DMC Dompet Dhuafa Beberkan 4 Langkah Praktis "Bergerak Bareng" dalam Menghadapi Bencana
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa menyatakan bahwa mitigasi bukan tentang menunggu bencana datang, tapi tentang seberapa erat masyarakat berpegangan sebelum ia tiba.
Bencana dapat terjadi kapan saja dan di mana saja, sehingga penting untuk melakukan langkah-langkah pencegahan dan mitigasi untuk mengurangi risiko dan dampaknya. Menurut Kepala Bagian Mitigasi dan Diklat Bencana DMC Dompet Dhuafa Achmad Lukman, terdapat empat langkah praktis "bergerak bareng" yang dapat dilakukan untuk penanggulangan bencana.
1. Pemetaaan Risiko
Lukman menjelaskan, pemetaaan risiko merupakan langkah awal yang penting dalam menghadapi bencana. Dengan memetakan risiko, maka dapat diketahui daerah-daerah yang rawan bencana dan menentukan langkah-langkah yang tepat untuk mengurangi risiko tersebut.
"Pemetaan risiko, teman-teman, kita dapat melakukan duduk bersama pemetaan wilayah rawan di wilayah kabupaten/kota," ujar Lukman dalam acara Diskusi Publik bertajuk "Peran Penting Anak Muda dalam Aksi Mitigasi Bencana dan Kemanusiaan," Kamis (8/1/2026).
Pemetaan risiko dapat dilakukan di tingkat RT, RW, atau lingkungan, dan dapat melibatkan masyarakat setempat. Daerah rawan bencana dapat diidentifikasi dengan melakukan pemetaan risiko.
Pemetaan risiko dapat dilakukan dengan mengidentifikasi tempat-tempat yang rawan bencana, seperti tempat parkir, tempat sampah, atau area lain yang berpotensi membahayakan. Dengan mengetahui daerah rawan bencana, maka dapat ditentukan langkah-langkah yang tepat untuk mengurangi risiko tersebut.
"Jadi boleh dipetakan, nanti bisa menggunakan ya bahasanya tim siaga bencana atau tim ranger ataupun apa itu keren sekali kalau bisa memetakan mana yang daerah rawan-rawan atau bahaya untuk masyarakat. Baik itu tingkat yang kecil, keluarga, RT, RW, dan lingkungan yang paling besar," ungkap Lukman.
Baca Juga
2. Penyusunan Rencana Evakuasi
Penyusunan rencana evakuasi merupakan langkah penting dalam menghadapi bencana. Dengan menyusun rencana evakuasi dan menentukan titik kumpul yang aman, maka dapat mengurangi risiko cedera dan kematian akibat bencana. .
Menurut Lukman, penyusunan dan evakuasi harus dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan semua anggota masyarakat.
"Ini catatan ya, tidak boleh seorang kepala yayasannya menentukan sendiri. Nah, yang lain mengusulkan titik yang lebih aman, nggak boleh.Nah, ini juga nggak bisa diterima, maka untuk menentukan titik kumpul dan evakuasi, ini harus duduk bersama, semuanya harus bersepakat bersama," jelas Lukman.
3. Latihan Rutin
Lebih lanjut, Lukman menyebut, latihan rutin menjadi langkah praktis yang dapat dilakukan untuk penanggulangan bencana. Menurutnya, latihan rutin merupakan langkah penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Dengan melakukan latihan rutin, maka dapat memastikan bahwa masyarakat siap menghadapi bencana dan dapat mengurangi risiko cedera dan kematian. Latihan rutin dapat dilakukan minimal setahun sekali dan dapat melibatkan masyarakat setempat.
"Kita bisa melakukan latihan rutin. Itu bisa dilakukan minimal setahun sekali, latihan rutin untuk simulasi, kemudian latihan untuk pertolongan pertama, dan sebagainya," ucap Lukman.
Baca Juga
Dompet Dhuafa Gelar Servis Motor Gratis bagi Warga Terdampak Banjir di Tapanuli Tengah
4. Tabungan Bencana
Mengelola dana merupakan langkah penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Dengan mengelola dana yang tepat, maka dapat memastikan bahwa kita memiliki sumber daya yang cukup untuk menghadapi bencana.
Mengelola dana dapat dilakukan dengan membuat tabungan bersama atau mengelola dana khusus untuk bencana.
"Bergerak bareng itu mengelola dana, dana daurat di tingkat komunitas. Ini hanya sebagai usulan, tapi ada beberapa contoh di wilayah Nusa Tenggara Barat atau Timur itu, pernah disampaikan seorang anak-anak muda, perempuan, dia mengelola dana tabungan, itu khusus ibu-ibu, itu masyarakat pesisir," kata Lukman.
Lukman menuturkan, dana tabungan ini dikumpulkan untuk menghadapi bencana kekeringan yang sering terjadi di wilayah tersebut. Dana tabungan ini digunakan sebagai sumber daya ketika masyarakat menghadapi bencana kekeringan.
Ketika suami-suami tidak bisa mencari nafkah, dana tabungan ini dapat menjadi sumber daya yang penting bagi ibu-ibu untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga mereka. Dengan adanya dana tabungan ini, masyarakat dapat lebih siap menghadapi bencana dan mengurangi risiko keuangan yang dihadapi.
"Nah, mungkin bisa dengan cara yang lain, bagaimana kita membuat tabungan bersama, setiap bulan misalnya Rp 1.000, tapi untuk semua masyarakat atau komunitas ini membuat tabungan bersama, bisa digunakan ketika ada kedaruratan apapun," pungkas Lukman.

