Bahlil Pastikan Harga BBM Subsidi Tak Naik, meski ICP Tembus US$ 92 per Barel
JAKARTA, investortrust.id – Pemerintah berkomitmen menjaga harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi agar tidak mengalami kenaikan, meskipun harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) terus meningkat. Saat ini, rata-rata ICP disebut telah mencapai US$ 92 per barel, jauh di atas asumsi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang sebesar US$ 70 per barel.
Baca Juga
ICP Agustus Naik ke US$ 89,43 per Barel Imbas Kenaikan Harga Minyak Global
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia mengatakan, kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan kebutuhan anggaran untuk subsidi energi. Namun, pemerintah memastikan kebijakan harga BBM bersubsidi tetap dipertahankan di tengah dinamika harga minyak global.
“Pemerintah berkomitmen untuk tidak ada kenaikan BBM subsidi. Tidak ada kenaikan,” kata Bahlil saat ditemui di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Bahlil menjelaskan, pemerintah terus memperhitungkan perkembangan harga ICP karena kenaikan harga minyak mentah dapat berdampak pada kebutuhan tambahan anggaran subsidi atau top up subsidi energi. Dengan harga ICP yang telah mencapai rata-rata US$ 92 per barel, pemerintah memperkirakan harga minyak masih berpotensi bergerak di bawah US$ 100 per barel apabila tren saat ini berlanjut.
“Sekarang rata-rata ICP US$ 92 per barel. Padahal di dalam APBN itu sekitar US$ 70 per barel. Kita targetkan kalau begini terus mungkin di bawah US$ 100 per barel,” ujarnya.
Menurut Bahlil, kondisi energi nasional secara umum masih relatif terkendali, meskipun terdapat dinamika pada harga minyak mentah. Pemerintah terus memantau perkembangan tersebut untuk mengantisipasi dampaknya terhadap fiskal negara, terutama kebutuhan subsidi energi apabila harga minyak bertahan tinggi.
Baca Juga
ICP September Naik Jadi US$ 112,81 Per Barel Imbas Ketegangan Politik Masih Berlangsung
Di sisi lain, Bahlil juga menyampaikan kinerja penerimaan negara dari sektor batu bara yang diproyeksikan melampaui target. Target devisa ekspor batu bara sebesar US$ 27 miliar diperkirakan dapat mencapai lebih dari US$ 30 miliar. Sementara itu, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang ditargetkan sebesar Rp 133 triliun diproyeksikan meningkat menjadi lebih dari Rp 160 triliun.
“Ekspor kita, target devisa dari batu bara kita melebihi target. Targetnya US$ 27 miliar, ini akan bisa mencapai di atas US$ 30 miliar. Pendapatan PNBP kita dari Rp 133 triliun itu bisa mencapai Rp 160 triliun lebih, jadi rata-rata oke,” tutur Bahlil.
