Meski Turun, Harga Emas Bertahan Dekat Level Tertinggi 3 Bulan karena Dolar AS Melemah
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas bergerak turun tipis pada Selasa (25/8/2026), tetapi tetap bertahan di dekat level tertinggi dalam lebih dari 3 bulan. Pelemahan dolar AS dan rencana Departemen Keuangan AS membeli kembali obligasi pemerintah menjadi penopang harga logam mulia tersebut.
Harga emas spot turun 0,1% menjadi US$ 4.647,05 per ons. Level tersebut masih berada di dekat posisi tertinggi sejak pertengahan Mei. Kinerja emas sepanjang Agustus juga menunjukkan penguatan tajam. Logam mulia naik lebih dari 15% sejak awal bulan, dengan UOB memperkirakan emas berada di jalur menuju kenaikan bulanan terkuat sejak September 1999.
Baca Juga
Pembentukan Indonesia Bullion Market Association (IBMA) Berpotensi Perkuat Ekosistem Emas Nasional
Sementara itu, harga emas berjangka naik tipis menjadi US$ 4.694,50 per ons berada di dekat level tertinggi dalam tiga bulan terakhir.
Indeks dolar AS telah turun 0,8% sepanjang Agustus. Pergerakan tersebut memberikan ruang bagi emas untuk mempertahankan kenaikannya meski pasar masih mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Selain pergerakan dolar, imbal hasil obligasi Pemerintah AS yang lebih rendah juga mendukung emas. Imbal hasil yang lebih rendah mengurangi biaya peluang bagi investor ketika memilih emas yang tidak memberikan bunga dibandingkan aset berbasis obligasi.
Imbal hasil obligasi Pemerintah AS memang sempat berada di level tinggi hampir sepanjang Agustus. Namun, rencana Pemerintah AS untuk membeli kembali obligasi telah membantu menahan kenaikan imbal hasil, yang tercatat turun 3 basis poin sepanjang bulan ini. Kebijakan pembelian kembali obligasi menjadi perhatian pasar karena dapat memengaruhi kondisi likuiditas dan pergerakan imbal hasil di pasar surat utang AS.
Investor Tunggu Sinyal The Fed
Perhatian investor selanjutnya tertuju pada pidato Ketua Federal Reserve AS Warsh menjelang Simposium Jackson Hole pada akhir pekan ini. Pasar mencari petunjuk mengenai arah suku bunga AS dan kebijakan moneter berikutnya.
Baca Juga
Prospek Emas hingga Hilirisasi Menguat, Saham Antam (ANTM) Layak Dibeli dengan Target Harga Ini
Sikap Warsh yang lebih hawkish atau cenderung mempertahankan kebijakan suku bunga ketat berpotensi mengurangi momentum kenaikan emas. Sementara itu, sinyal dovish yang menunjukkan ruang pelonggaran kebijakan moneter dapat kembali meningkatkan minat terhadap emas.
Citi dalam catatannya memperkirakan kejutan bernada dovish di Jackson Hole akan menjadi katalis positif bagi emas. Pasar tidak hanya akan meningkatkan ekspektasi terhadap penurunan suku bunga Federal Reserve, tetapi juga dapat kembali memperhatikan pelemahan nilai dolar di tengah kekhawatiran mengenai independensi bank sentral dan keberlanjutan utang pemerintah AS.
