Menyatukan Anies dan Ahok sebagai Eksperimen Politik
Oleh Didik J Rachbini
Rektor Universitas Paramadina
INVESTORTRUST.ID - Politik sejatinya hanya citra (image), persepsi, dan bukan yang sebenarnya atau bukan sebenar-benarnya. Dalam politik praktis dan proses politik di lapangan, persepsi baik atau buruk, persepsi toleran atau radikal atau persepsi apa saja bisa dibentuk dengan gampang dan dengan berbagai cara dan metode.
Pertarungan politik Anies Baswedan dan Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) di Jakarta beberapa tahun lalu dalam pertarungan persepsi menjadi kenyataan dalam sekejap, tetapi kemudian lenyap dalam sekejap berikutnya.
Banyak pihak yang takut kemenangan Anies di Jakarta akan menjadi monster politik radikal, yang tidak akan toleran terhadap keberagaman. Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta adalah pilgub paling brutal dan jangan diulangi lagi.
Baca Juga
Citra dan persepsi itu hanya dalam beberapa tahun lenyap ketika Anies hadir dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 dengan partai pendukung dari partai-partai nasionalis.
Tim pemenangan di kanan kirinya juga datang dari kaum nasionalis, dengan latar belakang agama yang lengkap.
Dalam Pilpres 2024 tidak ada lagi pertarungan citra radikal agama dan radikal sekuler, anti-NKRI, dan rasisme.
Politik dan demokrasi yang terbuka seperti sekarang ini adalah pertanda baik, paling tidak dilihat dari sisi persepsi citra seperti ini, kecuali masalah etika dan nepotisme Jokowi.
Karena itu, gagasan politik menyatukan Anies dan Ahok di Jakarta adalah eksperimen yang baik dan berani untuk membersihkan pencitraan politik menuju polarisasi radikal agama atau radikal sekuler. Radikal sekuler di sini mirip-mirip radikal kiri yang antiagama.
Peluang Menang Sangat Besar
Peluang Anies dan Ahok bersatu sangat mungkin karena beberapa faktor. Pertama, Anies sejatinya seorang yang relegius tetapi tidak radikal seperti yang dipersepsikan ketika hadir dalam Pilgub DKI Jakarta dulu.
Kedua, Ahok memang temperamental, yang kadang-kadang tabu di dalam politik. Namun, sesungguhnya Ahok adalah seorang yang nasionalis jika dilihat dari sejarah karis politiknya.
Ketiga, tidak ada lagi faktor pendorong keduanya ke arah radikal karena Anies sudah bisa tampil di dalam pilpres dengan citra nasionalis religius biasa. Keempat, Ahok juga akan bisa diterima publik.
Baca Juga
Duet Anies-Ahok di Pilkada Jakarta Mustahil Terwujud, Ini Penjelasan KPU
Anies dan Ahok pasti berpikir positif jika paham gagasan seperti ini dari berbagai pihak yang hendak menjadikannya simbol kesatuan dari keduanya.
Anies masuk Jakarta mempunyai peluang menang sangat besar jika tidak kita katakan hampir 100%.Anies punya prestasi di Jakarta, meskipun banyak kritik juga.
Jakarta Indah dan banyak hal diselesaikan, juga bagian dari prestasinya.Dan, Anies Baswedan semakin populer ketika menjadi calon presiden (capres).
Jika Anies tidak masuk politik dalam dalam lima tahun ke depan maka namanya akan hilang dari peredaran. Anies bukan pemimpin partai politik seperti Prabowo Subianto atau Jusuf Kalla (JK) pada masanya.
Karena itu, masuk ke dalam politik di Jakarta adalah peluang yang baik, tidak hanya bagi karier dirinya, tetapi juga bagi bangsa untuk 2029 nanti. ***

