Masa Depan Nikel Cerah
JAKARTA, investortrust.id – Masa depan nikel Indonesia cerah. Nikel yang dulu hanya dipakai untuk stainless steel, kini bisa digunakan untuk bahan baku baterai kendaraan listrik yang mengurangi emisi karbon.
“Nikel punya masa depan yang baik, sama dengan sawit zaman dulu. Sawit dulu hanya dipakai untuk minyak goreng, ternyata kemudian bisa dikembangkan menjadi biodiesel,” kata Presdir PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) Roy Arman Arfandy di acara Malam Bersama Para Pemimpin Media dengan Jajaran Manajemen Harita Nickel pada Rabu, 6 Maret 2024, di Artoz, Energy Building, SCBD, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Kondisi yang mirip kini terjadi di industri nikel. Dulu, nikel hanya dipakai untuk stainless steel, kemudian bisa digunakan untuk bahan baku baterai listrik.
“Kagetlah dunia. Pasalnya, dari nikel yang dulu (hanya diolah menjadi) stainless steel, tiba-tiba bisa diproses menjadi bahan baku baterai,” kata Roy.
Hal ini membuat masa depan nikel cerah. Nikel digunakan untuk baterai kendaraan listrik NMC atau Nickel-Mangan-Cobalt, yang memiliki keunggulan dan kekurangan juga dibanding jenis baterai lain LFP atau Lithium Ferro-Phosphate. Baterai LFP dan NMC sama-sama menggunakan litium.
“Dalam baterai itu ada katoda dan anoda, dengan arus listrik dari katoda ke anoda dan sebaliknya pada saat di-charge melalui media litium. Yang membedakan, kalau baterai LFP, katodanya menggunakan fosfat dan besi. Sedangkan kalau baterai NMC, katodanya menggunakan nikel, kobalt, dan mangan. Itu saja, katodanya yang berbeda. Nah mengapa (nikel) masih prospek, karena LFP dan NMC punya keunggulan dan kekurangan masing-masing,” ucap Roy.
LFP lebih murah karena bahan bakunya lebih murah. Fosfat yang sebenarnya bahan baku untuk membuat pupuk, diolah menjadi bahan baku untuk baterai LFP.
“Bahayanya kalau seluruh mobil di dunia nanti menggunakan baterai LFP, mungkin pertanian kita sudah mati karena tidak ada untuk pupuk. Itu satu (kelemahannya),” tandas Roy.
Kedua, LFP memiliki daya simpan listrik jauh lebih rendah ketimbang baterai nikel. Kurang lebih 60-70% daya simpannya, dibanding baterai nikel dengan ukuran kapasitas sama.
“Contoh, baterai LFP yang bobotnya 50 kg bisa menyimpan 160 kWh. Kalau NMC dengan bobot yang sama, kemungkinan bisa menyimpan 200-230 kWh. Itu kelebihan NMC, tapi daya pakainya lebih pendek daripada LFP. Jadi, masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya,” ujar Roy.
Menurut Roy, kelebihan LFP dan NMC itu akan membuat kedua jenis baterai tersebut mendominasi penggunaan untuk kendaraan listrik di dunia ke depan. Sedangkan yang lain pangsa pasarnya kecil.
“Untuk yang baterai sodium-ion, solid state, atau hidrogen, itu penggembira kalau menurut saya. Karena, investasinya besar sekali, risetnya juga besar sekali, nanti investasinya membuat harganya tidak kompetitif. Jadi, kalau berdasarkan analisis, LFP dan NCM itu akan berjaya, dua unggulan yang menguasai pasar baterai di dunia,” ucap Roy.
Kedua jenis baterai tersebut tidak akan saling mematikan. Di Cina misalnya, banyak memakai LFP karena mobilnya kecil-kecil atau city car.
Selain itu, negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut sudah memiliki charging station hampir 3 juta unit di seluruh negeri. Hal ini berbeda dengan Amerika Serikat, charging station hanya 300.000. Itulah sebabnya, di negara dengan perekonomian terbesar di dunia ini banyak menggunakan baterai NMC, karena daya simpannya lebih banyak, lebih besar, dan jarak tempuh perjalanan pengendara lebih jauh.
“AS banyak menggunakan baterai NMC, karena mereka jarak tempuh jalannya lebih jauh, misalnya dari San Francisco harus ke Los Angeles atau lebih jauh, sehingga membutuhkan baterai yang tahan lama. Itu alasan pertama, dari sisi pemakaian jalan,” paparnya.
Baca Juga
Pemerintah Siap Guyur Rp 2 Triliun untuk Danai Produksi Komponen EV
Kalau di Cina, baterainya cuma 200 kWh daya simpannya, jika habis bisa di-charge karena charger di mal gampang ditemukan. Sedangkan di AS atau Eropa, di tolnya tidak banyak charging station, sehingga baterainya harus memiliki daya simpan cukup tinggi.
Kedua, mobil-mobil Amerika lebih besar ketimbang Cina. Contohnya Chevrolet, GM, modelnya besar-besar semua.
“Jadi, menurut saya tidak akan mematikan antara LFP dan NMC. Ketiga, NMC itu punya economic value untuk recycle, karena kalau NMC battery itu di-recycle akan menghasilkan produk baru bernama nikel sulfat lagi, yang bisa digunakan untuk membuat baterai. Itulah sebabnya, ujung-ujungnya, ditambang lagi nikelnya, karena dari baterai bekas bisa diperoleh nikel sulfat dan dibuat baterai lagi,” paparnya.
Sedangkan LFP bisa di-recycle, tapi tidak memiliki economic value karena tidak ada material yang bisa bernilai cukup untuk diproses menjadi baterai ulang. Paling bisa digunakan untuk besi yang tidak bisa dibuat baterai lagi.
Harga Nikel Turun Sementara
Roy menjelaskan, penurunan harga nikel dunia akibat oversupply hanya sementara. Hal ini juga dipengaruhi penurunan permintaan saat ini karena ekonomi global tengah lesu.
“Memang kondisi ekonomi dunia kurang bagus (belakangan ini), terpengaruh geopolitical tension antara Amerika dengan Cina, itu membuat harga turun. Selain itu, produksi feronikel di Indonesia meningkat drastis di 2023 dengan banyaknya pabrik-pabrik atau smelter feronikel yang beroperasi di 2023, sehingga global market kaget, kok banyak sekali suplai feronikel ke dunia,” tuturnya.
Baca Juga
Harga Nikel Diprediksi Perlahan Membaik, Simak Target Saham INCO, MBMA, NCKL, dan ANTM
Faktor lain lantaran selama ini suplai produk nikel Indonesia mengarah diekspor ke Cina, sebagai the greatest consumer untuk produk-produk nikel. Sementara, pertumbuhan ekonomi Cina sedang slow down. Propertinya lagi melemah dan beberapa real estate developer misalnya Evergrande tiba-tiba default, yang memperlambat pemulihan pertumbuhan ekonominya dan absorbi bahan baku stainless steel berkurang.
“Nah, ini yang menyebabkan harga turun dibandingkan 2022. Ini gambaran yang ada. Tapi, harga nikel akan kembali naik,” ujar Roy.
Permintaan akan Naik Lagi
Roy optimitis, permintaan nikel akan kembali meningkat. Pasalnya, nikel tidak hanya dibutuhkan untuk EV battery (baterai kendaraan listrik) berbasis nikel. Produk nikel seperti feronikel juga dibutuhkan untuk komponen dan berbagai barang lain.
Roy menjelaskan, demand nikel dunia yang terbesar masih untuk stainless steel. Sekitar 5-10 tahun lalu, stainless steel menggunakan 70% dari nikel dunia dan baterai cuma 4%. Sekarang, porsi untuk stainless steel turun ke 68% dan baterai sudah mencapai 16%. Sedangkan sisanya untuk plating, senjata, dan keperluan lain.
“Jadi, untuk segala macam itu, permintaan nikel tidak bakal bakal turun. Kalau turun itu prediksi saja, karena semua orang butuh stainless steel,” tandas Roy.
Bila dilihat dari data 2023, lanjut dia, produksi stainless steel tiap bulan masih naik, 2-3%. Untuk baterai juga naik sekitar 20%.
“Itu pun masyarakat dunia bilang baterainya naiknya cuma 20%. Padahal, 20% udah gede naiknya. Mereka harapannya baterai naiknya 50-60%, kan tidak mungkin ngejar,” ujarnya.
Ia menjelaskan, produk feronikel dari kelompok usahanya, Harita Nickel, semua diekspor. Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), salah satu bahan baku baterai kendaraan listrik, juga diekspor.
Dari sisi kontribusi terhadap perusahaan berdasarkan harga tahun lalu, lanjut Roy, MHP memberikan profit lebih besar. Pasalnya, produk untuk membuat nikel sulfat dan kobal sulfat ini lebih mahal dari feronikel.
"MHP ini bisa diolah menjadi bahan baku baterai, namun sekarang harga jualnya tertekan, hanya sedikit di atas feronikel, karena Cina dan AS berantem terus. Kemudian, Tesla dengan BYD banting-bantingan harga. Tesla sudah mengurangi 30% harga bundling-nya. Otomatis, kalau dia ngurangi harga 30%, semua supplier-nya akan ditekan,” paparnya.
Itulah sebabnya, harga baterai turun. Ini karena produsen juga ditekan harga jual mobil listriknya.
“Secara prospek, MHP lebih bagus dibanding feronikel. Jadi, permintaan nikel ke depan tetap tinggi, hal ini juga ada data institusi dari Inggris yang sudah menghitung untuk suplai di Cina. Ini ternyata tidak seperti di berita cuma sedikit,” ujarnya.
Jadi, ia menilai kondisi harga nikel tertekan sekarang bukan karena faktor oversupply, tapi karena perang dagang. Kondisi oversupply ini lebih mahal pengelolaannya di negara lain, dibanding dengan di Indonesia yang lebih murah ongkos produksinya.
Itulah sebabnya banyak yang memprotes hilirisasi nikel di Indonesia, dengan Cina yang paling enjoy. “Karena nikel ini ada 2, di Eropa itu namanya nikel sulfida. Aritnya itu jauh di bawah tanah, jadi harus underground line, makanya ongkos mahal. Sedangkan di Indonesia, Makedonia, Filipina open pit, digaruk dapat. Itu sebabnya ributlah mereka, apalagi kita punya limonite kandungan cobalt-nya tinggi, kurang apa ini Indonesia?” tegasnya.
Meski kini harga nikel turun, lanjut dia, perusahaan di Indonesia masih tetap untung. Pasalnya, production cost rendah di seluruh pemain nikel di Indonesia. (pd)

