Harga Emas Ambles 1%, Pasar Khawatir The Fed Kerek Suku Bunga
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas turun lebih dari 1% pada perdagangan Selasa (26/5/2026) setelah pasar memperkirakan Federal Reserve (The Fed) masih berpotensi menaikkan suku bunga tahun ini. Ketegangan geopolitik akibat serangan militer Amerika Serikat (AS) terhadap Iran juga mendorong harga minyak naik dan memicu kekhawatiran inflasi global.
Harga emas spot turun 1% menjadi US$ 4.526,86 per ons. Sementara kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni naik tipis 0,1% menjadi US$ 4.527,90 per ons.
Baca Juga
Perkuat 'Bullion' Bank, RI Bidik Produksi Emas Naik Dua Kali Lipat dan Berantas Tambang Ilegal
“Pasar obligasi memperkirakan bahwa langkah suku bunga selanjutnya oleh Federal Reserve akan berupa kenaikan. Itu merupakan hal negatif bagi pasar emas hari ini,” kata Analis pasar di American Gold Exchange Jim Wyckoff dikutip CNBC.
Tekanan terhadap emas meningkat setelah Kevin Warsh resmi dilantik sebagai kepala Federal Reserve pada Jumat (23/5/2026). Ia mengambil alih kepemimpinan bank sentral AS di tengah meningkatnya ekspektasi pengetatan kebijakan moneter global.
Pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada Desember. Meski selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, emas batangan yang tidak memberikan imbal hasil cenderung kehilangan daya tarik ketika suku bunga tinggi.
Di sisi lain, harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 3% karena ketidakpastian terkait peluang tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran. Pasar menilai konflik tersebut dapat mengganggu arus pengiriman energi melalui Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi distribusi minyak global.
Kenaikan harga minyak biasanya memicu inflasi karena produsen akan meneruskan kenaikan biaya energi kepada konsumen. Kondisi itu membuat investor semakin berhati-hati terhadap kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat. “Analisis teknikal jangka pendek masih menguntungkan pihak yang pesimis, sehingga hal itu juga memicu aksi jual teknikal,” ujar Wyckoff.
Ia menambahkan pasar juga akan mencermati rilis indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat untuk April pada Kamis (28/5/2026). Data tersebut menjadi salah satu indikator utama Federal Reserve dalam mengukur tekanan inflasi dan menentukan arah kebijakan suku bunga berikutnya.
Baca Juga
Sementara itu, UBS memangkas target harga emas akhir tahun sebesar US$ 400 menjadi US$ 5.500 per ons. Bank investasi asal Swiss tersebut menilai risiko imbal hasil obligasi yang lebih tinggi dan penguatan dolar AS masih akan membebani pergerakan emas dalam beberapa bulan ke depan.
Logam mulia lainnya juga mengalami tekanan. Harga perak spot turun 2,1% menjadi US$ 76,43 per ons. Platinum melemah 0,9% menjadi US$ 1.950,71 per ons, sedangkan paladium turun 0,2% menjadi US$ 1.396,26 per ons.

