Trump Perpanjang Jeda Tarif China, Harga Minyak malah Tergelincir
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Harga minyak dunia melemah pada Selasa (12/8/2025) seiring perpanjangan jeda tarif antara Amerika Serikat dan China, di tengah rilis data yang menunjukkan kenaikan inflasi AS pada Juli. Langkah ini memicu spekulasi pasar pada prospek negosiasi dagang kedua negara sekaligus memengaruhi sentimen energi global.
Harga minyak mentah berjangka Brent acuan global turun 51 sen atau 0,77% menjadi US$ 66,12 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) acuan AS merosot 79 sen atau 1,24% menjadi US$ 63,17 per barel.
Baca Juga
India Abaikan Ancaman ‘Tarif Penalti’ Trump, Tetap Impor Minyak Rusia
Presiden AS Donald Trump memperpanjang gencatan senjata tarif terhadap China hingga 10 November. Penundaan bea masuk tiga digit terhadap berbagai produk Negeri Tirai Bambu ini memberi ruang bagi para pengecer AS mempersiapkan musim belanja akhir tahun, sekaligus menunda tekanan tambahan terhadap perdagangan global.
Analis menilai keputusan ini membuka peluang tercapainya kesepakatan antara dua ekonomi terbesar dunia, sekaligus menghindari hambatan besar terhadap arus perdagangan. Tarif tinggi dinilai berpotensi menekan pertumbuhan global dan pada gilirannya mengurangi permintaan energi, termasuk minyak mentah.
Inflasi AS
Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan harga konsumen meningkat pada Juli, didorong kenaikan biaya barang impor akibat tarif. Lonjakan ini menjadi yang terkuat dalam 6 bulan terakhir untuk ukuran inflasi inti, menambah ketidakpastian arah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed).
Sementara itu, dinamika geopolitik turut memengaruhi pasar minyak. Trump dijadwalkan bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska pada Jumat (15/8/2025) untuk membahas upaya mengakhiri perang di Ukraina.
AS telah meningkatkan tekanan diplomatik terhadap Moskow, termasuk memberi tenggat pekan lalu bagi Rusia untuk menerima proposal perdamaian atau menghadapi sanksi sekunder terhadap pembeli minyaknya. Trump juga mendesak India dan China mengurangi pembelian minyak Rusia.
“Jika pertemuan Jumat (15/8/2025) membawa gencatan senjata atau kesepakatan damai di Ukraina lebih dekat, Trump dapat menangguhkan tarif sekunder yang dikenakan pada India minggu lalu sebelum mulai berlaku,” tulis Commerzbank dalam catatan risetnya dikutip CNBC.
“Jika tidak, sanksi yang lebih keras terhadap pembeli minyak Rusia lain, termasuk China, sangat mungkin terjadi.”
Baca Juga
Rebut Pangsa Pasar, OPEC+ Sepakat Genjot Produksi Minyak 547.000 Bph September
Di sisi lain, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) menaikkan proyeksi permintaan minyak global untuk 2026 sebesar 1,38 juta barel per hari (bph), atau 100.000 bph lebih tinggi dibanding perkiraan sebelumnya. Kenaikan ini dikaitkan dengan pemulihan ekonomi global berkelanjutan.
Untuk 2025, OPEC mempertahankan proyeksi permintaan tanpa perubahan. Laporan bulanan organisasi ini juga memangkas perkiraan pertumbuhan pasokan dari Amerika Serikat dan produsen non-OPEC+ lainnya, yang mengindikasikan prospek pasar minyak akan lebih ketat dalam jangka menengah.

