Kadin Soroti Daya Saing Indonesia, 4–5 Juta Pencari Kerja Belum Terserap Tiap Tahun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie menyoroti penurunan daya saing Indonesia sebagai salah satu faktor yang dapat menjelaskan keluarnya investor dari pasar modal domestik. Menurut dia, pertumbuhan investasi langsung asing atau foreign direct investment (FDI) saja tidak cukup jika tidak diikuti peningkatan daya saing dan kenyamanan berusaha.
Anindya memperkirakan investasi langsung masih menunjukkan pertumbuhan, dengan nilai investasi nasional yang dibidik mencapai Rp 2.000 triliun pada 2026 dan Rp 2.300 triliun pada 2027. Namun, capaian tersebut menurutnya perlu diimbangi upaya memperkuat daya tarik Indonesia di tengah persaingan dengan negara lain.
“Kalau dari sisi FDI, masih dalam takaran tumbuh. Mungkin tahun ini Rp 2.000 triliun, tahun depan Rp 2.300 triliun. Nah, kalau menurut saya salah satu alasannya ialah competitiveness,” ujar Anindya dalam acara ITC Leadership Conclave 2026 di Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Dia menilai, pelaku usaha perlu mengukur apakah perusahaan di Indonesia mampu bersaing dengan kompetitor di negara lain. Selain daya saing, kenyamanan dalam menjalin kemitraan dan berinvestasi juga menjadi pertimbangan penting bagi investor ketika menentukan lokasi bisnis.
“Ujung-ujungnya, are we more competitive than the next guy? Dan yang kedua, is it more comfortable to do business here atau tempat lain?” sebut dia.
Menurut Anindya, perbaikan daya saing tidak semata-mata bergantung pada kebijakan pemerintah. Dia mengakui pelaku usaha di daerah masih menghadapi berbagai persoalan, termasuk keterbatasan transfer ke daerah (TKD) yang dapat memengaruhi kemampuan pemerintah daerah dalam mendukung pembangunan dan inovasi.
Baca Juga
Bahlil Minta Hambatan Ekspor Dipangkas, Daya Saing Produk RI Jadi Taruhan
Kendati demikian, Anindya mendorong dunia usaha untuk memusatkan perhatian pada faktor-faktor yang dapat dikendalikan secara langsung. Sementara persoalan kebijakan tetap perlu diperjuangkan melalui advokasi, pelaku usaha juga perlu memperkuat kemampuan internal agar lebih kompetitif. “Daya saing menurut saya itu sesuatu yang kita bisa kontrol,” tegasnya.
Selain persoalan daya saing, Anindya menyoroti ketidaksesuaian antara kebutuhan tenaga kerja industri dan ketersediaan talenta di pasar kerja. Dia menyebut, setiap tahun sekitar 4 juta hingga 5 juta pencari kerja masih mencari pekerjaan, sementara perusahaan yang ingin berkembang justru terus membutuhkan talenta baru.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara kompetensi yang dibutuhkan perusahaan dan keterampilan yang dimiliki pencari kerja. Menurut Anindya, persoalan ini perlu ditangani agar kebutuhan tenaga kerja dunia usaha dapat bertemu dengan ketersediaan sumber daya manusia yang sesuai.
“Berarti ada disconnect antara apa yang dibutuhkan dan juga apa yang tersedia. Nah, ini juga satu hal yang saya rasa sangat penting disiasati. Dan ini juga saya tahu dari BRIN misalnya, perguruan tinggi, ya harus bicara dengan dunia usaha karena kita adalah penggunanya,” ucap Anindya.
