Gorontalo Bidik Hilirisasi Jepang, Awina-SSHD-UNG Satukan Teknologi dan Riset
Poin Penting
|
GORONTALO, investortrust.id – Space Seed Holdings Co., Ltd. (SSHD), PT Awina Sinergi International, dan Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan Universitas Negeri Gorontalo (FKTP UNG) menjalin kerja sama tiga pihak untuk mendorong hilirisasi komoditas pertanian dan perikanan di Gorontalo melalui pemanfaatan teknologi pangan, fermentasi, dan bioteknologi Jepang.
Kerja sama tersebut dituangkan dalam Perjanjian Kerja Sama di Bidang Penelitian, Pengembangan Sumber Daya Manusia, dan Hilirisasi di Bidang Agribisnis dan Pengelolaan Manajemen Sumber Daya Perikanan Berkelanjutan, yang ditandatangani di FKTP UNG, Kota Gorontalo, Senin (10/08/2026). Dalam siaran pers yang dikirim Ananda Setiyo Ivannanto, Direktur Utama PT Awina Sinergi International disebutkan, kerja sama tersebut dirancang untuk mempertemukan kemampuan teknologi dan bioteknologi Jepang dengan kapasitas akademik serta pemahaman lapangan Universitas Negeri Gorontalo. Kolaborasi itu diharapkan meningkatkan nilai tambah sumber daya lokal yang selama ini sebagian besar masih keluar dari daerah dalam bentuk bahan mentah.
Provinsi Gorontalo dikenal sebagai salah satu sentra produksi jagung dan kelapa, sekaligus mempunyai sumber daya perikanan seperti tuna dan cumi. Namun, terbatasnya pengolahan di tingkat daerah menyebabkan sebagian nilai ekonomi dari komoditas tersebut dinikmati di luar daerah setelah masuk ke proses pengolahan berikutnya.
Ketiga pihak melihat hilirisasi sebagai jalan untuk menahan lebih banyak nilai tambah di Gorontalo. SSHD akan membawa keahlian di bidang teknologi pangan, fermentasi dan bioteknologi, sementara Awina berperan menghubungkan teknologi tersebut dengan ekosistem industri dan proyek di Indonesia. FKTP UNG menyediakan kapasitas akademik, tenaga peneliti, mahasiswa, fasilitas laboratorium, serta jaringan lapangan di sektor kelautan dan perikanan.
Direktur Utama dan CEO Space Seed Holdings, Kengo Suzuki, mengatakan hilirisasi dibutuhkan agar nilai ekonomi kelapa, jagung, dan sumber daya perikanan Gorontalo tidak seluruhnya tercipta setelah komoditas meninggalkan daerah tersebut.
“Gorontalo memiliki kelapa, jagung, dan sumber daya perikanan di teluknya. Namun, jika komoditas tersebut keluar dari provinsi ini dalam bentuk mentah, nilai yang seharusnya tercipta dari proses pengolahan tidak akan pernah tertinggal di sana,” kata Suzuki dalam siaran pers tersebut.
Menurut dia, teknologi pangan dan bioteknologi Jepang, termasuk fermentasi, dapat digunakan untuk meningkatkan nilai tambah produk sebelum komoditas meninggalkan daerah asalnya. SSHD juga mengembangkan model ekonomi sirkular dengan memanfaatkan residu dari proses pengolahan menjadi pakan maupun bahan baku baru.
Baca Juga
Peringati HUT ke-70, Gobel Group Siap Kolaborasi Bangun Pariwisata Gorontalo
Suzuki menekankan bahwa keberlanjutan hilirisasi tidak cukup hanya dibangun melalui investasi peralatan atau kontrak bisnis. Keterlibatan universitas dinilai penting untuk menyiapkan sumber daya manusia dan membangun basis penelitian yang dapat menopang industri dalam jangka panjang.
“Mahasiswa yang turun langsung ke lapangan, dosen yang menjadi pelaku utama riset internasional—hanya ketika siklus ini terbentuk, hilirisasi akan menjadi industri daerah yang berkelanjutan, bukan sekadar proyek sesaat,” ujarnya.
Sementara itu, Ananda Setiyo Ivannanto, Direktur Utama PT Awina Sinergi International, mengatakan persoalan selama ini bukan semata-mata ketersediaan teknologi maupun permintaan pasar antara Indonesia dan Jepang, melainkan masih terbatasnya jalur yang menghubungkan teknologi tersebut dengan kondisi lapangan.
“Teknologi dan permintaan sudah ada di antara Jepang dan Indonesia. Yang selama ini kurang adalah jalur penghubung ke lapangan,” kata Ananda.
Menurut dia, Awina selama ini berperan sebagai penghubung kerja sama Indonesia-Jepang terutama pada bidang energi terbarukan, pengelolaan limbah dan ekonomi sirkular. Masuknya Universitas Negeri Gorontalo dalam kerja sama diharapkan membuat pengembangan bisnis tetap berakar pada kebutuhan masyarakat serta kondisi sumber daya setempat.
Dekan FKTP UNG Prof. Dr. Ir. Yuniarti Koniyo, MP mengatakan kerja sama tersebut sekaligus membuka akses lebih luas bagi mahasiswa dan dosen untuk terlibat dalam kegiatan riset, pengembangan teknologi dan kerja sama internasional.
“Laut dan lahan pertanian Gorontalo menyimpan potensi besar, baik secara akademik maupun industri. Kami ingin bersama kedua mitra ini membangun jalan agar hasil riset tidak berhenti pada publikasi semata, tetapi juga kembali kepada kehidupan masyarakat pesisir, petani, dan nelayan di Teluk Tomini dan wilayah sekitarnya,” kata Yuniarti.
Perjanjian kerja sama berlaku selama lima tahun sejak tanggal penandatanganan dan dapat diperpanjang berdasarkan kesepakatan tertulis ketiga pihak.
Ruang lingkup kolaborasi mencakup penelitian dan pengembangan hilirisasi kelapa, jagung serta komoditas unggulan daerah lainnya. Kerja sama juga mencakup riset perikanan tangkap, budidaya, pengelolaan ekosistem pesisir, pertukaran data dan hasil penelitian, hingga publikasi ilmiah bersama.
Di bidang pengembangan sumber daya manusia, mahasiswa FKTP UNG akan memperoleh peluang mengikuti program magang, praktik lapangan dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik. Program tersebut juga meliputi peningkatan kapasitas dosen dan kesempatan terlibat dalam penelitian internasional.
Ketiga pihak juga akan menyiapkan pengajuan hibah riset kolaboratif internasional, termasuk kemungkinan memanfaatkan skema Science and Technology Research Partnership for Sustainable Development (SATREPS).
Kerja sama tersebut tidak hanya diarahkan pada penelitian. SSHD, Awina, dan FKTP UNG juga menargetkan kegiatan pemberdayaan masyarakat pesisir, petani dan nelayan serta penciptaan peluang kerja bagi lulusan universitas dalam ekosistem usaha yang dikembangkan SSHD dan Awina.
SSHD akan berfungsi sebagai mitra strategis internasional yang menyediakan dukungan teknis dan keahlian riset. Awina akan menghubungkan SSHD, universitas, lokasi proyek dan mitra industri sekaligus mengoordinasikan kegiatan operasional. Sementara FKTP UNG menyediakan tenaga akademik, mahasiswa, fasilitas penelitian dan dukungan kegiatan lapangan.
Kolaborasi itu juga dirancang agar mempunyai hubungan langsung dengan Indikator Kinerja Utama (IKU) Perguruan Tinggi, mulai dari penyerapan lulusan, aktivitas mahasiswa, rekognisi internasional dosen, kerja sama industri dan hilirisasi, publikasi internasional hingga kontribusi terhadap Sustainable Development Goals (SDGs).
Secara khusus, program tersebut diarahkan mendukung SDG 2 atau Tanpa Kelaparan serta SDG 14 atau Ekosistem Lautan.
Dalam tahap berikutnya, ketiga institusi akan menyusun perjanjian pelaksanaan yang lebih rinci mengenai jenis kegiatan, target waktu, penanggung jawab dan pembagian biaya. Program penelitian bersama dan pengembangan sumber daya manusia akan mulai disiapkan bersamaan dengan penjajakan pendanaan riset internasional.
Suzuki mengatakan kolaborasi di Gorontalo juga mempunyai keterkaitan dengan visi teknologi jangka panjang SSHD mengenai sistem produksi yang mampu mengelola sumber daya secara sirkular dan meminimalkan limbah.
“Memproduksi pangan dalam lingkungan tertutup dan tidak menyia-nyiakan apa pun yang dihasilkan—teknologi yang kami yakini akan dibutuhkan di luar angkasa ternyata berbagi pertanyaan yang hampir sama dengan teknologi yang dibutuhkan hari ini di daerah penghasil di bumi,” katanya.
Penandatanganan pada 10 Agustus 2026 dihadiri antara lain Kengo Suzuki, Ananda Setiyo Ivannanto, Dekan FKTP UNG Yuniarti Koniyo, Wakil Dekan Bidang Akademik Sri Nuryatin Hamzah, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Rieny Sulistijowati, Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan Lukman Mile, serta jajaran dosen dan pengelola kerja sama FKTP UNG, Ketua Komite Kerja Sama dan Indikator Kinerja Utama (IKU) Dewi Nuryanti Fazrin, dan Dosen Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Arfiani Rizki Paramata.

