Indonesia Genjot Hilirisasi Tembaga demi Kemandirian Industri Pertahanan Nasional
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Indonesia menghadapi paradoks dalam pengelolaan sumber daya mineral. Meski menguasai sekitar 3% cadangan tembaga dunia, Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku amunisi dari luar negeri. Kondisi ini mendorong percepatan sinergi antara sektor pertambangan dan industri pertahanan guna membangun kemandirian nasional dari hulu hingga hilir.
Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan Indonesia menempati peringkat ketujuh dunia dalam cadangan tembaga dan peringkat ke-11 dalam produksi tambang.
Baca Juga
Permintaan Dunia Dorong Kemendag Naikkan HPE Konsentrat Tembaga dan Emas Periode Maret 2026
Namun, kapasitas hilirisasi tembaga nasional masih tertinggal. Industri hilir tembaga Indonesia berada di posisi ke-18 dunia, di bawah sejumlah negara, seperti Jepang, India, Korea Selatan, hingga Bulgaria yang tidak memiliki cadangan tembaga signifikan. Kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya ruang peningkatan nilai tambah mineral di dalam negeri.
Salah satu produk hilir strategis yang kini menjadi sorotan adalah brass cup, bahan baku utama selongsong amunisi yang hingga kini masih dipenuhi melalui impor. Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono menilai hilirisasi tembaga memiliki posisi strategis dalam mendukung kemandirian industri pertahanan nasional.
Menurut dia, pengolahan tembaga secara terintegrasi dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku alat utama sistem persenjataan, amunisi, hingga teknologi pertahanan strategis lainnya. “Dengan adanya integrasi antara sektor pertambangan dan industri pertahanan, Indonesia tidak hanya mengurangi ketergantungan pada impor bahan baku, tetapi juga memperkuat posisi dalam menjaga kedaulatan dan keamanan nasional,” ujar Dave dikutip Senin (18/5/2026).
Urgensi hilirisasi ini tercermin dari tren impor yang terus meningkat. Berdasarkan data Perkembangan Impor Non-Migas Kementerian Perdagangan, nilai impor tembaga dan produk turunannya tumbuh rata-rata 5,11% per tahun sepanjang periode 2021 hingga 2025. Nilainya meningkat dari US$ 1,90 miliar dengan kenaikan kumulatif mencapai 15,27%.
Dave optimistis hilirisasi yang dijalankan secara konsisten dapat membangun ekosistem pertahanan yang lebih mandiri dan berdaya saing. Menurut dia, langkah ini sejalan dengan politik luar negeri bebas aktif Indonesia sekaligus memperkuat sektor pertahanan sebagai pilar stabilitas nasional.
“Komisi I DPR akan terus mendorong sinergi antara pemerintah, BUMN, dan sektor swasta agar hilirisasi tembaga benar-benar memberikan manfaat nyata bagi industri pertahanan nasional, sekaligus mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan,” tambahnya.
Langkah konkret mulai dijalankan melalui kolaborasi Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID dan Holding Industri Pertahanan Defend.ID. Melalui PT Freeport Indonesia dan PT Pindad, kedua entitas membangun fasilitas produksi brass cup di Gresik. Pabrik tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi 10.000 ton per tahun untuk memenuhi kebutuhan komponen amunisi dalam negeri.
Baca Juga
Royalti Tembaga, Emas, dan Timah Naik, Emiten Timah hingga Emas Dibayangi Volatilitas Jangka Pendek
Ke depan, MIND ID juga berencana mengembangkan fasilitas hilirisasi lanjutan untuk memproduksi batang tembaga dan kawat tembaga dengan kapasitas 300.000 ton per tahun. Selain itu, perusahaan menyiapkan produksi pipa tembaga berkapasitas 100.000 ton per tahun yang seluruhnya berbasis katoda tembaga hasil produksi domestik.
Produk-produk hilir tersebut dapat menjadi bahan baku penting bagi berbagai industri pertahanan yang membutuhkan komponen berbasis tembaga. Langkah ini menjadi kontribusi nyata perusahaan pelat merah dalam menjalankan mandat hilirisasi nasional guna meningkatkan nilai tambah komoditas mineral di dalam negeri.

