SKK Migas: 67% Pasokan Gas Disalurkan untuk Kebutuhan Domestik
JAKARTA, Investortrust.id - Volume gas yang diekspor dikurangi secara bertahap sehingga pada 2012 pasokan gas domestik telah lebih tinggi daripada ekspor. Sementara itu pada 2022, rata-rata volume gas yang disalurkan untuk kebutuhan domestik telah mencapai 67% dari total penyaluran gas, sementara volume gas yang diekspor sekitar 33%.
Hal ini dipaparkan oleh Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto dalam gelaran pertama International Convention on Indonesian Upstream Oil and Gas (ICIUOG) 2023, di Bali, Rabu (20/9/2023).
Menurut Dwi Soetjipto, gas yang disalurkan untuk dalam negeri sebagian besar digunakan untuk mendukung pengadaan energi listrik, kemudian digunakan untuk industri pupuk, industri petrokimia, dan industri lainnya.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia juga menggarisbawahi bahwa industri hulu migas di Tanah Air bisa berpotensi besar menjadi kunci utama dalam perekonomian di daerah.
Oleh karena itu, Kementerian Investasi juga meminta para KKKS untuk berkolaborasi dengan pengusaha daerah dan mendukung usaha pembinaan pengusaha daerah sehingga masyarakat daerah juga bisa merasakan manfaat keberadaan cadangan migas di wilayahnya.
"Kami harus kolaborasi dengan pengusaha nasional, teman-teman di daerah, UMKM daerah. Jangan hanya membawa kontraktor dari Jakarta. Bina teman-teman daerah yang memenuhi syarat. Jangan menjadikan mereka hanya sebagai penonton. Bina lah pengusaha di sekitar daerah operasi agar memiliki persyaratan yang dapat ikut mengerjakan proyek," ucap Bahlil dilansir Antara.
Industri hulu migas, kata dia, akan menjadi prioritas untuk dijaga iklim investasinya karena sektor migas memiliki kontribusi yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
"Untuk investasi, kami tetap dorong butuh kontribusi, postur di pertumbuhan ekonomi didorong sampai 35%. Konsumsi kita tekan sehingga keseimbangan pertumbuhan ekonomi berkualitas," ungkapnya.

