Target Harga Saham United Tractors (UNTR) Direvisi Naik Jadi Rp 33.000, Ditopang Arus Kas Kuat
JAKARTA, investortrust.id – PT United Tractors Tbk (UNTR) diprediksi mampu untuk mempertahankan arus kas bebas (free cash flow/FCF) kuat mencapai Rp34,7 triliun pada 2026, meskipun menghadapi sejumlah tantangan operasional, seperti potensi pengurangan volume produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara.
Kemampuan tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas BRI Danareksa Sekuritas merevisi naik target harga saham anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) ini dari Rp 32 ribu menjadi Rp 33 ribu per saham dengan rekomendasi dipertahankan beli. Saat ini, saham UNTR diperdagangkan pada valuasi sekitar 6,2 kali price to earnings (PE) proyeksi 2026 atau sekitar 1,1 standar deviasi di atas rata-rata lima tahun.
Baca Juga
Tetapkan Harga Rights Issue, Pelayaran Nasional (ELPI) Bakal Raup Dana Rp 739,34 Miliar
Analis BRI Danareksa Sekuritas Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan dalam riset yang dirilis mengatakan, UNTR tengah menghadapi ketidakpastian dari penghentian operasional tambang emas Martabe serta potensi pengurangan RKAB batu bara yang dapat memengaruhi volume kontrak pertambangan dan produksi tambang milik sendiri melalui anak usaha TTA.
BRI Danareksa Sekuritas mengungkap bahwa diskusi dengan otoritas terkait operasional Martabe masih berlangsung. Meski demikian terbuka peluang operasional berlanjut dalam 1–2 bulan setelah memperoleh persetujuan dan penerbitan RKAB.
Baca Juga
United Tractors (UNTR) Cetak Laba Tahun Berjalan Rp 15,17 Triliun di 2025
Adapun bisnis kontraktor perseroan melalui PT Pama Persada juga menghadapi tantangan. Saat ini, kontraktor tambang ini masih beroperasi pada kapasitas penuh, meski sempat terdampak curah hujan tinggi pada Februari 2026. “Dampak dari potensi pengurangan RKAB dari para klien diperkirakan mulai terasa pada April 2026,” tulisnya.
Meski demikian, risiko tersebut diperkirakan dapat diredam, karena sekitar 50% pendapatan Pama berasal dari klien dengan izin usaha pertambangan khusus (IUPK) yang memiliki risiko lebih rendah terhadap pemangkasan RKAB. Perseroan juga berencana mengajukan revisi RKAB untuk tambang batu bara miliknya pada kuartal II-2026.
Ditopang Harga Komoditas
BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan bahwa proyeksi produksi emas disesuaikan menjadi sekitar 120 ribu ons, turun dari asumsi sebelumnya 204 ribu ons tahun ini, seiring penghentian sementara operasional Martabe dengan asumsi produksi kembali dimulai pada paruh kedua 2026.
Sementara itu, produksi batu bara dari tambang milik UNTR tahun ini diperkirakan mencapai 14,8 juta ton, turun dari proyeksi sebelumnya 18,2 juta ton. Adapun volume overburden dan batu bara yang ditangani Pama diperkirakan mencapai 935 juta bcm dan 125 juta ton, turun dari proyeksi sebelumnya 1,3 miliar bcm dan 141 juta ton.
Baca Juga
Astra International (ASII) Raup Laba Atribusi Rp 32,76 Triliun di 2025
Meskipun terdapat penyesuaian produksi, kinerja UNTR pada 2026 diperkirakan tetap ditopang oleh kenaikan harga emas dan batu bara. Harga emas diproyeksikan mencapai US$ 4.900 per ons. Sementara harga batu bara diperkirakan berada di level US$ 130 per ton.
“Kenaikan harga komoditas tersebut dinilai berpotensi mendapat dukungan dari gangguan pasokan energi di tengah konflik di Timur Tengah yang dapat menguntungkan sektor batu bara,” tulisnya.
Kenaikan harga tersebut berpeluang mendongkrak laba bersih UNTR menjadi Rp 17,79 triliun tahun ini, dibandingkan raihan tahun lalu Rp 14,81 ttriliun. Sebaliknya pendapatan diprediksi turun menjadi Rp 121,80 triliu, dibandingkan tahun lalu Rp 131,30 triliun.

