,6 juta dan internal rate of return (IRR) 20,52%. Sementara, net present value (NPV) mencapai US$ 32 juta, adapun hunian ini sejengkal dari Stasiun Commuter Line Buaran dan pusat perbelanjaan Buaran Plaza.
- Proyek hunian TOD Jurang Mangu di Tangerang Selatan seluas 34 ha dengan estimasi 2.940 unit di 4 tower. Menurut Kementerian PKP, proyek ini memiliki nilai capital expenditure (capex) US$ 61,5 juta, opex US$ 23,6 juta dan internal rate of return (IRR) 16,17%. Sementara, net present value (NPV) US$ 6,1 juta. Adapun hunian yang berada di lahan PT KAI ini akan memasuki tahap feasibility study (FS) di kuartal I 2027 serta dicanangkan groundbreaking pada kuartal III 2027.
- Proyek hunian vertikal Samesta Alonia di Jakarta Utara seluas 0,37 ha dengan estimasi 609 unit di 1 tower. Adapun proyek ini memiliki nilai capex US$ 12,3 juta, opex US$ 1,9 juta dan internal rate of return (IRR) 11,74%. Sementara, net present value (NPV) US$ 1,3 juta.
- Proyek hunian vertikal Rusun Kemayoran di Jakarta Pusat seluas 8 ha dengan estimasi 7.547 unit di 15 tower. Adapun proyek ini memiliki nilai capex US$ 21,6 juta, opex US$ 16,9 juta dan internal rate of return (IRR) 16,05%. Sementara, net present value (NPV) US$ 19,8 juta. Rusun Kemayoran juga dekat dengan Halte Bus Landas Pacu Timur dan Stasiun Commuter Line Kemayoran.
- Proyek hunian tapak Samesta Jonggol di Kabupaten Bogor seluas 88,6 ha dengan estimasi 6.559 rumah. Adapun proyek ini memiliki nilai capex US$ 96,72 juta, opex US$ 14,64 juta dan internal rate of return (IRR) 25,12%. Sementara, net present value (NPV) US$ 16,86 juta.
- Proyek hunian tapak Samesta Taroada di Sulawesi Selatan seluas 74,5 ha dengan estimasi 4.583 rumah. Adapun proyek ini memiliki nilai capex US$ 118,61 juta, opex US$ 13,19 juta dan internal rate of return (IRR) 21,85%. Sementara, net present value (NPV) US$ 11,69 juta.
- Proyek hunian Kota Mandiri Bekala di Deli Serdang, Sumatera Utara seluas 241 ha dengan estimasi 7.114 rumah tapak di tahap pertama mulai dari tipe 21/60 hingga 54/105. Adapun proyek ini memiliki nilai capex US$ 114,05 juta, opex US$ 11,44 juta dan internal rate of return (IRR) 22,12%. Sementara, net present value (NPV) US$ 15,74 juta.
- Proyek hunian vertikal Rusun Cengkareng di Jakarta Barat seluas 3,4 ha dengan estimasi 2.627 unit di 4 tower. Adapun proyek ini memiliki nilai capex US$ 89,09 juta, opex US$ 11,67 juta dan internal rate of return (IRR) 20,51%. Sementara, net present value (NPV) US$ 11,18 juta.
- Proyek hunian tapak Samesta Casanamora di Martubung, Medan, Sumatera Utara seluas 50 ha dengan estimasi 2.175 unit di 4 klaster. Adapun proyek ini memiliki nilai capex US$ 81,33 juta, opex US$ 8,36 juta dan internal rate of return (IRR) 27,15%. Sementara, net present value (NPV) US$ 8,36 juta.
- Proyek hunian vertikal mixed-use Simprug di Jakarta Selatan seluas 4.476 m2 dengan nilai capex US$ 24,45 juta, opex US$ 3,74 juta dan internal rate of return (IRR) 58,7%. Sementara, net present value (NPV) US$ 3,62 juta.
- Proyek hunian Samesta Green View di Talang Kramat, Banyuasin, Palembang seluas 97 ha dengan estimasi 5.791 unit rumah tapak. Adapun proyek ini memiliki nilai capex US$ 155,56 juta, opex US$ 9,44 juta dan internal rate of return (IRR) 17,26%. Sementara, net present value (NPV) US$ 7,61 juta.
- Proyek hunian Samesta Parayasa di Parung Panjang, Kabupaten Bogor seluas 153 ha dengan estimasi 10.118 unit rumah tapak. Adapun proyek ini memiliki nilai capex US$ 303,45 juta, opex US$ 50,11 juta dan internal rate of return (IRR) 16,29%. Sementara, net present value (NPV) US$ 17,16 juta.
- Revitalisasi Rusun Kebon Kacang di Jakarta Pusat seluas 1,65 ha dengan estimasi 2.731 unit di 3 tower. Adapun proyek ini memiliki nilai capex US$ 110,59 juta, opex US$ 48,9 juta dan internal rate of return (IRR) 20,81%. Sementara, net present value (NPV) US$ 13,94 juta.
- Revitalisasi Rusun Tanah Abang di Jakarta Pusat seluas 3,6 ha dengan estimasi 2.731 unit di 7 tower. Adapun proyek ini memiliki nilai capex US$ 86,02 juta, opex US$ 9,76 juta dan internal rate of return (IRR) 19,46%. Sementara, net present value (NPV) US$ 11,55 juta.
- Revitalisasi Rusun Ilir Barat di Palembang, Sumatera Selatan seluas 120.000 m2 dengan estimasi 11.830 unit di 18 tower. Adapun proyek ini memiliki nilai capex US$ 379,72 juta, opex US$ 8,43 juta dan internal rate of return (IRR) 15,13%. Sementara, net present value (NPV) US$ 19,33 juta.
- Proyek hunian Samesta Driyorejo di Gresik, Jawa Timur seluas 212 ha dengan estimasi 14.214 unit rumah tapak. Adapun proyek ini memiliki nilai capex US$ 485,05 juta, opex US$ 105,43 juta dan internal rate of return (IRR) 30,58%. Sementara, net present value (NPV) US$ 46,77 juta.
- Proyek hunian vertikal Kembangan di Jakarta Barat seluas 22.000 m2 dengan estimasi 2.523 unit di 4 tower. Adapun proyek ini memiliki nilai capex US$ 73,11 juta, opex US$ 8,6 juta dan internal rate of return (IRR) 30,26%. Sementara, net present value (NPV) US$ 6,08 juta.
- Proyek hunian New City of Maja di Legok, Banten seluas 305 ha dengan estimasi 20.932 unit rumah tapak. Adapun proyek ini memiliki nilai capex US$ 376,6 juta, opex US$ 74,03 juta dan internal rate of return (IRR) 18,26%. Sementara, net present value (NPV) US$ 27,2 juta.
PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII)
- Proyek revitalisasi dan pengembangan sistem penyediaan air minum (SPAM) Denpasar, Bali dengan nilai capex US$ 75 juta dan internal rate of return (IRR) 11- 14%, serta net present value (NPV) US$ 4 juta.
- Proyek Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wangaya di Provinsi Bali dengan nilai capex US$ 37 juta, sementara internal rate of return (IRR) dan net present value (NPV) masih dikaji, serta ditargetkan lelang pada kuartal IV 2025.
- Proyek pengembangan jaringan gas rumah tangga (Jargas) di Kota Palembang dengan total rumah sebanyak 354.441 unit. Adapun proyek ini memiliki nilai capex US$ 135 juta, opex US$ 3,1 juta per tahun dan internal rate of return (IRR) 11,2- 13,7%.
- Proyek pembangunan sistem penyediaan air minum (SPAM) Karo, Sumatera Utara yang akan meng-cover 14 desa di Kabanjahe dan Tigapanah, serta mendistribusikan air baku ke 16.000 rumah tangga. Adapun proyek ini memiliki nilai capex US$ 12 juta, opex US$ 15 juta dan internal rate of return (IRR) 16%, serta net present value (NPV) US$ 1,9 juta.
PT MRT Jakarta (Perseroda)
- Proyek kawasan mixed-use XGL di Kota Tua, Jakarta Pusat dengan fasilitas hotel, ritel, hingga perkantoran. Proyek ini memiliki nilai capex US$ 36 juta dan internal rate of return (IRR) 13,28%, serta net present value (NPV) US$ 1,9 juta.
- Proyek kawasan terintegrasi gedung LMAN Glodok, Jakarta Pusat dengan nilai capex US$ 2,15 juta dan internal rate of return (IRR) 12,5%, serta net present value (NPV) US$ 2,47 juta.
- Proyek kawasan mixed-use Park & Ride MRT Lebak Bulus dengan fasilitas apartemen, ritel, hingga kantong parkir sebanyak 278 kendaraan roda empat dan 949 kendaraan roda dua. Proyek ini memiliki nilai capex US$ 30 juta dan internal rate of return (IRR) 14,10 %, serta net present value (NPV) US$ 12,5 juta.
- Proyek kawasan mixed-use Blok M di Jakarta Selatan dengan fasilitas hotel, ritel, pusat perbelanjaan, hingga ruang publik. Proyek ini memiliki nilai capex US$ 176 juta dan internal rate of return (IRR) 13,32%, serta net present value (NPV) US$ 40,4 juta.

