Bagikan

Riset K33: Level US$ 60.000 Bisa Jadi Titik Terendah Siklus Bitcoin Saat Ini

Poin Penting

Harga Bitcoin kembali melemah setelah gagal bertahan di atas rata-rata pergerakan utama di kisaran US$83.000.
K33 Research mencatat rata-rata funding rate Bitcoin selama 30 hari tetap negatif selama 81 hari berturut-turut, mendekati rekor terpanjang sepanjang sejarah.
Meski minat terbuka derivatif masih tinggi dan arus keluar ETF Bitcoin AS mencapai US$1,6 miliar dalam lima hari, K33 menilai penurunan ke area US$60.000 pada Februari lalu kemungkinan merupakan titik koreksi terdalam di siklus saat ini.

JAKARTA, investortrust.id – Harga Bitcoin (BTC) kembali gagal menembus level rata-rata pergerakan utama di kisaran US$ 83.000, memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi koreksi tajam lanjutan. Namun, lembaga riset kripto K33 Research menilai pola pergerakan siklus kali ini berbeda dibandingkan fase penurunan besar pada 2014, 2018, dan 2022.

Menilik data Coinmarketcap, Rabu (20/5/2025) pukul 06.10 WIB, BTC berada di level US$ 76.635, turun 0,51% dalam sehari dan terjatuh 4,97% dalam sepekan terakhir.

Dalam laporan terbarunya, Kepala Riset K33, Vetle Lunde, menyebut reli pemulihan Bitcoin saat ini berlangsung lebih lambat dan belum menunjukkan tanda-tanda euforia berlebihan seperti pada siklus sebelumnya.

Pada periode bearish terdahulu, Bitcoin sempat melonjak agresif mendekati rata-rata pergerakan 200 hari sebelum kembali jatuh tajam akibat tingginya leverage dan posisi bullish spekulatif. Kondisi tersebut, menurut K33, belum terlihat pada pasar saat ini.

“Pergerakan lambat saat ini belum menghasilkan dinamika seperti itu. Data derivatif justru menunjukkan sentimen yang sangat pesimistis,” tulis Lunde dilansir dari Coindesk, Rabu (20/5/2026).

Baca Juga

Sambut Bitcoin Pizza Day, Bittime Gelar Kampanye Trade Any Coin and Earn BTC

K33 mencatat rata-rata tingkat pendanaan Bitcoin selama 30 hari tetap berada di area negatif selama 81 hari berturut-turut, mendekati rekor terpanjang dalam sejarah. Kondisi ini menunjukkan pelaku pasar masih cenderung bearish meskipun harga BTC telah pulih dari level terendah Februari di sekitar US$ 60.000.

Selain itu, basis tahunan kontrak berjangka Bitcoin di CME juga sempat turun di bawah 2,5%, level yang secara historis identik dengan fase kehati-hatian ekstrem investor.

Meski demikian, K33 mengingatkan masih terdapat risiko volatilitas tinggi di pasar. Minat terbuka (open interest) derivatif bitcoin tetap tinggi, sehingga pelemahan harga lebih lanjut berpotensi memicu tekanan besar di pasar.

Baca Juga

Bitcoin Uji Level 'Support' US$ 76.000, MicroStrategy Borong 24.869 BTC

Di sisi lain, arus keluar ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat tercatat mencapai US$ 1,6 miliar dalam lima hari terakhir seiring pelemahan harga di dekat area US$ 83.000. Level tersebut dinilai menjadi titik impas rata-rata bagi banyak pemegang ETF Bitcoin.

Menurut K33, investor secara historis cenderung melakukan aksi jual lebih agresif ketika harga kembali ke titik impas setelah mengalami penurunan panjang.

Meski demikian, indikator internal K33 masih menunjukkan pola yang lebih menyerupai fase penguatan pasar seperti Maret-April 2025, ketika Bitcoin sempat tertekan akibat kebijakan tarif Presiden Donald Trump sebelum akhirnya mencetak rekor tertinggi baru.

K33 tetap mempertahankan pandangan bahwa penurunan Bitcoin menuju US$ 60.000 pada Februari lalu kemungkinan menjadi koreksi terdalam dalam siklus saat ini.

“Pasar bullish yang kurang agresif pada 2025 menciptakan fondasi untuk pasar bearish yang lebih moderat pada 2026,” tulis Lunde.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024