Harga Emas Turun Akibat Dolar AS Menguat dan Minyak Naik
Poin Penting
|
AKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia melemah ke sekitar US$ 4.170 per ons pada awal perdagangan sesi Asia, Selasa (13/10/2026), setelah dolar Amerika Serikat (AS) menguat dan harga minyak mentah melonjak. Pelaku pasar menantikan data inflasi AS yang akan dirilis akhir pekan ini untuk memperkirakan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Penurunan tersebut terjadi setelah harga emas menyentuh level tertinggi dalam sepekan. Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi, sedangkan penguatan dolar AS membuat emas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut relatif lebih mahal bagi pembeli dari negara lain.
Baca Juga
Harga minyak mentah naik ke level tertinggi dalam dua pekan di tengah harapan tercapainya gencatan senjata di sektor energi antara Rusia dan Ukraina serta munculnya kembali serangan kelompok Houthi di Arab Saudi.
Analis komoditas Motilal Oswal Financial Services Ltd. Manav Modi mengatakan tekanan inflasi masih menjadi tantangan bagi pasar emas karena The Fed belum menutup peluang untuk memperketat kebijakan moneter.
“Kondisi makroekonomi tetap menantang karena tekanan inflasi yang terus-menerus membuat The Fed tetap membuka peluang untuk pengetatan kebijakan moneter tambahan, mendukung imbal hasil obligasi pemerintah dan mempertahankan tekanan pada suku bunga riil,” kata Modi dilansir FXStreet.
Imbal hasil riil merupakan imbal hasil investasi setelah memperhitungkan inflasi. Ketika imbal hasil riil meningkat, daya tarik emas cenderung melemah karena investor memiliki alternatif aset yang memberikan pendapatan.
Arus Dana ETF dan Pembelian China Menopang Emas
Di tengah tekanan dari dolar AS dan harga energi, permintaan investasi berpotensi membatasi penurunan harga emas. Arus dana masuk ke produk investasi yang diperdagangkan di bursa dan didukung emas atau exchange-traded fund (ETF) berbasis emas telah mencapai level tertinggi dalam empat tahun, menurut data yang dihimpun Bloomberg.
Baca Juga
Kilau Emas Berpadu Nada, Antam (ANTM) Dukung Ekonomi Kreatif Perjalanan Ungu
Arus masuk tersebut mencerminkan minat investor terhadap emas masih terjaga meskipun prospek suku bunga AS menjadi tantangan. ETF emas memungkinkan investor memperoleh eksposur terhadap pergerakan harga logam mulia tanpa harus membeli dan menyimpan emas fisik secara langsung.
Dukungan lain datang dari bank sentral China. Lembaga tersebut menambah cadangan emas sebanyak 740.000 ons pada September, memperpanjang tren pembelian menjadi 23 bulan berturut-turut.
