Elnusa (ELSA) Ungkap Peran Laboratorium dalam Dukung Lifting Minyak 1 Juta Barel 2029
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - PT Elnusa Tbk (ELSA), perusahaan jasa energi terintegrasi, anak usaha Pertamina Hulu Energi (PHE) sebagai subhoding upstream Pertamina (Persero), mengandalkan riset laboratorium dan inovasi teknologi untuk mendukung peningkatan produksi minyak nasional yang ditargetkan 1 juta barel per hari pada 2029. Inovasi tersebut mencakup teknologi pemboran, peningkatan pengangkatan minyak dari lapangan tua, hingga alogistik energi.
Head R&D Elnusa Group Rustanto Setiawan mengatakan proses produksi minyak jauh lebih kompleks daripada yang terlihat ketika masyarakat mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Sebelum minyak menjadi bensin, solar, avtur, dan produk lainnya, terdapat rangkaian kegiatan mulai eksplorasi, pemboran, pengangkatan minyak mentah, hingga pengolahan di kilang.
Baca Juga
Elnusa (ELSA) Kembangkan Pertapixel, Bidik Digitalisasi Aset Lintas Industri
“Jadi saya mulai dengan jasa di Elnusa, kita ada jasa seismik. Kita bisa mengetahui di bawah tanah kita itu ada minyak apa enggak,” ujar Rustanto dalam dalam wawancara.kepada Investortrust.id saat mediua visit Lab Chemical Elnusa Group di Sentul, Bogor, Jumat (14/8/2026).
Menurut dia, kegiatan eksplorasi menjadi tahap awal untuk mengetahui potensi hidrokarbon di bawah permukaan. Ketika suatu wilayah menunjukkan potensi, proses kemudian berlanjut ke pemboran untuk membuat jalur yang memungkinkan minyak diangkat ke permukaan. Pada tahap pemboran, tekanan di dalam lubang bor harus dikendalikan agar lubang tetap stabil. Kondisi batuan dan tekanan bawah permukaan juga membutuhkan formulasi fluida pemboran yang sesuai.
"Elnusa melalui kegiatan risetnya mengembangkan formulasi fluida tersebut agar proses pemboran dapat berlangsung secara aman dan efektif," kata Rustanto.
Tantangan berikutnya muncul ketika minyak sudah berada di dalam formasi batuan. Pengangkatan minyak mentah ke permukaan tidak selalu mudah karena karakteristik setiap reservoir berbeda.
“Tidak semudah kita nyedot boba dari minuman kita, banyak kompleksitasnya mulai ada yang terlalu kental atau minyaknya bercampur sama air atau kompleksitas lain,” kata Rustanto.
Dia mengataka, laboratorium Elnusa melakukan penelitian dan pengujian untuk mencari formulasi yang dapat membantu proses pengangkatan minyak sekaligus memisahkannya dari berbagai campuran senyawa.
Kebutuhan tersebut semakin penting pada lapangan minyak yang sudah berusia tua. Rustanto menggambarkan kondisi reservoir tua, seperti spons yang sebelumnya masih penuh dengan air. Ketika sebagian besar kandungan sudah terambil, minyak yang tersisa menjadi lebih sulit dikeluarkan. “Nah laboratorium ini mendesain bagaimana supaya fluida yang terjebak di antara pori-pori spons tadi untuk bisa kita keluarkan, kita pisahkan minyak dengan batuannya,” ujarnya.
Melalui serangkaian penelitian dan pengujian, tim laboratorium mengembangkan formulasi kimia untuk membantu melepaskan minyak yang masih terperangkap di dalam batuan sehingga dapat diangkat ke permukaan. “Jadi memang core penelitian dan riset adanya di ruangan kecil ini. Ruangan kecil, ide-idenya besar,” kata Rustanto.
Tak Hanya Angkat Minyak, Elnusa Jaga Lingkungan
Riset Elnusa tidak hanya diarahkan pada peningkatan produksi. Perusahaan juga mengembangkan solusi untuk menghadapi risiko lingkungan dalam kegiatan migas, termasuk ketika terjadi tumpahan minyak.
Rustanto mengatakan penanganan tumpahan minyak membutuhkan pendekatan khusus karena minyak yang berada di permukaan laut tidak dapat ditangani hanya dengan cara mengambilnya satu per satu.
Elnusa mengembangkan produk dispersan tumpahan minyak atau oil spill dispersant yang digunakan untuk membantu memecah dan menyebarkan lapisan minyak sehingga proses degradasi secara alami dapat berlangsung lebih efektif. “Jadi kami bukan hanya tentang lifting, produksi, tapi kami juga bertanggung jawab bagaimana sisi lingkungan ketika ada mitigasi risiko adanya tumpahan minyak di atas, di tengah lautan,” ujarnya.
Menurut dia, pendekatan tersebut menunjukkan bahwa teknologi jasa energi tidak hanya berkaitan dengan bagaimana minyak diproduksikan, tetapi juga kegiatan operasional memperhatikan aspek lingkungan dalam seluruh rantai proses.
Setelah minyak mentah berhasil diproduksikan, komoditas tersebut kemudian diproses di kilang menjadi berbagai produk seperti bensin, solar, avtur, dan produk turunan lainnya. Produk yang sudah diolah selanjutnya membutuhkan jaringan logistik agar dapat didistribusikan ke masyarakat.
Melalui PT Elnusa Petrofin, anak usaha Elnusa yang bergerak dalam jasa logistik dan distribusi energi, perusahaan juga menangani pengiriman berbagai produk bahan bakar dari kilang hingga titik distribusi, khususnya di luar Jawa.
Siap Dukung Target 1 Juta Barel
Pengembangan teknologi tersebut juga diarahkan untuk mendukung target pemerintah meningkatkan produksi minyak nasional. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menargetkan produksi minyak Indonesia mencapai 1 juta barel per hari pada 2029.
Baca Juga
Laba Elnusa (ELSA) Melesat 29%, Begini Target Semester II-2026
Rustanto mengatakan Elnusa siap berkontribusi terhadap target tersebut melalui berbagai kemampuan yang dimiliki perusahaan, mulai dari pengembangan bahan kimia, teknologi laboratorium hingga jasa logistik.
“Betul, kami siap sekali mendukung program Asta Cita Pak Prabowo dengan 1 juta barrel per day, dengan segala tantangannya, dengan segala challengingnya dari segala pihak kami siap mensupport,” kata Rustanto.
Dia mengatakan Elnusa juga terbuka untuk mengembangkan produk dan solusi baru sesuai kebutuhan lapangan. Pengembangan tersebut dapat dilakukan melalui kolaborasi untuk menjawab tantangan produksi di lapangan migas. “Baik dari sisi kemikal, logistik atau sisi apa pun, kami siap berkolaborasi dan mengembangkan produk apa pun untuk bisa mendukung program tersebut,” ujarnya.

