JAKARTA, Investortrust.id -- Kedutaan Besar India bersama India News Desk melanjutkan program Voices of Tomorrow pada Sabtu (10/10/20025). Pada sesi ketujuh, kegiatan yang mempertemukan dua jurnalis berpengalaman Indonesia dan India dengan jurnalis muda Indonesia menghadirkan Dipanjan Roy Chaudhury (The Economic Times) dan Taufiq Rahman (The Jakarta Post) sebagai mentor. Keduanya berbagi wawasan tentang isu-isu strategis dan peran media dalam membingkai dinamika geopolitik modern.
Jurnalis The Economic Times Dipanjan Roy Chaudhury menyampaikan sejumlah tantangan dalam kajian strategis, salah satunya yakni perkembangan media digital yang semakin pesat. Keberadaan media sosial seperti X (Twitter) membuat seseorang bisa menyampaikan opini mereka tentang isu-isu strategis dan menyebarkannya di media sosial dengan cepat.
"Terkadang orang-orang dengan 10.000 pengikut mungkin memiliki pemahaman yang lebih baik daripada orang-orang yang memiliki 300.000 pengikut, karena terkadang mereka mendapatkan pengikut tersebut juga dibuat bukan organik, jadi itu salah satu tantangannya," kata Roy.
Tantangan lainnya dalam kajian geopolitik saat ini yakni isu yang terus bergerak cepat dan tidak terprediksi dan terpola, bahkan di zona konflik sekalipun. Ia mencontohkan bagaimana posisi Amerika Serikat (AS) di tengah konflik yang terjadi antara Israel dan Hamas di bawah pemerintahan Presiden AS Donald Trump saat ini.
"Apa yang terjadi dalam pembuatan kesepakatan ini, dan yang dibawa oleh Presiden Trump adalah negosiasi publik, negosiasi di ranah publik yang sedang dia lakukan. Itu sangat unik. Sebagai seorang jurnalis yang menulis tentang diplomasi dan urusan strategis, saya juga bisa setuju dengan ini," ujarnya.
Dalam sesi yang sama, jurnalis The Jakarta Post Taufiq Rahman mempresentasikan materi berjudul "Indonesia: Rowing Between Two Rocks". Taufiq menjelaskan tentang kebijakan luar negeri yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto. Taufiq mengungkapkan kunjungan Prabowo ke sejumlah negara seperti Amerika Serikat, China, Rusia, dan sejumlah negara di Eropa menunjukan konsisten Prabowo dalam menjalankan amanat para pendiri bangsa tentang sikap politik luar negeri Indonesia yang bebas, aktif dan independen.
Dalam paparannya Taufiq juga menjelaskan kembali mengenai sejarah kebijakan luar negeri Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Soekarno yang condong ke kiri, dan Presiden Soeharto yang condong ke barat. Di akhir presentasinya, Taufiq juga menjelaskan kebijakan luar negeri Indonesia dari masa ke masa dari masa reformasi hingga saat ini.