Kadin Indonesia Gelar Forum Bisnis, Bidik Penggandaan Perdagangan dengan Rusia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menggelar Forum Bisnis Indonesia-Rusia 2026 bertajuk ‘Made in Indonesia: Doubling Trade and Investment Between Indonesia and Russia’.
Forum tersebut mempertemukan perwakilan pemerintah, serta komunitas bisnis kedua negara untuk mendorong peningkatan perdagangan dan investasi bilateral. Ajang ini digelar untuk menindaklanjuti target Presiden Prabowo Subianto, menggandakan nilai perdagangan Indonesia dan Rusia dalam lima tahun ke depan.
Target itu disampaikan Prabowo saat berpidato pada forum ‘The Far East: Development for the Benefit of the People’ di Vladivostok, Rusia awal September 2026, di hadapan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Ketua Komite Kadin Indonesia-Rusia dan Belarus, Didit A Ratam, mengatakan Indonesia-Russia Business Forum hadir pada momentum penting dalam hubungan ekonomi kedua negara. Menurutnya, target penggandaan perdagangan membutuhkan keterlibatan langsung pelaku usaha dalam memanfaatkan peluang pasar dan investasi.
“Kami percaya bahwa target ini ambisius, tetapi realistis, dan dapat kita capai. Itulah mengapa kita berkumpul di sini hari ini,” ujar Didit di Artotel Mangkuluhur, Kamis (15/10/2026).
Didit menjelaskan, forum ini mempertemukan para pemimpin pemerintahan dan pelaku usaha dari Indonesia maupun Rusia, termasuk perusahaan yang tengah mencari pasar baru, mitra strategis, peluang investasi, dan proyek kerja sama.
Sejumlah sektor yang menjadi perhatian dalam forum ini meliputi pelayaran dan pembuatan kapal, keuangan, perdagangan, logistik, pertanian, serta industri. Perwakilan sovereign wealth fund (SWF) Indonesia seperti Danantara, juga hadir untuk membuka peluang kolaborasi investasi.
“Tugas kita hari ini adalah menyatukan kepentingan-kepentingan ini dan mengubah peluang menjadi kerja sama bisnis yang nyata. Inilah definisi kami tentang business matching,” kata Didit.
Dia menyatakan, Kadin siap mendukung proses penjajakan dan realisasi kerja sama tersebut, termasuk melalui tindak lanjut setelah forum berakhir. Dengan demikian, pertemuan ini diharap tidak berhenti pada dialog, tetapi menghasilkan kemitraan komersial yang konkret.
Sebagai Ketua Komite Kadin Indonesia-Rusia dan Belarus, Didit menyatakan komitenya siap memfasilitasi proses tersebut, mulai dari mempertemukan perusahaan hingga membantu menindaklanjuti peluang bisnis yang muncul.
“Kami berupaya menggandakan perdagangan, namun perdagangan yang seimbang. Kami berharap produk-produk Indonesia akan diterima di Rusia, sebagaimana kami menyambut produk-produk Rusia di Indonesia,” tutupnya.
Baca Juga
Kadin Soroti Daya Saing Indonesia, 4–5 Juta Pencari Kerja Belum Terserap Tiap Tahun
Hubungan perdagangan Indonesia dan Rusia menunjukkan perkembangan dalam beberapa tahun terakhir. Nilai perdagangan bilateral kedua negara mencapai sekitar US$ 5 miliar sepanjang 2025.
Kadin mengungkap, momentum tersebut berlanjut pada semester I-2026, dengan nilai perdagangan bilateral secara indikatif mencapai sekitar US$ 3 miliar atau meningkat 20% secara tahunan (year on year/yoy).
Capaian itu menjadi modal bagi Indonesia dan Rusia untuk memperluas hubungan ekonomi, yang selama ini masih banyak bertumpu pada perdagangan komoditas tradisional. Ke depan, kerja sama diharapkan berkembang ke sektor industri, investasi, lokalisasi produksi, serta kemitraan langsung antarpelaku usaha.
Peluang Perluasan Pasar
Peluang peningkatan perdagangan Indonesia dan Rusia juga didukung oleh Perjanjian Perdagangan Bebas Indonesia-Uni Ekonomi Eurasia (Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement/Indonesia-EAEU FTA) yang ditandatangani pada Desember 2025.
Indonesia, Rusia, dan Belarus telah menyelesaikan proses ratifikasi. Sementara itu, implementasi perjanjian masih bergantung pada penyelesaian prosedur internal yang diperlukan di seluruh negara anggota Uni Ekonomi Eurasia (EAEU).
Perjanjian tersebut mencakup penghapusan atau pengurangan bea masuk pada 11.882 pos tarif, atau lebih dari 90% barang yang diperdagangkan. Ketentuan ini diharapkan memperluas akses pasar sekaligus meningkatkan efisiensi dan daya saing perdagangan kedua pihak.
Penurunan hambatan tarif berpotensi mengurangi biaya transaksi, memperlancar arus barang, serta mendorong investasi dan kemitraan bisnis. Manfaatnya diharap dapat dirasakan oleh perusahaan maupun konsumen di Indonesia dan negara-negara anggota EAEU.
