Anindya Bakrie Ungkap Potensi Ekonomi Indonesia dan Asean di Hong Kong–Asean Summit 2023
HONG KONG, Investortrust.id - Chief Executive Officer (CEO) PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), Anindya N. Bakrie membeberkan potensi ekonomi Indonesia dan Asean kepada pemimpin bisnis, pembuat kebijakan, dan pengusaha dari Hong Kong, Tiongkok.
“Indonesia dan Asean memiliki potensi ekonomi yang besar ke depan,” kata Anindya saat berbicara sebagai panelis di Hong Kong – Asean Summit 2023, Senin (9/10/2023), .
Indonesia saat ini sedang bangkit dan menjadi sorotan global karena kesuksesan dalam berbagai hal, antara lain sukses menyelenggakan KTT G20 di Bali tahun 2022, dan menjalankan Keketuaan ASEAN tahun ini di Jakarta.
Indonesia merupakan satu-satunya negara di kawasan Asia Tenggara yang menjadi anggota G20. Padahal, G20 secara definisi hanya ada 20 negara, dan 20 tahun yang lalu Indonesia tidak termasuk dalam G20.
Baca Juga
Anindya Bakrie Jadi Pembicara di Forum Hong Kong - Asean Summit 2023
“Saat ini, Indonesia satu-satunya negara di Asia Tenggara yang menjadi anggota G20. Ini fakta yang membanggakan,” kata Anindya saat menjadi pembicara di Hong Kong-Asean Summit 2023, Senin, 9 Oktober 2023.
Fundamental Kuat
Indonesia memiliki fundamental yang kuat, sehingga menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di G20 dengan inflasi yang stabil meskipun terjadi stagflasi global.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5% per tahun dalam satu dekade terakhir. Pada 2023, pertumbuhan ekonomi Indonesia berkisar 5,1%, nomor dua terbesar di kelompok G20. “Tahun 2045. Indonesia diproyeksikan bisa masuk top 5 ekonomi terbesar dunia,” papar Anindya yang juga Ketua Dewan Pertimbangan Kadin.
Indonesia memiliki kekuatan untuk menjadi hub EV (electric vehicle) global dan penyerap karbon global bagi dunia. Pasalnya, Indonesia kaya dengan bahan mineral yang dibutuhkan untuk produksi batere, memiliki potensi besar dalam energi baru dan terbarukan. Di sisi lain, Indonesia memiliki cadangan terbesar di dunia untuk nikel, nomor 2 untuk timah, nomor 6 untuk tembaga.
Sementara itu, Asean berada pada jalur yang tepat untuk menjadi kawasan dengan perekonomian terbesar ke-4 pada tahun 2030. Total PDB (produk domestic bruto) gabungan dari 10 negara Asean di 2019 bernilai $3,2 triliun – menjadikan Asean sebagai ekonomi terbesar kelima di dunia, dan diproyeksikan menjadi yang keempat terbesar pada tahun 2030.
Asean menjadi episentrum pertumbuhan transisi global menuju ramah lingkungan. Asean berada di posisi keempat sebagai wilayah pengekspor terbesar di dunia, hanya tertinggal dari Uni Eropa, Utara Amerika, dan China/Hong Kong.
Dalam jumlah populasi, Asean juga terbesar ke-3 di dalam dunia, yang menunjukkan besar potensi sumber daya manusia dan poteni pasarnya.
Baca Juga
VKTR Kembali Bikin Terobosan Hadirkan EV Mining Truck Berkualitas
Sejalan dengan perkembangan zaman, Anindya juga menguraikan tentang transisi yang dilakukan grup usaha Bakrie ke depan. Transisi menuju bisnis yang berkelanjutan. Mulai dari elektrfikasi, energy terbarukan, hingga perumahan dan konstruksi. Termasuk, upaya-upaya melakukan dekarbonisasi.
Kolaborasi
Pemimpin Hong Kong John KC Lee yang hadir dan menjadi keynote speaker pada Hong Kong – Asean Forum 2023 menjanjikan kerja sama regional yang lebih erat dengan negara-negara Asean.
Ini menggarisbawahi peran unik kota Hong Kong sebagai pintu gerbang bernilai tambah ke pasar-pasar di Greater Bay Area dan wilayah Tiongkok lainnya.
Secara khusus, Kepala Eksekutif Hong Hong itu berterima kasih kepada para pejabat dan pemimpin bisnis yang terbang ke kota tersebut untuk menghadiri forum tingkat tinggi meskipun Topan Koinu memicu peringatan badai No. 9 pada akhir pekan, dan menekankan bahwa langkah untuk melanjutkan acara tersebut menunjukkan ketahanan Hong Kong.
Lee mengatakan ikatan yang lebih kuat antara Hong Kong dan blok perdagangan 10 negara di Asia Tenggara akan membantu kedua kawasan menavigasi perekonomian global yang terus berubah dan tantangan lainnya.
Menteri Tenga Kerja Tan See Leng menyebut, Singapore dan Hong Kong dapat memanfaatkan kekuatan unik mereka untuk menarik bakat-bakat baru dan harus “bekerja sama secara erat daripada bersaing” untuk mendapatkan wajah-wajah baru.
Baca Juga
Tan See Leng mengatakan bahwa ia tidak “harus menganut” karakterisasi bahwa kedua pusat keuangan tersebut bersaing satu sama lain untuk mendapatkan talenta global, namun ia melihat “keunggulan bawaan” dan “ceruk khusus” yang unik bagi masing-masing pusat tersebut.
“Saya pikir kita berdua sebenarnya bisa menjadi kota yang bersinar… dimana kita bekerja sama secara erat dibandingkan bersaing,” katanya, seperti dikutip SCMP.
Ditambahkan, kekuatan Hong Kong terletak pada Greater Bay Area, yang secara luas dipandang sebagai salah satu tujuan investasi paling menarik di Tiongkok. Meskipun banyak negara yang menyusun rencana untuk mencari talenta-talenta baru, Tan mengatakan: “Pertumbuhan bukanlah sebuah permainan yang tidak menghasilkan keuntungan (zero-sum game). Faktanya, persaingan yang sehat membuat kita lebih kuat dan menciptakan kota-kota yang lebih dinamis.”

