Intip Spek F-16 TNI AU yang Bikin Langit IKN Menggelegar, Ada yang Bisa Pandu Senjata Nuklir
JAKARTA, investortrust.id — Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang pertama kali digelar di Ibu Kota Nusantara (IKN) diwarnai momen spesial dengan atraksi udara dari pesawat-pesawat tempur TNI-AU. Seluruh personil TNI-AU yang telah berpengalaman dan terlatih mengeluarkan segenap kemampuan, tenaga dan pikiran untuk menampilkan berbagai atraksi yang memukau publik terutama hadirin yang mengikuti Upacara Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di IKN.
Total ada dua flight yang dipersiapkan oleh TNI-AU untuk gelaran ini, yaitu Garuda Flight dan Falcon Flight, masing-masing dipimpin oleh Danskadron Udara 3 Letkol Pnb Anwar "Weasel" Sovie dan Danskadron Udara 14 Letkol Pnb Bambang "Sphinx" Aulia Yudhistira.
Mereka terdiri dari sembilan pesawat tempur F-16 Fighting Falcon lansiran General Dynamics, AS dan delapan pesawat latih ringan KT-1 Wong Bee buatan Korea Selatan. Keseluruhan pesawat dan personil telah tiba di Pangkalan Udara Dhomber, Balikpapan sejak Sabtu (10/8/2024). F-16 Blok 52ID yang tiba di Dhomber berasal dari Skadron Udara 14 Lanud Iswahjudi, Madiun, sedangkan tim Jupiter Aerobatik Team (JAT) dengan KT-1 Wong Bee berasal dari Skadron Pendidikan 101 Wingdik 100/Terbang Lanud Adisucipto Yogyakarta.
Jet tempur TNI AU itu melakukan flypass sekitar pukul 10.45 WITA, setelah pengibaran Bendera Pusaka Merah Putih oleh Paskibraka. Atraksi penerbang TNI-AU dipandu oleh Kapten Penerbang I Putu Satrya Kedaton yang berada di darat untuk memberikan keterangan kepada hadirin. Pada acara tersebut, Garuda Flight sukses menampilkan manuver-manuver khas seperti High-G Turn, High-Speed Spiral Climb dan manuver Bomb Burst, yang membutuhkan kecepatan, ketepatan, dan sinkronisasi sempurna.
Manuver Bomburst dilakukan dengan dua pesawat atau lebih. Pesawat terbang lurus saling berhadapan dan ketika semakin dekat satu sama lain, mereka akan naik hingga membentuk sudut 90 derajat (lurus ke atas) dengan bagian bawah body pesawat (fuselage) saling berhadapan dalam jarak dekat.
Sedangkan High-G-Turn merupakan manuver yang memungkinkan pilot melakukan belokan lebih tajam dari biasanya sementara pesawat akan kehilangan kecepatan dan daya angkat yang cukup besar (stall). Manuver ini cukup sulit mengingat tekanan gravitasi yang tinggi pada pilot saat melakukan gerakan ini, karena itu diperlukan skill dan latihan intensif serta fisik yang prima.
Vertical Spiral Climb adalah manuver yang memungkinkan pesawat untuk "berjungkir balik" pada posisi vertikal dengan sudut yang kecil. Manuver yang cukup sulit dan ketat ini memungkinkan pesawat musuh terbang melewati posisi ofensif dan mengubah posisi pesawat yang bermanuver dari sudut defensif menjadi ofensif. Pada saat melakukan manuver ini, F-16 TNI-AU melepaskan flare, atau peluru suar yang terlihat seperti kembang api. Flare adalah alat pengecoh yang terbuat dari logam panas dengan suhu melebihi exhaust dari pesawat tempur dengan tujuan membelokkan peluru kendali yang mengejar.
Dalam demo udara ini, flight leader pesawat tempur F-16 Fighting Falcon, Letkol Pnb Anwar Sovie memberikan ucapan HUT ke-79 Kemerdekaan RI secara live dari kokpitnya, pada saat Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi di Istana Negara IKN. Sementara, pada acara Penurunan Bendera Pusaka pada sore hari Jupiter Aerobatik Team (JAT) yang selalu menjadi bintang dalam setiap air show, memamerkan kemampuan aerobatik melalui manuver loop and break off, head on pass, jupiter wheel, individual attack dan screw roll, serta manuver love. Manuver-manuver tersebut memukau ribuan penonton dengan keindahan formasi dengan tingkat presisi tinggi yang memerlukan latihan intensif dan keahlian luar biasa dari para penerbang.
Komandan Skadron Pendidikan 103 Wingdik 100/Terbang Lanud Adisucipto Yogyakarta Letkol Pnb Idam Satria seperti dilansir dari laman resmi tni-au.mil.id menjelaskan bahwa pihak JAT telah menyiapkan beberapa manuver. Namun karena keterbatasan waktu maka hanya menyiapkan 5 manuver yang sudah dirangkai dengan pesawat F-16.
Kecanggihan F-16 Block 52ID TNI-AU
Dikutip dari situs World Directory of Modern Military Aircraft (www.wdmma.org) dan situs resmi Kemenhan RI, TNI-AU memperoleh 24 unit F-16 Block 52ID hasil hibah dari pemerintah AS yang datang secara bertahap pada tahun 2016 dan 2017. Pada 2011, pemerintah Indonesia menandatangani kesepakatan untuk membeli 24 jet F-16 bekas dari pemerintah AS senilai US$750 juta. Proyek pengadaan pesawat tempur ini dinamai sebagai Peace Bima Sena II. Pesawat sebanyak 24 unit tersebut adalah pesawat bekas AU AS dari tipe C/D yang ditingkatkan dan diretrofit kemampuan mesin, struktur rangka dan avionik.
F-16 Block 52ID menggunakan mesin yang lebih baru sehingga mampu terbang dengan daya yang lebih besar ketimbang F-16 A/B. Pesawat F-16 C/D 52ID sebelumnya merupakan F-16 C/D Block 25 yang memiliki bentuk fisik dan berat kotor maksimum serta tipe mesin sama dengan pesawat F-16 Block 15 A/B OCU milik TNI AU yang lebih dulu datang pada tahun 1989. Pesawat F-16 C/D Block 52ID dengan daya dorong lebih besar memungkinkan untuk mengangkut senjata dan perlengkapan yang lebih berat dan bisa terbang lebih jauh. F-16C/D Block 52ID ini telah mampu membawa peluru kendali jarak menengah AIM120C-7-AMRAAM.
F-16C/D Block 52ID telah dilengkapi navigasi dan targeting pod untuk operasi malam hari serta misi Supression Of Enemy Air Defence (SEAD) untuk menghancurkan pertahanan udara musuh. Improved Data Modem dibenamkan sehingga memungkinkan penerbang melakukan komunikasi tanpa suara, dan berbagi data dengan pesawat lain, dengan radar darat, radar laut atau radar terbang (EAW/AWACS). TNI AU mengklaim, upgrade pesawat F-16 C/D 52ID tidak main-main karena mengejar kemampuan setara dengan Block 52. Di antaranya memasang Mission Computer MMC-7000A versi M-5 yang dipakai Block 52+, Improved Data Modem Link 16 Block-52, Embedded GPS INS (EGI) block-52 yang menggabungkan fungsi GPS dan INS (Inertial Navigation System).
Di tahun yang sama, Indonesia juga memesan Sniper Advanced Targeting Pod dari Lockheed Martin, AS setelah mendapat lampu hijau dari kongres AS. Lockheed Martin sebagai produsen menolak membuka jumlah yang dipesan oleh Indonesia meski pada awal sempat diketahui TNI membutuhkan setidaknya 16 unit pods ini. Dikutip dari deagel.com, harga per unit Sniper ATP mencapai US$1,6 juta. Karena mahalnya harga pod ini, tak heran bila Kemhan RI hanya memproyeksikan pengadaan 16 set perangkat ini pada awal proyek. Sniper ATP ini bisa digunakan di beberapa pesawat tempur standard NATO termasuk B1 Lancer dan mampu memandu peluru kendali berhulu ledak nuklir.
Arsenal TNI AU Belum Mencapai MEF
TNI AU diketahui memiliki setidaknya 10 F-16 tipe A/B yang telah ditingkatkan usia pakai dan kemampuannya, kemudian 23 F-16 C/D Block 52ID. Selain itu ada 16 pesawat tempur kelas berat bermesin ganda buatan Russia, Sukhoi Su-27/30 SKM/MK2 yang datang secara bertahap sejak 2003 hingga 2013. Total hanya 49 unit pesawat tempur TNI AU dengan tingkat combat readiness yang diperkirakan di bawah 70% untuk menjaga langit NKRI yang sangat luas.
Setelah pesawat tempur F-5 E/F Tiger dipensiunkan, kekuatan TNI AU jelas berkurang dan saat ini pun Skadron Udara 12 dan Skadron Udara 1 Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau masih mengoperasikan pesawat serang/latih jenis Hawk MK 100/200 yang mulai menua. Hawk dipertahankan sambil menunggu kedatangan Rafale yang dipesan dari Prancis. Seperti diketahui, Kementerian Pertahanan RI pada 10 Februari 2022 telah menandatangani kontrak untuk pembelian 42 jet tempur Rafale dengan Dassault Aviation di Jakarta. Sedangkan hiruk pikuk pembelian 11 unit Sukhoi Su-35 telah lama hilang gaungnya.
Sedangkan program KFX/IFX Boramae masih dalam tahap pengembangan dan beberapa negoisasi mengalami hambatan. Indonesia telah sepakat menanggung 20% dari biaya produksi Boramae dan akan menerima 48 pesawat tempur generasi 4.5 semi siluman ini. Meskipun Indonesia tetap menyatakan komitmen untuk tetap terlibat, namun permasalahan anggaran masih menjadi hambatan hingga kini.
Badai Covid-19 yang melemahkan ekonomi global memang telah berlalu, tetapi penanganan Covid di Indonesia telah memakan begitu banyak anggaran, sehingga Kemenhan pun harus berpikir keras untuk memenuhi kebutuhan MEF TNI. Tantangan selain anggaran juga terletak pada diversifikasi negara produsen, hingga kuantitas alat utama sistem senjata yang dibeli. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, kekuatan pokok minimum atau MEF ditargetkan sudah mencapai 100%. Padahal, pada awal 2023, MEF TNI Angkatan Udara (AU) baru mencapai 51,51%, sedangkan TNI Angkatan Darat (AD) 76,23% dan TNI Angkatan Laut 59,69% hingga 2021. Secara keseluruhan pada 2021, MEF TNI sebesar 62,31%.
Kementerian Pertahanan yang dipimpin oleh Presiden Terpilih, Prabowo Subianto telah bekerja keras dan marathon dalam upaya memenuhi alutsista TNI dengan anggaran yang tersedia. Wacana untuk membeli pesawat tempur bekas dengan usia pakai yang masih layak sempat mengemuka ketika Prabowo mengungkapkan niat untuk membeli Eurofighter Typhoon milik Austria dan juga ide untuk mengakuisisi Mirage 2000-5 bekas Qatar sebagai alutsista interim mengisi kekosongan pos yang ditinggalkan F-5 Tiger. Kedua ide tersebut tidak terwujud hingga kini karena berbagai alasan.
Angin segar berembus untuk TNI AU ketika Pemerintah RI dan Pemerintah AS sepakat menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MOU) pembelian 24 unit pesawat tempur F-15EX produksi Boeing, Amerika Serikat, di markas Boeing di St. Louis, Missouri pada tahun 2023. Pesawat jet tempur F-15EX adalah jet tempur terbaru generasi 4.5 bermesin ganda sehingga tepat untuk menjadi jembatan bagi penerbang TNI AU menuju pesawat tempur generasi 5. Apalagi F-15EX ini termasuk pesawat tempur air superiority atau lini depan sehingga tepat untuk menggantikan armada Sukhoi TNI-AU.
EX disematkan pada F-15 terbaru ini merujuk pada versi E yang berarti pesawat dengan tempat duduk ganda dari sebelumnya versi CX dengan pilot tunggal, X disini menandakan versi unggulan atau exceeds. Angkatan Udara AS memilih versi EX dan memesan sebanyak 8 unit di awal. Jadi EX di sini artinya F-15 dengan pilot tandem versi terkini, bukan ex dalam arti bekas seperti banyak diributkan oleh netizen. Sebelumnya Indonesia sempat mengungkapkan minat untuk membeli F-35 Lightning, pesawat tempur siluman generasi ke-5 bermesin tunggal, namun ditolak oleh pemerintah AS.
Setidaknya dalam waktu 5 tahun ke depan pada masa pemerintahan Prabowo Subianto, TNI AU akan menerima kedatangan dua jenis pesawat tempur lini depan terbaru, yakni Rafale dan F-15EX yang akan datang secara bertahap. Tantangan bagi TNI AU adalah masalah interoperabilitas antar pesawat, suplai logistik dan suku cadang. TNI AU saat ini mengoperasikan berbagai pesawat dari berbagai produsen mulai dari Amerika Serikat, Inggris, Konsorsium Eropa untuk Airbus A400M, Korea Selatan, hingga Brazil.

