Harga Emas Turun ke US$ 4.100 Seusai Inflasi AS Melampaui Prediksi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia mendekati US$ 4.100 per troy ounce pada perdagangan awal Asia, Kamis (15/10/2026), setelah inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dari perkiraan memperkuat spekulasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada Oktober.
Pelaku pasar kini mencermati data Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) AS untuk September dan penjualan ritel yang dijadwalkan dirilis pada Kamis waktu setempat untuk mengukur arah kebijakan moneter bank sentral AS.
Baca Juga
Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) meningkat 3,7% secara tahunan pada September, lebih tinggi dibandingkan dengan 3,4% pada Agustus dan perkiraan pasar sebesar 3,6%.
Tekanan inflasi juga terlihat pada komponen inti yang tidak memasukkan harga pangan dan energi. CPI inti naik 2,6% secara tahunan, melampaui kenaikan 2,4% pada bulan sebelumnya dan perkiraan pasar sebesar 2,5%. Secara bulanan, CPI dan CPI inti masing-masing meningkat 0,6% dan 0,3%. Data tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa inflasi AS belum cukup terkendali untuk memberi ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter.
Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures David Meger mengatakan angka inflasi tersebut mengindikasikan bahwa The Fed lebih mungkin menaikkan suku bunga.
"Pada titik ini, hal itu mengindikasikan bahwa The Fed lebih cenderung menaikkan suku bunga," kata Meger, dilansir FXStreet merujuk pada inflasi yang melampaui perkiraan dan masih berada di atas target bank sentral.
Perubahan ekspektasi pasar tercermin dalam CME FedWatch Tool. Peluang kenaikan suku bunga AS pada Oktober diperkirakan mencapai 31,6%, meningkat dari sekitar 22% sebelum data inflasi diumumkan. Pasar juga memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 89,7% pada Desember.
Emas memang kerap digunakan sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Namun, ketika suku bunga meningkat, biaya peluang untuk memegang emas ikut naik karena investor dapat mempertimbangkan aset lain yang menawarkan imbal hasil.
Tekanan Penjualan dan Dukungan Harga
TD Securities mencatat bahwa data inflasi yang lebih kuat dari perkiraan mendorong aksi jual pada logam mulia, termasuk emas dan platinum, oleh Commodity Trading Advisors (CTA), yakni pelaku perdagangan yang menggunakan strategi sistematis berdasarkan tren dan sinyal pasar.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini Turun Rp 20.000 ke Rp 2,574 Juta
Menurut TD Securities, para CTA meningkatkan penjualan emas ketika data inflasi melampaui perkiraan dan harga menghadapi resistensi kuat di sekitar US$ 4.200 per troy ounce. Resistensi merupakan area harga yang berpotensi menahan kenaikan karena tekanan jual meningkat.
Meski demikian, bank tersebut menilai arus transaksi yang berlawanan dengan tekanan jual dapat memberikan dukungan terhadap harga emas. TD Securities memperkirakan dukungan tersebut masih berpotensi bertahan, terutama ketika harga bergerak di kisaran US$ 4.000–US$ 4.100 per troy ounce.
