Tak Ada Pesta Kembang Api, Perayaan Tahun Baru di GWK Bali Dimeriahkan ‘Musical Laser Show’
Poin Penting
|
BALI, investortrust.id — Pergantian tahun 2026 di Bali berlangsung dalam nuansa yang berbeda. Tanpa dentuman kembang api yang selama ini identik dengan pesta pergantian tahun.
Baca Juga
Kesederhanaan yang Mengesankan Perayaan Malam Tahun Baru di Bundaran HI
Perayaan tahun baru di Pulau Dewata terasa lebih sepi dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal ini ditambah dengan guyuran hujan pada sore dan malam hari. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memang sudah memprakirakan potensi hujan ringan hingga sedang di sejumlah wilayah Bali pada malam pergantian tahun, dengan intensitas hujan diprediksi meningkat pada 1–2 Januari 2026.
Banyak wisatawan memendam kecewa akibat larangan pesta kembang api. Pasalnya, banyak dari mereka yang sudah membuat rencana jauh-jauh hari, tapi harus menerima pemberitahuan pembatalan secara mendadak. Seperti dikeluhkan @febbrii di IG, yang menyayangkan pembatalan pesta kembang api di GWK, padahal itulah yang menjadi daya tarik pembeli tiket acara Count Down 2026 di GWK.
“Kasian ama temen-temen yang udah exited, bahkan ada yang dari luar Bali beli tiket jauh-jauh buat nonton firework di GWK. Sampe booking VIP tiket,” tulisnya. “Bukannya kita tidak berempati sama yang kena bencana. Tapi, harusnya ada solusi supaya tidak mengecewakan semua pihak,” tambahnya.
Namun, Pemerintah Provinsi Bali meyakini, kebijakan pelarangan pesta kembang api (firework party) di sejumlah titik utama tidak menyurutkan arus wisatawan, baik mancanegara maupun domestik, yang memadati Bali sepanjang libur Nataru.
Data Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai mencerminkan masih kuatnya daya tarik Bali. Dalam periode 15–29 Desember 2025 saja, jumlah penumpang yang dilayani mencapai 1.045.706 orang, mencakup kedatangan dan keberangkatan domestik maupun internasional. Angka ini menegaskan bahwa momentum pemulihan pariwisata Bali masih terus berlanjut.
Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa keputusan meniadakan kembang api merupakan bagian dari empati nasional sekaligus kepatuhan terhadap surat edaran Kapolri, menyusul bencana alam besar yang melanda Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.
Baca Juga
Sambut Tahun Baru 2026 di Lokasi Bencana, Prabowo Ajak Warga Berdoa Bersama
“Rasanya kurang elok kalau dalam kondisi ini kita berpesta kembang api. Kita harus berempati dan memberi perhatian lebih serius terhadap upaya mitigasi hujan dan potensi banjir,” ujar Koster. Ia optimistis absennya kembang api tidak akan mengurangi minat wisatawan, karena Bali menawarkan lebih dari sekadar pesta visual.
Polresta Denpasar memastikan tidak menerbitkan izin kembang api di wilayah Denpasar dan Badung Selatan, termasuk membatalkan izin yang sempat terbit.
Ubah Konsep
Tanpa kembang api, pelaku industri pariwisata Bali ditantang untuk berinovasi. Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park di Badung, yang pada tahun-tahun sebelumnya menjadikan pesta kembang api sebagai magnet utama, tahun ini mengubah konsep dengan menghadirkan “Musical Laser Show” bertajuk Neon New Year’s Eve.
Pertunjukan ini memadukan tata cahaya laser berskala besar, musik, dan panggung spektakuler, sekaligus menandai pergeseran menuju hiburan yang lebih ramah lingkungan.
“Ini bukan sekadar pengganti kembang api, tetapi evolusi cara kita merayakan tahun baru,” ujar salah satu pengelola GWK, seraya menambahkan bahwa respons wisatawan tetap sangat positif, khususnya dari turis mancanegara yang mencari pengalaman berbeda dan berkelanjutan.
Di sisi lain Bali, Nuanu Creative City di Tabanan menghadirkan perayaan dengan pendekatan komunitas dan masa depan musik. Lebih dari 20 musisi elektronik dan alternatif generasi baru Indonesia tampil berkolaborasi, menegaskan tren meningkatnya minat wisatawan muda terhadap pengalaman budaya yang autentik dan eksperimental.
Destinasi lain pun tak kalah hidup. Dari pesta tepi tebing di Uluwatu, suasana intim dan spiritual di Ubud, hingga party by the gulf di Sunset Point Amed dengan latar Gunung Agung, Bali menawarkan spektrum perayaan yang luas. Ruang publik seperti Pantai Kuta, Finns Beach Club, Atlas Beach Club, dan Pantai Mertasari tetap menjadi titik temu favorit, namun dengan pengamanan lebih ketat dan tanpa kembang api.
Nuansa empati dan kebersamaan juga terasa kuat di daerah. Pemerintah Kabupaten Gianyar memilih merayakan pergantian tahun di Alun-Alun Kota Gianyar dengan konser musik lokal, hiburan rakyat, serta doa bersama. Acara yang digelar selama dua hari ini ditutup dengan refleksi dan doa bagi para korban bencana, serta menyanyikan lagu “Bagimu Negeri” sebagai simbol persatuan dan harapan.

