Ditopang China dan ASEAN, Aktivitas Ekspor-Impor RI Meningkat di Tengah Konflik AS-Iran
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Di tengah memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah akibat perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran, aktivitas ekspor-impor Indonesia justru meningkat. China dan negara-negara ASEAN menjadi penopangnya.
“Perdagangan Indonesia tetap kuat di kawasan intra-Asia saat konflik Timur Tengah berlangsung, didominasi perdagangan dengan Tiongkok dan ASEAN,” kata Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia (Persero)/Pelindo, Achmad Muchtasyar dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu (30/5/2026).
Menurut Muchtasyar, meningkatnya pergerakan barang melalui pelabuhan, khususnya arus peti kemas, merupakan salah satu indikator penting bahwa aktivitas produksi, perdagangan, konsumsi, investasi, dan distribusi nasional terus berjalan.
Baca Juga
Wamentan: PT DSI Tak Ambil Untung dari Ekspor Satu Pintu, Pengusaha Tak Perlu Panik
Dia menjelaskan, hingga April 2026, arus peti kemas yang dilayani Pelindo mencapai 6,42 juta twenty-foot equivalent units (TEUs). Angka itu meningkat sekitar 7% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya 5,99 juta TEUs.
“Pertumbuhan tersebut menunjukkan aktivitas logistik nasional tetap bergerak positif di tengah dinamika ekonomi global,” ujar dia.
Peningkatan arus peti kemas, kata Achmad Muchtasyar, tidak hanya berasal dari aktivitas ekspor-impor, tetapi juga dari distribusi barang domestik. Peningkatan ditopang pertumbuhan segmen internasional yang meningkat sekitar 11%.
“Ekspor tumbuh 10% dan impor naik 12%. Sedangkan arus peti kemas domestik tumbuh sekitar 4%. Aktivitas bongkar meningkat 5% dan muat naik 4%,” tutur dia.
Dukung Aktivitas Ekonomi Daerah
Muchtasyar mengungkapkan, kondisi itu menunjukkan perdagangan luar negeri Indonesia tetap berjalan baik, diikuti distribusi barang antarpulau yang tetap kuat dalam mendukung konsumsi masyarakat dan aktivitas ekonomi daerah.
"Dalam distribusi perdagangan nasional, kawasan Tiongkok dan ASEAN menyumbang sekitar 46,2% ekspor Indonesia dan 56,5% impor," ucap dia.
Dia menambahkan, struktur perdagangan tersebut memberikan bantalan bagi Indonesia karena sebagian besar arus barang masih bergerak dalam kawasan yang memiliki hubungan dagang kuat, stabil, dan saling terintegrasi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sejumlah komoditas ekspor berbasis peti kemas juga mencatat pertumbuhan positif. Komoditas tersebut antara lain lemak dan minyak hewan/nabati yang tumbuh 7,95%, mesin dan peralatan mekanis 9,26%, mesin dan perlengkapan elektrik 4,9%, serta berbagai produk kimia 12,27%.
Dari sisi impor, peningkatan terutama terjadi pada mesin dan peralatan mekanis sebesar 22,1%, mesin dan perlengkapan elektrik 17,91%, instrumen optik 20,8%, serta berbagai produk kimia 36,31%.
Secara umum, menurut Achmad Muchtasyar, arus peti kemas di sejumlah pelabuhan utama yang melayani kegiatan ekspor dan impor tumbuh signifikan, seperti Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, Tanjung Emas Semarang, dan Tanjung Perak Surabaya.
"Aktivitas bongkar muat di pelabuhan-pelabuhan utama tersebut menunjukkan bahwa rantai pasok dan distribusi perdagangan nasional tetap aktif," ujar dia.
Baca Juga
Pada arus domestik, kata dia, peningkatan distribusi barang menuju kawasan timur Indonesia menjadi sinyal penting bahwa aktivitas ekonomi tidak hanya bergerak di wilayah barat Indonesia.
Muchtasyar mencontohkan, Pelabuhan Tanjung Priok mencatatkan pertumbuhan arus kemas domestik sekitar 8%, antara lain didorong meningkatnya pengiriman peti kemas menuju pelabuhan-pelabuhan di Indonesia bagian timur. Adapun Pelabuhan Tanjung Perak tumbuh sekitar 2%, didukung peningkatan layanan menuju Makassar, Kendari, dan Berau.
“Pelabuhan Makassar juga mencatat pertumbuhan sekitar 7%, ditopang pergerakan komoditas pertanian seperti beras, jagung, dan palawija seiring meningkatnya aktivitas ekonomi di Sulawesi Selatan dan kawasan sekitarnya,” papar dia.(Ant)

