Kadin Menilai Rusia Jadi Alternatif Pasar Strategis di Tengah Tarif Resiprokal AS
JAKARTA, investortrust.id – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyatakan Rusia merupakan pasar alternatif strategis bagi pelaku usaha nasional di tengah ketidakpastian global dan kebijakan tarif resiprokal Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Hal tersebut disampaikan Ketua Komite Bilateral Russia-Belarus Kadin Indonesia Didit Ratam dalam Forum Bisnis Rusia - Indonesia yang diadakan Roscongress International di Jakarta, Senin (14/4/2025).
Baca Juga
"Betul (Rusia pasar alternatif), dengan melihat kondisi dunia sekarang kita mencari pasar-pasar non tradisional," kata Didit, di Jakarta, Senin (14/4/2025).
Sejumlah pasar non-tradisional yang dimaksud adalah, Rusia, Amerika Latin, hingga Afrika. Didit mengatakan pasar antara Rusia dan Indonesia merupakan pasar yang baru dibuka kembali belakangan ini.
"Terutama setelah hubungan bilateral Indonesia dan Rusia menghangat sejak kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto," ujarnya.
Baca Juga
Kadin Indonesia Bahas Potensi Kerja Sama Logistik di Roscongress 2025
Didit menyambut baik bisnis forum Indonesia dan Rusia. Menurutnya, peningkatan ekonomi antara Rusia dan Indonesia benar-benar terjadi. Apalagi Indonesia telah bergabung dengan BRICS pada awal Januari 2025 lalu. Selain itu bergabungnya Indonesia dengan New Development Bank dinilai turut meningkatkan perekonomian antarkedua negara.
"Bisnis forum seperti inilah yang harus ditingkatkan dan perbanyak, itu yang tadi kita sampaikan bahwa pengusaha Indonesia akan mengirimkan delegasi yang besar ke St Petersburg International Economic Forum yang akan diadakan di bulan Juni 2025 ini. Jadi peningkatan itu pada akhirnya akan dilakukan oleh pebisnis," tuturnya.
Didit menambahkan bahwa dalam forum ini pengusaha dari kedua saling menjajaki dan mengenalkan diri masing-masing untuk kemudian saling menggali kemitraan bisnis yang bisa dibangun bersama. Selain itu, ada juga sesi business matching, sebuah pertemuan one on one antara pengusaha Indonesia dan Rusia.
"Kita harapkan ada deal-deal bisnis di antara mereka. Tentu saja tidak seketika, tapi masih butuh proses lebih lanjut," kata Didit. (C-14)

