PMA, Kunci Batam Menjadi “Dubai Kecil” di Sumatera
Oleh: Prof. Didik J. Rachbini - Ekonom INDEF dan Rektor Universitas Paramadina
INVESTORTRUST - Ketika daya beli masyarakat melemah dan konsumsi tidak lagi cukup kuat menjadi lokomotif pertumbuhan, pemerintah harus berani mencari mesin ekonomi baru. Kebijakan ekonomi tidak boleh terjebak pada pendekatan inward looking yang terlalu bertumpu pada belanja sosial dan penggunaan APBN. Perlindungan sosial tentu penting dan merupakan bagian dari tanggung jawab negara. Namun, kebijakan sosial pada dasarnya berfungsi melindungi masyarakat dari tekanan ekonomi, bukan menggantikan investasi, ekspor, industrialisasi, produktivitas, dan penciptaan lapangan kerja sebagai sumber pertumbuhan.
Indonesia tidak mungkin mencapai pertumbuhan 7%-8% apabila hanya mengandalkan konsumsi domestik dan belanja pemerintah. Untuk tumbuh lebih tinggi, ekonomi harus semakin produktif, kompetitif dan terhubung dengan pasar dunia. Karena itu, investasi—terutama penanaman modal asing (PMA) berkualitas—dan ekspor harus kembali ditempatkan sebagai mesin utama pertumbuhan. Modal asing yang dibutuhkan bukan sekadar uang, melainkan investasi yang membawa teknologi, jaringan pasar, pengetahuan, produktivitas, dan kesempatan kerja baru.
Vietnam memberikan pelajaran yang menarik. Secara politik negara itu tetap berada dalam sistem komunis, tetapi kebijakan ekonominya bergerak semakin pragmatis dan berorientasi pasar. Negara mengambil peran kuat, namun investasi swasta dan asing diberikan ruang luas untuk berkembang. Vietnam agresif menarik industri global, membangun basis manufaktur ekspor dan masuk semakin dalam ke rantai pasok dunia. Kombinasi antara negara yang aktif dan mekanisme pasar inilah yang ikut menopang pertumbuhan ekonomi Vietnam yang tinggi.
Indonesia sebenarnya pernah menempuh jalan serupa. Pada pertengahan 1980-an, ketika pergolakan politik di Filipina berpuncak pada Revolusi EDSA dan menimbulkan ketidakpastian bagi dunia usaha, sebagian investasi mencari lokasi baru di Asia Tenggara. Manila pada waktu itu relatif lebih maju dibandingkan Jakarta, Hanoi dan banyak kota lain di kawasan. Namun, masalah di satu negara berubah menjadi peluang bagi negara lainnya.
Indonesia mampu menangkap momentum tersebut karena pada saat bersamaan pemerintah melakukan serangkaian reformasi struktural dan deregulasi. Perekonomian dibuat lebih terbuka dan berorientasi keluar. Hambatan perdagangan dikurangi, lingkungan investasi diperbaiki, ekspor didorong dan birokrasi yang menghambat arus barang mulai dibenahi. Sistem kepabeanan direformasi agar kegiatan ekspor-impor lebih lancar, sementara eksportir memperoleh dukungan melalui kredit, promosi perdagangan dan berbagai fasilitas pemerintah, termasuk melalui perwakilan Indonesia di luar negeri.
Hasilnya terlihat pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi dalam sebagian periode akhir 1980-an hingga sebelum krisis Asia 1997-1998. Indonesia tumbuh bersama negara-negara Asia yang sedang melakukan industrialisasi dan bahkan sempat mendapat julukan sebagai salah satu calon Asian Tiger. Pengalaman itu memberikan pelajaran penting: perekonomian yang sedang menghadapi persoalan berat dapat bangkit apabila pemerintah memilih kebijakan yang tepat, membuka ruang bagi investasi dan menjadikan ekspor sebagai sumber pertumbuhan.
Pelajaran sejarah tersebut kembali relevan hari ini. Dunia sedang menghadapi ketidakpastian geopolitik yang tinggi, terutama di Timur Tengah. Kawasan seperti Dubai, Abu Dhabi dan Qatar memang tidak sedang mengalami eksodus investasi besar-besaran. Infrastruktur, sistem keuangan dan posisi mereka sebagai pusat bisnis global tetap kuat. Namun, setiap peningkatan risiko geopolitik akan membuat investor internasional menghitung kembali konsentrasi aset dan melakukan diversifikasi geografis.
Indonesia harus mampu membaca perubahan itu sebagai peluang. Jika sebagian investor global mulai mencari lokasi alternatif atau tambahan di Asia, Indonesia harus berada di depan untuk menawarkannya. Dan di antara berbagai kawasan yang dimiliki Indonesia, Batam mempunyai posisi yang sangat istimewa.
Batam berada tepat di jalur perdagangan internasional dan hanya berjarak dekat dari Singapura, salah satu pusat keuangan, perdagangan, logistik dan teknologi terbesar dunia. Biaya pengembangan usaha relatif lebih kompetitif dibandingkan Singapura, sementara kawasan tersebut telah mempunyai basis industri, pelabuhan, tenaga kerja dan infrastruktur yang dibangun selama puluhan tahun. Kedekatan geografis dengan Singapura adalah keunggulan yang tidak mungkin dipindahkan ke daerah lain.
Karena itu, Batam dapat dan seharusnya diposisikan sebagai salah satu alternatif utama investasi Asia: aman, kompetitif, dekat Singapura dan terhubung dengan pasar internasional. Persoalannya bukan lagi apakah Batam memiliki potensi. Pertanyaannya adalah apakah pemerintah mampu memberikan kepastian hukum, regulasi yang konsisten, birokrasi yang cepat dan lingkungan usaha yang memberikan rasa aman kepada investor.
Batam bukan proyek ekonomi yang lahir kemarin. Sejak dekade 1970-an dan kemudian dikembangkan lebih intensif pada era Prof. B.J. Habibie, kawasan ini memang dirancang sebagai basis industri dan perdagangan yang memanfaatkan kedekatannya dengan Singapura. Dari sebuah pulau dengan penduduk relatif sedikit, Batam telah berkembang menjadi salah satu pusat industri penting Indonesia.
Namun, perkembangan tersebut masih jauh dari potensi sebenarnya. Kita dapat membandingkannya dengan Shenzhen. Kota di Tiongkok itu pada akhir 1970-an masih merupakan kawasan yang relatif kecil. Setelah dijadikan Zona Ekonomi Khusus dan memperoleh dukungan kebijakan yang konsisten, Shenzhen berubah menjadi pusat manufaktur, teknologi, perdagangan dan inovasi dunia.
Batam tentu tidak perlu meniru Shenzhen secara mentah. Kondisi politik, kelembagaan dan ekonomi Indonesia berbeda dengan Tiongkok. Tetapi ada satu pelajaran universal dari Shenzhen: kawasan ekonomi dapat melakukan lompatan luar biasa apabila pemerintah memberikan kepastian kebijakan, keterbukaan terhadap investasi, infrastruktur berkualitas serta ruang yang luas bagi dunia usaha untuk berkembang.
Batam sudah mempunyai sebagian besar modal dasar itu. Perekonomiannya tumbuh dinamis karena berinteraksi langsung dengan Singapura. Ketika ruang di Singapura semakin mahal dan terbatas, Batam memperoleh kesempatan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi yang lebih luas. Singapura tidak perlu dipandang sebagai pesaing Batam. Keduanya justru dapat saling melengkapi.
Singapura mempunyai modal, teknologi, jaringan keuangan, manajemen dan konektivitas global. Batam mempunyai lahan, tenaga kerja, ruang pengembangan industri dan struktur biaya yang lebih kompetitif. Jika hubungan tersebut dirancang secara tepat, Batam dapat menjadi basis produksi, teknologi dan ekonomi digital yang terhubung langsung dengan salah satu pusat ekonomi terbesar Asia.
Di sinilah gagasan menjadikan Batam sebagai “Dubai Kecil” di Sumatera menjadi relevan. Yang dimaksud tentu bukan membangun gedung pencakar langit seperti Dubai atau meniru model ekonominya secara harfiah. Esensinya adalah menjadikan Batam sebagai pusat investasi, perdagangan, teknologi, jasa dan ekonomi digital yang berorientasi internasional.
Momentum itu kini mulai terlihat dari derasnya investasi. Sepanjang 2025, investasi di Batam mencapai sekitar Rp69,3 triliun, sementara sektor digital sendiri menarik investasi sekitar Rp8,56 triliun. Pemerintah juga tengah mendorong Batam-Bintan-Karimun sebagai pusat industri hijau yang terhubung dengan kerja sama energi bersih Indonesia-Singapura.
Lebih menarik lagi adalah peluang masuknya investasi teknologi global ke Batam. Ekosistem data center, komputasi awan dan kecerdasan buatan berkembang sangat cepat seiring ledakan kebutuhan AI dunia. Singapura sudah menjadi salah satu pusat data center terbesar di Asia, tetapi menghadapi keterbatasan lahan, energi dan ruang ekspansi. Batam mempunyai peluang menjadi perluasan alami dari ekosistem tersebut.
Rencana pengembangan infrastruktur AI yang melibatkan Nvidia bersama perusahaan infrastruktur teknologi dan data center internasional harus dibaca dalam konteks yang lebih besar. Nilai investasi tentu penting, tetapi jauh lebih strategis adalah sinyal kepercayaan perusahaan teknologi global terhadap kelayakan Batam sebagai lokasi investasi berteknologi tinggi.
Dalam investasi terdapat apa yang dapat disebut sebagai efek demonstrasi. Ketika satu perusahaan global bereputasi tinggi masuk dan berhasil, keputusan tersebut menjadi referensi bagi investor lainnya. Saya menyebutnya dengan perumpamaan sederhana: jika kepala naga sudah masuk dan percaya, badan dan ekornya akan mengikuti.
Karena itu, satu investasi teknologi besar dapat menciptakan efek berantai jauh melampaui nilai modal awal. Pemasok akan datang, perusahaan pendukung tumbuh, kebutuhan tenaga ahli meningkat, infrastruktur diperbaiki, permintaan terhadap jasa profesional bertambah dan ekosistem bisnis berkembang. Dari sinilah sebuah kawasan industri dapat berubah menjadi pusat ekonomi baru.
Indonesia selama beberapa tahun terakhir sangat bergairah dengan hilirisasi sumber daya alam. Kebijakan itu penting karena Indonesia tidak boleh selamanya mengekspor mineral dan komoditas dalam bentuk bahan mentah. Namun, hilirisasi sumber daya alam saja tidak cukup untuk membawa Indonesia menjadi negara maju.
Indonesia juga membutuhkan hilirisasi teknologi dan pengetahuan. Kita membutuhkan investasi pada semikonduktor, kecerdasan buatan, data center, manufaktur maju, energi bersih, bioteknologi dan industri digital. Investasi seperti inilah yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus mengubah struktur perekonomian.
Karena itu, kualitas PMA sama pentingnya dengan jumlah investasi. Indonesia tidak perlu berbangga hanya karena angka investasi asing meningkat apabila modal yang masuk terkonsentrasi pada sektor bernilai tambah rendah atau kegiatan yang sebenarnya dapat dilakukan dengan baik oleh pengusaha domestik. PMA harus diarahkan terutama untuk membawa sesuatu yang belum kita miliki: teknologi, modal besar, pengetahuan, jaringan global dan akses pasar internasional.
Batam sangat tepat dijadikan laboratorium kebijakan untuk strategi tersebut. Secara geografis, keunggulannya sudah diberikan oleh alam. Batam berada berimpit dengan Singapura dan berada pada salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Secara kelembagaan, Batam juga memiliki fasilitas Free Trade Zone (FTZ), sementara Kawasan Ekonomi Khusus memberikan berbagai insentif fiskal dan kepabeanan sesuai ketentuan yang berlaku.
Tetapi investor global tidak hanya menghitung tax holiday. Investor menghitung kepastian hukum, konsistensi peraturan, kecepatan perizinan, kualitas listrik, air dan telekomunikasi, ketersediaan tenaga terampil, keamanan data serta kepastian penyelesaian sengketa. Insentif pajak tidak akan banyak berarti apabila aturan mudah berubah atau birokrasi membuat biaya investasi menjadi mahal.
Di sinilah pemerintah harus berani membuat terobosan. Tidak semua wilayah harus memperoleh prioritas yang sama pada waktu yang sama. Pilih beberapa kawasan yang mempunyai peluang terbesar untuk mencapai skala internasional, kemudian fokuskan kebijakan, infrastruktur dan pelayanan investasi ke sana. Batam adalah salah satu kandidat terkuat.
Batam harus dinaikkan kelasnya dari sekadar kawasan industri regional menjadi proyek nasional untuk menarik investasi global berteknologi tinggi. Jadikan Batam pintu masuk modal dari Asia, Timur Tengah, Australia dan kawasan lain yang membutuhkan basis produksi serta teknologi di Asia Tenggara.
Momentum geopolitik tidak akan berlangsung selamanya. Ketika investor melakukan diversifikasi, mereka akan memilih negara yang paling siap. Jika Indonesia lambat, modal tersebut akan masuk ke Vietnam, Malaysia, Thailand atau negara lain yang menawarkan kepastian dan kemudahan lebih baik.
Karena itu, peluang Batam harus segera diwujudkan. Jangan hanya berhenti pada seminar, rencana induk dan penandatanganan nota kesepahaman. Pastikan investasi benar-benar masuk, proyek dibangun, teknologi dibawa, tenaga kerja Indonesia dilatih dan industri pendukung tumbuh.
Batam sudah mempunyai modal untuk go global. Lokasinya strategis, infrastrukturnya berkembang, hubungan ekonominya dengan Singapura semakin kuat, dan investor teknologi dunia mulai melihat potensinya. Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian pemerintah menjadikan Batam sebagai salah satu pusat kebijakan investasi nasional.
Jika kepastian hukum dijaga, birokrasi dibenahi, infrastruktur disiapkan dan PMA berkualitas tinggi diberi ruang berkembang, Batam tidak lagi sekadar menjadi kawasan industri di pinggir Singapura. Batam dapat menjadi “Dubai Kecil” di Sumatera—pusat investasi, teknologi, perdagangan dan ekonomi digital Indonesia yang terhubung langsung dengan dunia.
Batam, 29 September 2026
