Bos Pertamina Drilling Ungkap Tantangan Pengeboran Migas HPHT dan Laut Dalam
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Direktur Utama PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) Avep Disasmita menegaskan keselamatan kerja dan keunggulan operasional menjadi faktor utama dalam menghadapi tantangan pengeboran migas berisiko tinggi, terutama pada sumur high pressure high temperature (HPHT) dan wilayah laut dalam atau deepwater. Menurutnya, kemampuan mengelola risiko pada operasi yang semakin kompleks akan menjadi penentu daya saing perusahaan migas di masa depan.
Pernyataan tersebut disampaikan Avep saat menjadi pembicara dalam workshop "HPHT and Deepwater Wells: Drilling Challenges, Technologies, and Applications" yang diselenggarakan Society of Petroleum Engineers (SPE) di Jakarta, Selasa (23/6/2026). Forum tersebut dihadiri peserta dari berbagai negara di Asia hingga Eropa dan menjadi ajang bertukar pengalaman terkait pengembangan sumur berisiko tinggi.
Dalam keynote speech bertajuk “Leading Safety and Performance in High-Risk Drilling Environments”, Avep menjelaskan industri migas global tengah menghadapi perubahan besar. Sumber daya migas yang mudah dieksploitasi semakin terbatas, sementara kebutuhan energi dunia terus meningkat.
“Keberhasilan dalam operasi HPHT dan deepwater tidak hanya diukur dari kecepatan pengeboran atau kemampuan mencapai target kedalaman sumur. Keberhasilan diukur dari kemampuan kita menghadirkan operasi yang aman, andal, efisien, dan berkelanjutan sambil melindungi pekerja, lingkungan, dan aset perusahaan,” ujar Avep dikutip Kamis (24/6/2026).
Ia memaparkan bahwa permintaan energi global diproyeksikan meningkat sekitar 15% hingga 2035. Pada saat yang sama, lebih dari 70% sumber daya migas baru yang ditemukan sepanjang 2025 berasal dari wilayah deepwater dan ultra-deepwater.
Bahkan, sekitar dua pertiga sumur eksplorasi berdampak tinggi yang direncanakan pada 2026 berada di kawasan laut dalam. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan mengebor di lingkungan ekstrem akan menjadi faktor pembeda utama bagi perusahaan jasa pengeboran.
“Future growth lies deeper, hotter, and more complex. Kapabilitas pengeboran kini menjadi strategic differentiator bagi perusahaan yang ingin tetap kompetitif,” katanya.
Indonesia Punya Potensi Besar
Dalam paparannya, Avep menyoroti sejumlah temuan migas strategis di Indonesia yang masuk kategori deepwater maupun HPHT, seperti Tangkulo, Cekungan Kutai, dan Masela. Menurutnya, pengembangan wilayah-wilayah tersebut membutuhkan investasi besar, teknologi maju, dan pengalaman operasional yang kuat.
Ia menambahkan pengalaman Pertamina Drilling dalam menangani proyek panas bumi atau geotermal menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan sumur HPHT. Pengalaman mengelola temperatur tinggi dinilai relevan dengan karakteristik sumur-sumur migas bertekanan dan bertemperatur ekstrem. “Geotermal memberikan pengalaman berharga dalam menangani kondisi temperatur tinggi yang relevan dengan tantangan HPHT,” ujarnya.
Lebih lanjut, Avep menjelaskan bahwa operasi HPHT dan deepwater menghadirkan kompleksitas yang jauh lebih tinggi dibanding pengeboran konvensional. Dari sisi teknis, sumur HPHT dapat menghadapi tekanan hingga 20.000 psi dengan temperatur lebih dari 177 derajat celsius.
Selain itu, operator juga harus menghadapi margin pengeboran yang sempit, tantangan pengendalian sumur, hingga desain konstruksi sumur yang lebih rumit. Risiko teknis tersebut membuat setiap tahapan operasi membutuhkan pengawasan dan perencanaan yang lebih ketat.
Dari sisi bisnis, tantangannya tidak kalah besar. Proyek deepwater membutuhkan investasi dan biaya operasional hingga tiga kali lebih tinggi dibandingkan proyek di perairan dangkal.
Menurut Avep, biaya non-productive time (NPT), yaitu waktu operasi yang tidak menghasilkan aktivitas produktif, bahkan dapat mencapai US$ 1,5 juta per hari. Karena itu, setiap kesalahan operasional dapat berdampak besar terhadap keekonomian proyek. “Dalam proyek seperti ini, satu kesalahan operasional dapat menghapus nilai proyek yang dibangun selama bertahun-tahun,” kata Avep.
Keselamatan Harus Dimulai dari Kepemimpinan
Dalam kesempatan tersebut, Avep menegaskan bahwa keselamatan kerja bukan sekadar kewajiban kepatuhan atau prosedur administratif. Menurutnya, keselamatan merupakan perilaku kepemimpinan yang harus diterapkan secara konsisten di seluruh tingkatan organisasi.
Budaya keselamatan yang kuat, lanjutnya, akan membentuk disiplin operasional, meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, memperkuat kesadaran terhadap risiko, dan menciptakan budaya kerja yang sehat. “Safety is a leadership behavior. Keselamatan harus dimulai dari kepemimpinan dan tidak bisa didelegasikan,” tegasnya.
Baca Juga
Dasco Telepon Dirut Pertamina saat Rakernas KSPI, Soroti 55.000 Buruh Terancam PHK
Ia mendorong terciptanya lingkungan kerja yang terbuka sehingga setiap pekerja memiliki keberanian untuk menyampaikan kekhawatiran, mempertanyakan asumsi yang berpotensi menimbulkan risiko, hingga menghentikan pekerjaan ketika ditemukan kondisi yang tidak aman.
Selain aspek keselamatan, Avep menyoroti peran transformasi digital yang semakin besar dalam industri pengeboran. Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), machine learning, digital twin, dan pusat operasi real-time dinilai mampu meningkatkan kualitas pemantauan serta mempercepat identifikasi risiko.
Teknologi tersebut memberikan visibilitas yang lebih baik terhadap kondisi bawah permukaan, performa peralatan, tren operasional, hingga potensi gangguan yang dapat memengaruhi keberhasilan proyek.
Meski demikian, Avep menegaskan teknologi tidak akan pernah menggantikan peran manusia dalam pengambilan keputusan. “Technology enhances decision quality. People make decisions. Teknologi meningkatkan kualitas keputusan, tetapi manusialah yang mengambil keputusan,” ujarnya.
Untuk itu, investasi teknologi harus berjalan seiring dengan penguatan kompetensi tenaga kerja, pengembangan kepemimpinan, peningkatan kolaborasi lintas fungsi, serta penerapan human factors engineering atau pendekatan yang mempertimbangkan faktor manusia dalam sistem kerja.
Sebagai contoh implementasi budaya keselamatan dan keunggulan operasional, Avep memaparkan capaian Pertamina Drilling sepanjang 2025. Perusahaan mencatat total recordable incident rate (TRIR) sebesar 0,29, lost time injury frequency (LTIF) sebesar 0,09, serta tingkat NPT sebesar 1,29%. Capaian tersebut lebih baik dibandingkan rata-rata global industri yang dirujuk oleh International Association of Drilling Contractors (IADC) maupun International Association of Oil & Gas Producers (IOGP).
Ia menambahkan tantangan HPHT dan deepwater tidak dapat diselesaikan oleh satu perusahaan saja. Kolaborasi antara kontraktor kontrak kerja sama (KKKS), operator, perusahaan jasa, regulator, dan penyedia teknologi menjadi faktor penting untuk meningkatkan standar keselamatan serta keandalan operasi.
Selain itu, industri migas juga perlu menyiapkan generasi baru profesional pengeboran yang memiliki kemampuan berpikir kritis, literasi digital, pengambilan keputusan berbasis risiko, kepemimpinan, dan komitmen terhadap budaya keselamatan.
Sementara itu, Ketua Panitia Workshop HPHT and Deepwater Wells SPE Asia Pacific Firmansyah Arifin mengatakan kegiatan tersebut dirancang sebagai wadah berbagi pengalaman dan pengetahuan bagi para pelaku industri migas yang menghadapi tantangan pengembangan lapangan HPHT dan deepwater yang semakin kompleks.
Menurut Firmansyah, peserta memperoleh kesempatan untuk bertukar pengalaman lapangan, pembelajaran praktis, serta wawasan teknis terkait berbagai aspek pengembangan sumur berisiko tinggi.
"Selama dua hari ke depan, workshop ini menjadi platform yang sangat berharga bagi para peserta untuk bertukar pengalaman, practical lessons learned, dan wawasan teknis yang mencakup desain sumur, evaluasi subsurface, well control, reservoir management, flow assurance, digital enablement, strategi eksekusi proyek, hingga masa depan pengembangan HPHT dan deepwater," ujar Firmansyah.
Baca Juga
PHR dan PDSI Cetak Talenta Migas Riau Lewat Program Vokasi Baru
Ia menambahkan forum tersebut juga menghadirkan sesi panel yang membahas pengelolaan teknologi, risiko, dan penciptaan nilai bisnis di tengah tingginya ketidakpastian industri energi.
"Kami juga menantikan diskusi yang bermakna dalam sesi panel mengenai bagaimana mengelola teknologi, risiko, dan value creation pada lingkungan operasi yang penuh ketidakpastian. Para pemimpin industri dan para ahli akan berbagi perspektif dalam menghadapi tantangan operasional maupun komersial yang terus berkembang," katanya.
Firmansyah berharap workshop tersebut mampu memperkuat kolaborasi antarpemangku kepentingan serta mempercepat transfer pengetahuan guna mendukung operasi migas yang lebih aman, andal, dan berkelanjutan.

