Geotermal Flores: Jika Menolak, Apa Solusinya?
Oleh: Primus Dorimulu
INVESTORTRUST — Perdebatan mengenai pembangunan panas bumi atau geotermal di Flores tidak seharusnya berhenti pada pertanyaan tentang siapa yang paling berhak berbicara mengenai tanah, lingkungan, adat, dan pembangunan. Semua itu penting. Suara masyarakat harus didengar, mata air harus dilindungi, tanah adat harus dihormati, keselamatan warga harus dijamin, dan setiap proyek wajib tunduk pada kaidah lingkungan serta tata kelola yang benar. Namun, ada pertanyaan lain yang jauh lebih mendasar dan justru belum mendapat tempat yang memadai dalam perdebatan tersebut, yakni bagaimana masyarakat Flores dapat keluar dari kemiskinan, memperoleh listrik yang andal, dan menikmati pasokan energi yang cukup untuk membangun kehidupan yang lebih sejahtera.
Di banyak wilayah Flores, kemiskinan masih menjadi persoalan yang nyata. Lapangan kerja terbatas, industrialisasi belum berkembang, dan nilai tambah hasil pertanian maupun perikanan masih rendah. Persoalan energi ikut memperberat keadaan itu. Listrik belum selalu andal, sementara pasokan BBM pada waktu-waktu tertentu dapat terganggu. Dalam kondisi seperti ini, perdebatan mengenai geotermal tidak cukup hanya dibingkai sebagai benturan antara pengetahuan teknokratik dan pengetahuan lokal. Filsafat pembangunan memang penting, tetapi pembangunan pada akhirnya harus menjawab persoalan yang sangat konkret: apakah rumah tangga memperoleh listrik yang stabil, apakah nelayan dapat menyimpan ikan dalam cold storage, apakah petani bisa mengolah hasil panen di daerahnya sendiri, apakah usaha kecil dapat berproduksi, dan apakah anak-anak Flores memiliki kesempatan hidup yang lebih baik daripada generasi sebelumnya.
Karena itu, pertanyaan mendasar yang harus dijawab adalah dari mana energi Flores akan berasal. Selama ini Flores belum memiliki sumber energi fosil sendiri dalam jumlah yang memadai untuk menopang seluruh kebutuhan masyarakat dan perekonomiannya. BBM harus didatangkan dari luar pulau. Bahan bakar untuk sebagian pembangkit listrik juga bergantung pada pasokan dari luar daerah. Artinya, kegiatan ekonomi Flores sangat tergantung pada rantai distribusi energi yang panjang dan mahal. Ketika distribusi terganggu, dampaknya segera terasa pada masyarakat.
Negara selama ini hadir untuk meringankan beban tersebut melalui subsidi BBM dan tarif listrik yang tidak sepenuhnya mencerminkan biaya penyediaan energi di wilayah kepulauan. Masyarakat Flores tentu berhak menikmati subsidi itu karena mereka adalah warga negara Indonesia. Namun, subsidi tidak dapat menjadi jawaban jangka panjang. Subsidi dapat menahan harga dan meringankan beban rumah tangga, tetapi tidak menciptakan sumber energi baru di Flores. Ketergantungan terhadap pasokan dari luar akan terus berlangsung selama Flores tidak membangun sumber energi yang berasal dari kekayaan alamnya sendiri.
Dalam konteks inilah geotermal perlu dilihat secara lebih jernih. Flores berada di kawasan Ring of Fire dan memiliki potensi panas bumi yang besar. Selama ini kondisi geologis tersebut lebih sering dilihat sebagai sumber ancaman karena gunung berapi dapat meletus dan gempa bumi dapat terjadi. Namun, alam yang sama juga menyediakan energi yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat. Pertanyaannya bukan semata-mata apakah panas bumi harus dieksploitasi, melainkan apakah sumber daya itu dapat dikelola secara bertanggung jawab untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Flores.
Tentu saja pembangunan geotermal tidak boleh dilakukan dengan mengabaikan masyarakat. Pemerintah dan perusahaan tidak boleh memandang setiap keberatan warga sebagai bentuk ketidaktahuan atau penolakan terhadap kemajuan. Kekhawatiran mengenai mata air, lahan pertanian, hutan, ruang adat, keselamatan, dan kehidupan sosial harus ditanggapi secara serius. Dalam hal ini, kritik Felix Baghi penting: pengetahuan masyarakat lokal tidak boleh dianggap lebih rendah daripada pengetahuan teknis yang dimiliki pemerintah, konsultan, atau perusahaan.
Petani yang hidup selama puluhan tahun di suatu kawasan tentu memiliki pengalaman mengenai perubahan debit mata air. Masyarakat memahami tanah yang menjadi sumber kehidupannya. Tetua adat mengetahui kawasan yang mempunyai arti sejarah, budaya, dan spiritual. Pengetahuan semacam itu harus masuk dalam pengambilan keputusan. Namun, penghormatan terhadap pengetahuan lokal tidak berarti pengetahuan ilmiah harus ditolak. Keduanya justru harus dipertemukan.
Jika masyarakat menyampaikan kekhawatiran bahwa pengeboran dapat mengganggu mata air, ahli hidrogeologi wajib memeriksanya secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan. Jika terbukti terdapat risiko besar, lokasi atau rancangan proyek harus diubah. Jika suatu kawasan mempunyai nilai adat yang tidak tergantikan, pemerintah harus mencari pilihan lain. Jika masyarakat kehilangan tanah atau sumber penghidupan, harus ada perlindungan, ganti rugi yang adil, serta manfaat ekonomi yang nyata. Tetapi prinsip yang sama berlaku sebaliknya. Klaim bahwa seluruh pembangunan geotermal pasti merusak lingkungan juga harus dapat diuji secara ilmiah.
Dengan demikian, dialog yang sehat bukanlah mengganti dominasi teknokrat dengan dominasi pandangan lokal. Kebenaran tidak boleh dimonopoli pemerintah, tetapi juga tidak boleh dimonopoli oleh siapa pun yang menentang pemerintah. Semua klaim harus diuji, semua risiko harus dibuka, dan semua kepentingan harus dipertemukan secara jujur.
Masalah besar muncul ketika penolakan terhadap geotermal tidak disertai alternatif yang jelas. Jika panas bumi tidak boleh digunakan, dari mana Flores akan mendapatkan energi? Apakah Flores harus terus bergantung pada solar dan BBM yang didatangkan dari luar pulau? Jika demikian, Flores akan terus terpapar risiko distribusi, fluktuasi harga minyak, dan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Apakah pilihannya batu bara? Flores tidak mempunyai sumber batu bara yang dapat menopang kebutuhan listriknya sehingga bahan bakar itu pun harus didatangkan dari daerah lain. Selain itu, batu bara menimbulkan emisi dan dampak lingkungan yang juga besar.
Energi matahari tentu harus dikembangkan seluas mungkin di Flores. Potensinya besar dan teknologinya semakin murah. Namun, pembangkit surya tidak menghasilkan listrik pada malam hari dan produksinya menurun ketika cuaca tidak mendukung. Agar mampu memasok listrik sepanjang waktu, dibutuhkan baterai berskala besar atau pembangkit lain sebagai penyeimbang. Energi angin juga layak dikembangkan pada lokasi yang sesuai, tetapi produksinya tetap tergantung pada kondisi alam.
Karena itulah sistem energi yang sehat tidak harus memilih satu sumber dan menolak yang lain. Flores dapat mengembangkan energi surya, angin, hidro, dan panas bumi secara bersamaan. Dalam komposisi seperti itu, geotermal memiliki kelebihan penting karena dapat menghasilkan listrik secara relatif stabil selama 24 jam dan berfungsi sebagai sumber listrik dasar. Energi surya dan angin dapat melengkapinya. Pilihan yang rasional bukan geotermal atau energi terbarukan lainnya, melainkan geotermal bersama energi terbarukan lainnya.
Namun, energi bukan tujuan akhir. Energi hanyalah sarana. Tujuan sesungguhnya adalah kesejahteraan masyarakat. Inilah aspek yang sering hilang dari perdebatan mengenai geotermal di Flores. Listrik yang cukup dan andal dapat mengubah struktur ekonomi sebuah daerah. Nelayan tidak perlu menjual ikan dengan tergesa-gesa ketika kapal tiba di pantai karena tersedia pabrik es dan cold storage. Hasil tangkapan dapat disimpan, diproses, dan dijual ketika harga lebih baik. Petani kopi tidak hanya menjual biji mentah, tetapi dapat mengolahnya di Flores. Kakao, kelapa, kemiri, mete, buah-buahan, hasil peternakan, dan berbagai komoditas lainnya dapat memperoleh nilai tambah sebelum dikirim ke luar daerah.
Listrik yang andal juga memungkinkan usaha kecil bekerja lebih lama, hotel dan sektor pariwisata berkembang, rumah sakit mengoperasikan peralatan medis dengan lebih aman, sekolah memanfaatkan teknologi digital, dan desa membangun industri pengolahan. Dengan energi yang memadai, Flores tidak harus terus menjadi pemasok bahan mentah dan tenaga kerja bagi wilayah lain. Anak-anak muda Flores dapat memperoleh lebih banyak kesempatan untuk bekerja dan berusaha di daerahnya sendiri.
Di sinilah hubungan antara energi dan kemiskinan menjadi sangat jelas. Tidak ada industrialisasi tanpa energi. Tidak ada cold storage tanpa listrik. Tidak ada pabrik pengolahan hasil pertanian tanpa pasokan energi yang andal. Tidak ada rumah sakit modern, hotel, industri pariwisata, ekonomi digital, atau usaha produktif yang dapat tumbuh tanpa listrik. Karena itu, geotermal tidak seharusnya dilihat semata-mata sebagai proyek pembangkit listrik. Jika dirancang dengan benar, ia dapat menjadi bagian dari strategi besar untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan produktivitas ekonomi Flores.
Tugas pemerintah, karena itu, bukan sekadar membangun pembangkit. Pemerintah harus memastikan bahwa kekayaan energi Flores benar-benar memberi manfaat pertama dan terbesar kepada masyarakat Flores. Desa-desa di sekitar proyek harus menikmati pasokan listrik yang lebih baik. Infrastruktur jalan, air, pendidikan, dan kesehatan harus diperkuat. Anak-anak lokal harus memperoleh pendidikan dan pelatihan agar dapat bekerja sebagai teknisi, insinyur, operator, maupun tenaga profesional. UMKM lokal harus masuk ke dalam rantai pasok proyek. Sebagian manfaat ekonomi yang dihasilkan panas bumi harus kembali secara nyata kepada masyarakat yang hidup di sekitar sumber daya tersebut.
Pada saat yang sama, pemerintah harus berani menetapkan kawasan yang tidak boleh disentuh. Mata air penting, hutan lindung, kawasan bernilai ekologis tinggi, ruang adat, dan situs yang memiliki arti budaya mendalam harus mendapatkan perlindungan. Teknologi dan desain proyek harus mengikuti kondisi sosial serta ekologis Flores, bukan sebaliknya. Dengan pendekatan seperti itu, perdebatan tidak lagi terjebak pada pilihan hitam-putih antara pemerintah dan masyarakat, modernitas dan adat, atau pembangunan dan lingkungan. Flores membutuhkan ketiganya sekaligus: energi, kesejahteraan, dan kelestarian lingkungan.
Kita juga perlu jujur bahwa setiap sistem energi memiliki konsekuensi. Listrik yang digunakan masyarakat Flores saat ini tidak muncul begitu saja dari stopkontak. Di belakangnya terdapat pembangkit, jaringan, pelabuhan, kapal pengangkut bahan bakar, tambang, kilang, dan masyarakat di daerah lain yang ikut menanggung dampaknya. Ketika Flores menggunakan energi fosil yang berasal dari luar daerah, ada masyarakat di tempat lain yang hidup berdampingan dengan tambang batu bara, kilang minyak, pelabuhan, atau pembangkit.
Karena itu, persoalan moralnya tidak sederhana. Tidak adil jika suatu daerah menolak seluruh risiko produksi energi di wilayahnya sendiri, tetapi tetap menikmati energi yang proses produksinya menimbulkan beban lingkungan dan sosial bagi masyarakat di daerah lain. Keadilan lingkungan harus melihat seluruh rantai energi, bukan hanya dampak yang terjadi di depan mata. Namun, ini juga bukan alasan untuk memaksakan proyek kepada masyarakat Flores. Justru karena masyarakat diminta menanggung sebagian risiko pembangunan, mereka harus memperoleh bagian yang nyata dan adil dari manfaatnya.
Di sinilah pemerintah harus membuktikan bahwa geotermal bukan sekadar proyek dari Jakarta yang ditempatkan di Flores. Geotermal harus benar-benar menjadi proyek kesejahteraan Flores.
Gereja, para imam, uskup, akademisi, masyarakat adat, organisasi masyarakat sipil, dan media tentu mempunyai hak serta tanggung jawab untuk mengkritik pemerintah. Kritik terhadap pembangunan merupakan bagian dari demokrasi dan dapat mencegah kesalahan besar. Gereja juga memiliki panggilan moral untuk membela masyarakat yang lemah dan menjaga keutuhan ciptaan. Namun, keberpihakan kepada rakyat tidak boleh berhenti pada kata “tolak”.
Jika suatu proyek dianggap keliru, perlu ditunjukkan alternatif yang lebih baik. Jika geotermal ditolak, bagaimana Flores memperoleh listrik yang stabil selama 24 jam? Dari mana energi untuk rumah sakit, sekolah, cold storage, industri pengolahan, hotel, pelabuhan, dan rumah tangga akan berasal? Jika BBM fosil juga harus dikurangi karena emisi dan perubahan iklim, apa yang akan menggantikannya? Berapa biayanya? Siapa yang menanggung biaya tersebut? Apakah masyarakat Flores sanggup membayar energi yang lebih mahal tanpa subsidi negara yang semakin besar?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan pembelaan terhadap pemerintah. Ini adalah tuntutan tanggung jawab intelektual. Mengkritik kebijakan memang penting, tetapi merumuskan jalan keluar jauh lebih penting. Kritik yang berhenti pada penolakan tanpa menawarkan solusi hanya memindahkan persoalan, bukan menyelesaikannya.
Karena itu, perdebatan mengenai geotermal di Flores perlu dinaikkan ke tingkat yang lebih produktif. Kita tidak cukup hanya bertanya apakah pemerintah sudah mendengarkan masyarakat. Kita juga harus bertanya apakah mereka yang menolak pembangunan telah menawarkan solusi yang realistis bagi masa depan Flores. Semua pihak seharusnya berangkat dari tujuan yang sama: mengurangi kemiskinan, memastikan listrik yang andal, mengatasi ketergantungan terhadap pasokan BBM dari luar, meningkatkan nilai tambah pertanian dan perikanan, serta menciptakan lapangan kerja agar generasi muda Flores tidak selalu harus meninggalkan kampung halamannya untuk mencari masa depan.
Jika panas yang tersimpan di bawah bumi Flores dapat membantu mencapai tujuan tersebut, tugas kita bukan menerima geotermal tanpa kritik dan bukan pula menolaknya tanpa pertimbangan. Tugas kita adalah memastikan panas bumi dikembangkan secara aman, transparan, bertanggung jawab, menghormati masyarakat dan lingkungan, serta benar-benar diarahkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan orang Flores.
Flores berada di Ring of Fire. Selama ini kenyataan geografis itu lebih sering dipandang sebagai ancaman. Gunung berapi dapat meletus dan bumi dapat berguncang. Tetapi alam yang sama juga menyimpan energi. Mungkin sudah waktunya Flores melihat kenyataan tersebut bukan hanya sebagai risiko yang harus ditanggung, tetapi juga sebagai kekayaan yang dapat dimanfaatkan dengan bijaksana.
Pertanyaan terbesar bukanlah apakah kita pro atau kontra geotermal. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah bagaimana kekayaan alam Flores dapat digunakan untuk membuat masyarakatnya lebih sejahtera tanpa merusak lingkungan yang menjadi sumber kehidupan mereka. Dan kepada siapa pun yang memilih menolak geotermal, satu pertanyaan tetap harus dijawab secara jujur dan konkret: jika bukan geotermal, apa solusi energi untuk Flores? *

