Freeport Targetkan Grasberg Produksi 100% Akhir 2027, Smelter Gresik Beroperasi September 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Freeport Indonesia (PTFI) memperkirakan kinerja operasional dan keuangan perseroan masih tertekan pada 2026 seiring penurunan produksi tambang Grasberg Block Cave (GBC). Namun, perusahaan memastikan tetap mampu membayar dividen dan memberikan kontribusi signifikan kepada negara.
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas mengatakan, produksi PTFI pada tahun ini diproyeksikan hanya mencapai sekitar 65% dari kondisi normal. Penurunan produksi tersebut secara langsung berdampak terhadap pendapatan perusahaan.
Baca Juga
Freeport Dorong Perpanjangan IUPK Lebih Cepat, Tony Wenas: Pengembangan Tambang Butuh 15 Tahun
"Ya tentu berkuranglah, kan kita produksinya berkurang. Kan produksi tahun ini cuma mencapai 65%, tentu saja berkurang, pendapatannya berkurang," ujar Tony saat ditemui wartawan di Jakarta, dikutip Senin (10/8/2026).
Meski menghadapi penurunan produksi, Tony menegaskan kondisi tersebut tidak membuat kontribusi PTFI kepada negara terhenti. Perseroan masih mampu membayarkan dividen sekaligus memberikan penerimaan bagi negara.
"Tapi masih tetap bisa bayar dividen. Masih tetap bisa kontribusi kepada negara lumayan besar," katanya.
Terkait operasional GBC, Tony memastikan proses pemulihan dan pengembangan tambang tetap berjalan sesuai target. PTFI menargetkan produksi dari tambang tersebut dapat kembali mendekati kapasitas penuh pada akhir 2027.
"Targetnya akhir 2027 mendekati 100%," tegas Tony.
Penurunan produksi PTFI juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kinerja ekonomi Papua. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kontraksi sektor pertambangan dan penggalian di Papua turut memberikan tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional.
Di sisi hilir, PTFI juga mulai mempersiapkan kembali operasional smelter di Gresik. Tony mengatakan produksi di fasilitas pengolahan tersebut dijadwalkan mulai berjalan kembali pada September 2026 setelah pasokan konsentrat dari Papua mulai masuk ke fasilitas pengolahan di Manyar.
"Smelter nanti mulai bulan September sudah mulai akan produksi lagi. Sementara ini konsentrat sudah mulai masuk dari Papua, sudah mulai masuk ke Manyar," jelasnya.
Baca Juga
Freeport Dorong Perpanjangan IUPK Lebih Cepat, Tony Wenas: Pengembangan Tambang Butuh 15 Tahun
Menurut Tony, operasional smelter tidak dapat langsung mencapai kapasitas penuh karena perusahaan perlu memastikan volume konsentrat yang tersedia mencukupi sebelum proses peleburan (furnace) dilakukan secara optimal.
Tony memperkirakan tingkat operasi smelter pada tahap awal September masih berada di bawah 30%. Pengoperasian akan dilakukan secara bertahap seiring dengan meningkatnya ketersediaan konsentrat dari tambang di Papua.

