Kwik Kian Gie
Poin Penting
|
Oleh: Prof Didik J Rachbini,
Ekonom Senior Indef/Rektor Universitas Paramadina
INVESTORTRUST.ID - Bangsa Indonesia kehilangan tokoh dan ekonom hebat, Kwik Kian Gie, yang berperan besar dalam melakukan koreksi dan check and balances bagi kebijakan ekonomi. Ekonom kritis yang lahir pada 11 Januari 1935, di Pati, Jawa Tengah itu berpulang pada Senin malam (28/7/2025) dalam usia 90 tahun.
Kwik Kian Gie sangat vokal dan berpengaruh sebagai ekonom intelektual tahun 1980-an. Saat itu masih sedikit kelompok terpelajar, tetapi Kwik sudah menyelesaikan pendidikannya di universitas ternama di dunia, Nederlandse Economische Hogeschool di Rotterdam (sekarang Erasmus University). Karena itu, pemikiran-pemikiran dan kritikannya tentang kebijakan-kebijakan ekonomi pemerintah di media massa sangat didengar dan berpengaruh.
Pada tahun 1990-an semakin banyak golongan terpelajar di bidang ekonomi dan politik. Tetapi mereka semua berkumpul di pemerintahan Orde Baru. Tetapi tidak bagi Kwik Kan Gie, ia tetap berada di luar, menjalankan peran check and balances secara tidak formal untujk mengkritisi kebijakan-kebijakan ekonomi.
Baca Juga
Didik Rachbini: Kampus Menyuarakan Demokrasi dari Hati Nurani
Lalu muncul Kelompok Ekonomi 30, yang rajin memberikan pemikiran dan kritik di media massa, seperti Kwik Kian Gie sendiri, Sjahrir, Rizal Ramli, Dorodjatun, Hendra Esmara, Nuriman Hasibuan, Rijanto, Didik Rachbini, dan banyak lagi (sebagian besar sudah wafat).
Sebelum reformasi pertengahan tahun 1990-an sudah banyak ekonom yang memberikan berbagai saran dengan bukti akademik (evidence based) dan teoritis. Tetapi ekonom Orde Baru waktu itu sangat dominan dan saran-saran kebijakan yang dikemukakan para ekonom lain relatif tidak mempan. Kebijakan ekonomi Orde Baru di bawah kelompok yang disebut Mafia Berkeley dipuji-puji sampai akhirnya pada tahun 1997 ambruk.
Tajam, Independen, Kritis
Kwik adalah salah satu ekonom dan tokoh publik Indonesia yang memiliki perjalanan karier dan pemikiran yang tajam, independen, serta kritis, baik pada masa Orde Baru maupun pada era Reformasi. Ia dikenal sebagai figur intelektual yang berani menyuarakan kebenaran, bahkan jika itu berarti harus berseberangan dengan kekuasaan.
Baca Juga
Kwik Sempat menjabat pada era Reformasi sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas (1999–2000) dalam Kabinet Persatuan Nasional di bawah Presiden Abdurrahman Wahid dan Menteri Koordinator Ekonomi, Keuangan, dan Industri (2001) pada era Presiden Megawati Soekarnoputri.
Apa warisan pemikiran Kwik Kian Gie? Pemikirannya relevan sampai saat ini, yaitu tentang pentingnya kedaulatan ekonomi. Ini yang selalu disuarakannya. Menurut Kwik, bangsa Indonesia jangan tergantung kepada Dana Moneter Internasional (IMF) dan utang tidak boleh disubordinasi secara politik oleh kekuatan asing dan Barat.
Baca Juga
Didik Rachbini: Hati-Hati dengan ‘Demokrasi Ketoprak’ pada Piplres 2024
Karena itu, Kwik Kian Gie menekankan perlunya kewaspadaan terhadap jebakan utang luar negeri. Kwik juga kerap melontarkan kritik terhadap oligarki ekonomi-politik. Tak jarang pula ia mengkritik konglomerat hitam yang bergantung kepada lisensi negara tetapi merugikan rakyat.
Kwik Kian Gie sangat kritis terhadap Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Bagi Kwik, BUMN adalah separuh ekonomi bangsa yang sangat instrumental. Karena itu, penting untuk menjaga BUMN sebagai aset strategis bangsa.
Pemikiran-pemikiran dan kritikan-kritikan Kwik Kian Gie tentu relevan sampai kapan pun. Apa relevansinya dengan kondisi sekarang? Danantara tidak boleh gagal!

