IHSG Diprediksi Bergerak Terbatas, Analis Rekomendasikan BBCA, PGAS, dan ADRO
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Jumat (13/3/2026) diperkirakan masih dalam fase konsolidasi. Saham yang direkomendasikan analis di antaranya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO).
Pelaku pasar akan terus memantau perkembangan konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah serta dinamika harga minyak dunia yang saat ini menjadi sumber utama volatilitas di pasar global.
Analis pasar modal yang juga Founder Stocknow.id, Hendra Wardana memperkirakan pergerakan IHSG masih cenderung terbatas dengan rentang support di level 7.300 dan resistance di area 7.420.
"Jika ketegangan geopolitik mereda dan harga minyak kembali stabil, peluang IHSG untuk melanjutkan technical rebound masih cukup terbuka, terutama didukung oleh aliran dana asing yang masih masuk ke pasar domestik," kata Hendra kepada investortrust.id, Kamis (12/3/2026).
Baca Juga
IHSG Ditutup Anjlok 0,37% dan Nilai Transaksi Turun Drastis, Sebaliknya KUAS dan ALKA Melesat
Pada perdagangan Kamis, IHSG ditutup melemah tipis di posisi 7.362 setelah bergerak fluktuatif sepanjang sesi. Tekanan terhadap pasar terutama dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak dunia hingga sempat kembali menembus level psikologis US$ 100 per barel.
Laporan mengenai serangan terhadap kapal di wilayah Selat Hormuz dan perairan dekat Irak memunculkan kekhawatiran pasar terkait potensi gangguan pasokan energi global. Situasi ini membuat pelaku pasar cenderung lebih berhati-hati karena konflik di jalur distribusi minyak strategis dunia berpotensi memicu kembali kenaikan inflasi global sekaligus memperlambat ekspektasi penurunan suku bunga oleh bank sentral utama.
Menurut Hendra Wardana, meski dibayangi sentimen eksternal tersebut, pergerakan IHSG masih cukup terjaga. Hal itu tecermin pada aliran dana asing yang kembali mencatatkan pembelian bersih (net buy) sekitar Rp 905 miliar.
"Hal ini menunjukkan bahwa investor global masih melihat valuasi pasar saham Indonesia cukup menarik, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar yang secara fundamental masih solid," ucap Hendra.
Selain itu, kata Hendra, penguatan tipis nilai tukar rupiah di pasar spot pada kisaran Rp 16.885 per dolar AS turut memberikan sedikit dukungan bagi sentimen pasar domestik, meskipun volatilitas global masih tergolong tinggi.
Dia mengakui, dari sisi domestik, sentimen korporasi juga memberikan warna tersendiri bagi pasar. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) mencatatkan lonjakan laba pada awal 2026 dengan pertumbuhan laba bersih lebih dari 280% secara tahunan (yoy).
“Kinerja BTN didorong oleh peningkatan pendapatan bunga serta penurunan biaya dana yang berhasil memperbaiki margin bunga bersih," jelas dia.
Di sisi lain, menurut Hendra, BBCA memberikan katalis positif melalui keputusan pembagian dividen sekitar Rp 41 triliun untuk tahun buku 2025 dengan rasio pembayaran mencapai 72%.
“Dividen yang besar ini memperkuat daya tarik saham perbankan besar sebagai instrumen investasi yang stabil di tengah ketidakpastian global,” tutur dia.
Baca Juga
Sambut Dewan Komosiner OJK Baru, IHSG Sesi I Ditutup Rebound 39,38 Poin
Hendra Wardana mengungkapkan, saham yang menarik dicermati antara lain BBCA yang secara teknikal berpotensi melanjutkan penguatan dengan target harga di kisaran Rp 7.200 seiring sentimen pembagian dividen yang cukup besar.
Selain itu, kata dia, saham PGAS masih menarik karena kenaikan harga energi global berpotensi meningkatkan sentimen terhadap sektor gas dan energi domestik dengan target trading di area Rp 2.200.
Hendra Wardana juga menganjurkan investor mencermati saham ADRO yang diperkirakan bergerak positif menuju target Rp 2.700 seiring prospek komoditas energi yang masih kuat.
“Di luar itu, saham PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) dapat diperhatikan untuk trading jangka pendek dengan target di kisaran Rp 280 sejalan dengan potensi perbaikan sentimen pada sektor media dan konsumsi domestik,” papar dia.

