China Balas Tarif AS, Indonesia Jangan Ikut-ikutan
JAKARTA, investortrust.id - China membalas tarif impor tinggi yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, dengan mengenakan tarif impor seluruh barang AS sebesar 34%. Dalam menghadapi perang dagang ini, Indonesia disarankan jangan ikut-ikutan membalas tarif impor AS.
Kepala Ekonom Senior Samuel Sekuritas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi mengatakan, balasan tarif dari China menciptakan eskalasi perang dagang. Ini membuat rantai pasok global terfragmentasi dan menciptakan aliran perdagangan global yang terdislokasi.
Melihat kondisi ini, Faisal menyarankan agar Indonesia menghindari keinginan untuk membalas tarif impor AS. Sebaliknya, Indonesia disarankan bertindak dengan oportunisme strategis yang terukur.
Baca Juga
Respons Perang Tarif, Asosiasi Tekstil Tolak Relaksasi Impor
“Kekuatan Indonesia terletak pada netralitas, fleksibilitas, dan kemampuan mengubah krisis menjadi peluang,” kata Faisal dalam keterangannya, Jumat (4/4/2025).
Menurut Faisal, Indonesia bakal merasakan dampak perang tarif tidak secara langsung. Alih perdagangan, relokasi investasi, dan fragmentasi rantai pasok, merupakan beberapa dampak yang bakal dirasakan Indonesia.
Fithra Faisal mengungkapkan, dengan mengambil jalur diplomatis, Indonesia bakal mempertahankan opsi strategis dan citra sebagai mitra yang andal di tengah volatilitas perdagangan global.
Di tengah kondisi ini, kata Faisal, Indonesia memiliki empat peluang yang dapat menggantikan China. Pertama, Indonesia dapat mengisi kekosongan perdagangan antarkedua negara.
“Indonesia dapat menggantikan ekspor komoditas AS yang diekspor ke China, di antaranya kedelai, energi, dan pengolahan pangan. Sebaliknya, AS ke Indonesia dapat mengekspor alas kaki, pakaian jadi, elektronik, dan karet,” tutur dia.
Kedua, menurut Fithra Faisal, Indonesia dapat menjadi tujuan investasi dan penyelaras rantai pasok global. Peluang ini muncul karena perusahaan global sedang mencari alternatif produksi di luar China.
Baca Juga
Respons Kebijakan Tarif Trump, MPR Minta Pemerintah Perkuat Diplomasi Perdagangan
“Indonesia harus memosisikan diri sebagai tujuan relokasi utama, khususnya di semikonduktor, komponen otomotif, dan manufaktur digital,” ucap dia.
Ketiga, Indonesia punya peluang dalam perang dagang karena sikap nonkonfrontatif terhadap AS. Ini membuka peluang untuk memperpanjang dan memperluas fasilitas Generalized System of Preferences (GSP) yang diberikan AS. “Selain itu, terdapat kemitraan baru di sektor energi hijau, perdagangan digital, dan rantai pasok mineral alam,” tandas dia.
Peluang keempat yaitu memperdalam integrasi ekonomi ASEAN. Langkah ini penting untuk membentuk jaringan produksi di kawasan. “Indonesia harus mendorong fasilitasi perdagangan ASEAN, logistik yang saling bekerja sama, dan harmonisasi tarif yang kompetitif di kawasan,” kata dia.

