Proyek Kereta Api SSRL Jawa Timur Masuk Tahap Perencanaan Rinci, Lelang Dimulai Awal 2027
Poin Penting
|
SURABAYA, investortrust.id — Proyek Surabaya Regional Railway Line (SRRL) Jawa Timur telah memasuki tahapan detailed engineering design (DED) dan ditargetkan memasuki proses pengadaan (procurement) pada awal 2027.
Tahapan Detailed Engineering Design (DED) dimaksud artinya proyek ini telah memasuki proses pembuatan dokumen perencanaan dan gambar teknis rinci yang mencakup desain bangunan stasiun, jalur rel ganda, serta sistem kelistrikan dan struktur.
Wakil Gubernur Jawa Timur (Jatim), Emil Elestianto Dardak menekankan, target pengadaan merupakan hasil kesepakatan dalam rapat koordinasi tingkat tinggi terkait percepatan pembangunan SRRL.
"Ditargetkan bahwa memang awal 2027 kita sudah punya desain yang siap menjadikan acuan bagi kontraktor yang akan mengerjakan (SRRL) ini nantinya," kata Emil melalui akun Instagram pribadinya (@emildardak), dikutip Rabu (29/7/2026).
Emil turut menyampaikan, proyek SRRL telah memperoleh clearance dari Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, pembangunan jalur ganda (double track) dibutuhkan untuk mendukung pengoperasian lebih dari satu layanan kereta.
"SRRL ini pertarungan besar, Pak Prabowo sudah kasih clearance untuk ini dilakukan. Sehingga kenapa double track ini dibutuhkan? Karena dengan adanya dual track memungkinkan adanya dua layanan tersebut," tegas dia.
Dia juga menjelaskan jalur Sidoarjo–Surabaya menjadi satu-satunya lintas di koridor utara maupun selatan yang belum memiliki jalur ganda. Padahal, kawasan tersebut merupakan wilayah megapolitan dengan jumlah penduduk sekitar 10 juta jiwa.
Dikatakan Emil, lahan yang telah berstatus clean and clear akan diprioritaskan untuk pembangunan proyek. Sementara itu, pemerintah daerah (pemda) juga menyiapkan penataan wilayah sebagai bagian dari pelaksanaan proyek.
Baca Juga
Rencana Aktivasi Rel Kereta Api di Jawa Barat Perlu Dukungan Anggaran
"Yang kita sepakati detik ini, lahan yang sudah clean and clear akan diarahkan untuk itu yang dipakai. Masalahnya kita kini juga harus melakukan penataan wilayah," katanya.
Emil menambahkan, pihaknya juga memperhatikan dampak sosial terhadap masyarakat setempat yang terdampak proyek tersebut, termasuk pemegang hak guna bangunan (HGB) yang tidak diperpanjang.
Di sisi lain, Emil mengapresiasi kepada Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) yang telah memetakan mitigasi risiko terkait tata kelola aset dan pembebasan lahan.
"Kami berterima kasih kepada BPKP sudah memetakan seluruh mitigasi risiko terkait tata kelola. Karena bicara soal aset, penggunaan aset, pembebasan tanah, ini kan kita tidak mau ada salah-salah langkah," tuturnya.
Di kesempatan yang sama, Deputi Bidang Koordinasi Konektivitas Kementerian Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Kemenko IPK), Odo R.M. Manuhutu mengatakan, dukungan pemerintah daerah menjadi faktor penting dalam percepatan proyek tersebut.
"Highlight dari pertemuan ini adalah ownership itu yang penting, apalagi local ownership. Dan mungkin bagi saya ini 60%–70% kesuksesan dari SRRL ini adalah dari ownership-nya Pak Wagub," katanya.
Odo menilai, dengan dukungan tersebut proses penyelesaian proyek SRRL diharapkan dapat dipercepat. "Jadi, saya yakin kita bisa mempercepat proses penyelesaian SRRL. SRRL ini long overdue," ungkapnya.
Proyek SRRL yang didanai melalui pinjaman government to government (G2G) dari KfW Development Bank senilai EUR 230 juta kepada Kementerian Perhubungan (Kemenhub) merupakan program strategis bagi kawasan megapolitan Surabaya Raya.
SRRL Tahap II (Porong–Malang) Dikaji Ulang
Dalam peninjauan lapangan, Emil juga menyoroti kondisi jalur rel yang berbatasan dengan kawasan Lumpur Lapindo. Menurutnya, kondisi tersebut memerlukan perhatian karena berpotensi memengaruhi pengembangan jaringan SRRL.
Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Surabaya, Denny Michels Adlan mengatakan, jalur kereta api di kawasan tersebut masuk kategori berbahaya karena berada sekitar tiga kilometer (km) dari pusat semburan lumpur.
"Untuk jalur kereta api di sini masuk dalam kategori berbahaya, karena tiga kilometer dari pusat semburan itu berisiko," ucapnya.
Baca Juga
Delegasi Uni Eropa dan Pemerintah Jerman Tinjau Proyek SRRL Fase 1 di Surabaya
Dia menerangkan, jalur rel yang berbatasan langsung dengan sisi barat tanggul lumpur berada pada area yang dikategorikan awas dan berbahaya. Ihwal itu, pemerintah akan mengkaji ulang studi kelayakan (feasibility study/FS) sebelum melanjutkan proses pembebasan lahan.
"Dan sekarang yang harus kita persiapkan adalah meneruskan pembebasan lahan itu tapi sebelumnya kita harus FS (feasibility study) lagi, review dulu," terang Denny.
Menanggapi hal tersebut, Emil menggarisbawahi, proyek SRRL tahap II (Porong–Malang) harus disiapkan trase alternatifnya. Dikatakan, pengembangan SRRL selanjutnya perlu sekaligus mempersiapkan koridor menuju Malang melalui pembangunan jalur ganda Sidoarjo–Tulangan serta trase baru Tulangan–Gunung Gangsir.
"Kayaknya cenderung memang harus cari trase alternatif ya," kata Emil. Hal ini disebabkan kawasan Siring atau Lumpur Lapindo yang rawan ambles.
Emil menyebut, persiapan rute alternatif Tulangan–Gunung Gangsir sebaiknya dilakukan secara paralel tanpa menunggu penyelesaian tahapan lainnya agar pengembangan SRRL dapat berjalan lebih cepat.
Sebelumnya, Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kemenhub memastikan proyek Surabaya Regional Railway Line (SRRL) atau kereta rel listrik (KRL) di kawasan 'Gerbangkertasusila', Jawa Timur (Jatim) memasuki tahap lelang di 2027 mendatang.
Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub, Allan Tandiono menyatakan, proyek SRRL tahap I akan difokuskan dengan trase Sidotopo–Sidoarjo. “Ada SRRL (Surabaya Regional Railway Line). Jadi dari Sidotopo ke Sidoarjo,” katanya kepada awak media di gedung parlemen, Jakarta, Rabu (18/2/2026) lalu.
Ia juga menjelaskan, proyek SRRL merupakan bagian dari pengembangan layanan KRL di kawasan 'Gerbangkertasusila' (Gresik-Bangkalan-Mojokerto-Surabaya-Sidoarjo-Lamongan). Terkait progres pembangunan, Allan menyebut proyek tersebut didukung pendanaan dari bank Jerman yakni Kreditanstalt für Wiederaufbau (KfW).
“Itu kan ada pinjaman dari Jerman ya. Jadi, tahun depan (2027) lelang, konstruksinya di 2028,” tutur Allan.
