Indonesia Open Network Gelar ION Build, Tawarkan Infrastruktur Pasar Digital Inklusif bagi UMKM
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Ekosistem digital commerce di Indonesia bersiap memasuki babak baru. Indonesia Open Network (ION) menggelar workshop ION Build di Garuda Spark Innovation Hub, Senayan, Jakarta, pada Jumat (2/10/2026). Langkah strategis ini dihadiri oleh ratusan wirausahawan teknologi (technical entrepreneurs), founder startup, serta pelaku UMKM dari berbagai sektor.
Kehadiran ION bertujuan untuk mendobrak sistem pasar digital tertutup (platform-centric) yang selama ini didominasi oleh segelintir raksasa e-commerce, moda transportasi, dan layanan digital lainnya. Lewat protokol terbuka (open network), ION menawarkan infrastruktur bersama yang menghubungkan pembeli, penjual, hingga penyedia jasa pendukung secara langsung dan berbiaya lebih efisien.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, menekankan pentingnya keterhubungan terbuka bagi masa depan pelaku usaha nasional. Dalam sambutannya, ia menyoroti bahwa peluang bisnis masa kini tidak lagi bisa diciptakan secara sendirian.
"Bagi startup, keterhubungan yang lebih terbuka dapat membuka akses terhadap pelanggan baru, partner baru, kemampuan baru, bahkan peluang untuk menciptakan bisnis baru. Kita perlu membangun ekosistem di mana semakin banyak pelaku usaha besar maupun kecil, di Jakarta maupun di daerah, memiliki kesempatan untuk tumbuh karena mereka bisa terhubung dengan peluang yang lebih luas," ujar Shinta dalam sambutan yang disampaikan secara virtual.
Gagasan open network ini diadaptasi dari kesuksesan Open Network for Digital Commerce (ONDC) di India yang diluncurkan sejak 2022. Chief Executive Officer (CEO) ONDC sekaligus Komisaris ION, Thampy Koshy, mengungkapkan bahwa model pasar digital tertutup saat ini kerap mengimpit keberlangsungan UMKM dan pemain lokal.
"Di dunia transaksi digital saat ini, terjadi sentralisasi yang luar biasa masif. Pelaku kecil bertumbangan. Platform besar cenderung hanya membesarkan segelintir merek raksasa agar meraup komisi lebih tinggi," tegas Koshy.
Ia membandingkannya dengan ekosistem jaringan terbuka yang menganut konsep dasar seperti protokol HTML di internet. Dengan interoperable protocol, penjual dari daerah mana pun cukup mengunggah katalognya satu kali tanpa harus melakukan integrasi rumit dan mahal ke setiap platform besar satu per satu.
"Protokol terbuka membesarkan imajinasi Anda untuk menghasilkan uang dari keahlian terbaik Anda. Keuntungan besar bagi Indonesia adalah Anda bisa langsung belajar dari pengalaman dan kesalahan kami di India tanpa harus mengulanginya," tambah Koshy.
Baca Juga
PT ION Resmi Berdiri, Menjadi 'Digital Public Infrastructure'
Bukan Platform, Tapi Infrastruktur
Sementara itu CEO Indonesia Open Network (ION), Bayu Prawira Hie, meluruskan pemahaman publik yang kerap menganggap ION sebagai sebuah aplikasi atau platform e-commerce baru.
"Orang sering bilang ini platform, padahal sesungguhnya kita adalah infrastruktur di bawah platform. Platform seperti Tokopedia pun bisa menggunakan Indonesia Open Network," jelas Bayu.
Bayu mengaitkan konsep open network ini dengan perbedaan antara jalan tol tertutup dan jalan raya publik. Jika jalan tol dikuasai oleh satu pengelola yang mengatur tarif, gerbang, dan persewaan rest area, maka jalan raya umum memberikan kebebasan akses bagi siapa saja untuk melintas dan berbisnis secara terbuka sesuai aturan keselamatan.
"Open Network ini menyatukan antara penjual dan pembeli. Penjual senang karena bisa bertemu lebih banyak pembeli, pembeli pun senang karena mendapat pilihan barang dan harga yang jauh lebih beragam. Layanan pendukung seperti logistik hingga keamanan pun bisa langsung terhubung (plug-in) menggunakan algoritma dan standar perjanjian yang rasional," ungkapnya.
Acara ION Build ini diharapkan mampu memicu lahirnya berbagai ide serta model bisnis baru yang lebih inklusif dan efisien di tanah air, membebaskan pelaku UMKM dari jerat beban biaya onboarding, iklan wajib, hingga komisi platform yang tinggi.
