BTN (BBTN) Bidik Pertumbuhan Kredit 8-10% dan Laba Melesat hingga 22% pada 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN memilih menerapkan strategi yang lebih konservatif dalam mendorong pertumbuhan kinerja keuangan pada tahun 2026 ini, dengan fokus pada efisiensi operasional, perbaikan proses bisnis, dan penurunan biaya dana guna menopang profitabilitas secara berkelanjutan. Untuk mencapai target tersebut, bank dengan kode emiten BBTN itu tengah menyiapkan beberapa aksi korporasi untuk penguatan bisnis yang akan dilaksanakan di tahun ini.
BTN pada tahun 2025 sebagai informasi mencetak laba bersih konsolidasi sebesar Rp 3,5 triliun atau naik 16,4% secara tahunan. Pada penyaluran kredit, BTN secara konsolidasi tercatat sebesar Rp 400,57 triliun, meningkat 11,9% yoy .BTN menargetkan laba naik 20-22% dan kredit tumbuh 8-10% secara tahunan (year on year/YoY). Sementara, BTN menargetkan laba naik 20-22% dan kredit tumbuh 8-10% secara tahunan (year on year/YoY) di tahun 2026 ini.
Sehingga, dengan persentase tersebut, BTN di 2026 ditargetkan bisa meraih laba sekitar Rp 4,20 triliun–4,27 triliun dengan kredit Rp 432,62 triliun–440,63 triliun.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan perseroan tidak akan memaksakan pertumbuhan kredit secara agresif, meskipun kinerja laba tetap menunjukkan tren positif. Hingga Februari 2026, laba BTN tercatat tumbuh 19% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Bahkan pada Januari 2026, BTN mencatat lonjakan laba bersih signifikan yang mencapai Rp 230 miliar, melonjak sekitar 578% dibandingkan Januari tahun lalu.
Menurut Nixon, strategi BTN saat ini diarahkan pada pembenahan internal, terutama di sisi proses bisnis, kualitas layanan, dan efisiensi struktur pendanaan. Dengan pendekatan tersebut, BTN berharap dapat menjaga pertumbuhan bisnis secara sehat tanpa harus mendorong ekspansi kredit secara berlebihan.
“Saya tidak akan terlalu paksain loan growth. Tetap growth, tapi tidak terlalu dipaksain. Tapi kami lebih memikirkan perubahan bisnis proses di dalam. Supaya lebih efisien," ujarnya dalam buka puasa bersama pimpinan redaksi di Menara 2 BTN, Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Berdasarkan paparannya, BTN menargetkan pertumbuhan laba bersih sebesar 20%-22% pada 2026 seiring strategi pertumbuhan bisnis yang lebih berkelanjutan dan penguatan struktur pendanaan. Perseroan juga menargetkan pertumbuhan kredit di kisaran 8%-10% dan pertumbuhan dana pihak ketiga atau deposito sebesar 7%-9% pada tahun ini.
“Jadi ini yang kita kejar. Perbaikan internal process, business process, kualitas layanan. Ini menghasilkan sesuatu yang berubah. Caranya yang berubah. Dan tiap hari, tiap minggu, itu anak-anak kita drill untuk melakukan perubahan mindset, perubahan cara jualan, perubahan pelayanan. Jadi, itu keuangannya kita kejar terus. And believe kita di tahun ini labanya bisa naik 20-22%,” jelas Nixon.
Baca Juga
Di sisi efisiensi, BTN membidik cost of fund di bawah 3,6%, cost of credit pada level 1,0%-1,2%, serta rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) dijaga di bawah 3,0%. Target tersebut menunjukkan BTN berupaya menjaga pertumbuhan yang tetap agresif di sisi profitabilitas, namun lebih terukur dalam ekspansi kredit, sambil terus memperbaiki kualitas aset dan efisiensi biaya dana.
Selain target bisnis utama, BTN juga menyiapkan sejumlah aksi korporasi untuk memperkuat bisnis pada 2026. Langkah itu meliputi penguatan permodalan senilai Rp 2 triliun yang dijadwalkan pada semester I 2026, kemudian penerbitan wholesale funding sebesar Rp 4 triliun pada semester I-II 2026, serta pembelian aset kredit pensiunan senilai Rp 20 triliun pada semester I-II 2026.
Rangkaian target dan aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi BTN untuk mendorong pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan, memperkuat struktur permodalan, serta meningkatkan daya saing perseroan di tengah tantangan industri perbankan.
"Di sisi pendanaan, BTN juga menjalankan sejumlah inisiatif untuk memperkuat struktur modal dan menurunkan biaya dana, di antaranya melalui penerbitan subordinated debt serta optimalisasi sumber pendanaan wholesale funding. Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. BTN mencatat cost of fund pada Januari–Februari 2026 telah turun menjadi 3,6%. Penurunan itu dicapai tanpa diikuti pelemahan dana yang dihimpun perseroan.
Perseroan, lanjut Nixon, terus memperkuat retail funding, menahan laju biaya bunga, serta menerapkan kebijakan special rate secara lebih selektif. Strategi ini dinilai efektif untuk menjaga pendanaan tetap tumbuh sekaligus meningkatkan efisiensi biaya.
Dengan pembenahan di sisi funding dan operasional, BTN optimistis laba tahun ini dapat tumbuh di kisaran 20% hingga 22%, meskipun pertumbuhan kredit dijaga pada level yang lebih moderat.
Nixon menambahkan, sejak 2023 pendapatan perseroan terus meningkat. Namun, pertumbuhan laba tidak sepenuhnya dimaksimalkan karena sebagian dialokasikan untuk pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) sebagai langkah kehati-hatian.
Ia juga menilai transformasi BTN dalam beberapa tahun terakhir mulai menunjukkan hasil, tercermin dari perbaikan sejumlah indikator kinerja, termasuk penurunan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL). Menurut dia, transformasi tersebut menjadi bagian dari upaya berkelanjutan BTN untuk memperkuat tata kelola, integritas, dan kualitas bisnis perseroan.
Baca Juga
BTN (BBTN) Cetak Laba Rp 230 Miliar per Januari, Melonjak 578%
Dominasi Pembiayaan Rumah
BTN menegaskan posisinya sebagai bank utama pendukung program perumahan pemerintah, tercermin dari dominasi perseroan di pembiayaan rumah nasional hingga akhir 2025. BTN mencatat total aset mencapai Rp 528 triliun per Desember 2025. Perseroan juga telah menyalurkan pembiayaan untuk 5,98 juta unit KPR sejak berdiri, menegaskan peran sentral BTN dalam mendukung kepemilikan rumah bagi masyarakat Indonesia.
Di pasar pembiayaan perumahan, BTN sambung Nixon menguasai sekitar 39% pangsa pasar KPR nasional dan sekitar 70% pangsa pasar KPR subsidi per akhir 2025. Sementara itu, sekitar 75% portofolio kredit BTN ditopang oleh pembiayaan KPR, menunjukkan bisnis perumahan tetap menjadi tulang punggung perseroan.
Untuk menopang operasional, BTN didukung oleh 748 jaringan kantor dan 13.111 karyawan hingga akhir 2025. Data tersebut menegaskan kekuatan infrastruktur distribusi BTN dalam menjangkau nasabah perumahan di berbagai wilayah.
"BTN menekankan bahwa kiprahnya di sektor perumahan telah berlangsung selama 76 tahun, sejalan dengan mandat BTN dalam melayani keluarga Indonesia melalui pembiayaan hunian," kata Nixon.
Secara keseluruhan, capaian tersebut memperlihatkan BTN masih menjadi pemain dominan di sektor pembiayaan perumahan, khususnya pada segmen KPR subsidi, di tengah upaya pemerintah mendorong perluasan akses hunian bagi masyarakat.
Perkuat Posisi Brand
Lebih lanjut, Nixon mengatakan, BTN kini tengah memperkuat brand equity melalui program sponsorship sekaligus memperluas kerja sama business to business (B2B) untuk mengembangkan bisnis berbasis ekosistem dana. BTN menempatkan Bale by BTN sebagai salah satu ujung tombak penguatan merek. Melalui platform tersebut, BTN tercatat menjadi sponsor empat klub sepak bola ternama, serta melakukan aktivasi merek pada ajang seperti BTN Jakarta International Marathon 2025 dan BTN Fashion Week.
Strategi sponsorship tersebut mulai menunjukkan hasil. Salah satu indikator performa memperlihatkan peningkatan hingga 1,5 kali, sementara pertumbuhan transaksi tercatat mencapai 2,1 kali. Adapun aktivasi melalui BTN Fashion Week disebut membukukan volume berbasis fee sekitar Rp 113 miliar dari layanan XTS dan EDC.
"BTN juga memperluas kolaborasi B2B untuk memperbesar basis bisnis berbasis komunitas dan institusi. Kerja sama itu mencakup sektor pariwisata, pemerintah daerah, komunitas keagamaan, hingga rumah sakit," ujar Nixon.
Pada sektor pariwisata, BTN menjalin kerja sama strategis dengan Ancol untuk mendorong ekosistem wisata dan digitalisasi. Kolaborasi tersebut meliputi sponsorship/naming rights, konektivitas JPO Ancol–JIS, revitalisasi marina, layanan pembayaran digital seperti QRIS, EDC, dan virtual account, serta program promosi bagi pengguna payroll BTN.
Sementara itu, di segmen pemerintah daerah, BTN menggenjot kerja sama untuk mendukung pembangunan daerah melalui pembiayaan perumahan, infrastruktur, pariwisata, dan UMKM, termasuk layanan bagi ASN dan pembiayaan KPR. Dalam paparan tersebut, potensi volume bisnis dari kolaborasi dengan pemerintah daerah disebut mencapai sekitar Rp 6,4 triliun.
BTN, tambah Nixon, juga memperluas penjajakan kerja sama dengan ekosistem HKBP dan DKI, serta sektor rumah sakit, sebagai bagian dari strategi memperbesar dana murah dan memperkuat basis nasabah institusional.
Langkah tersebut menunjukkan arah strategi BTN yang tidak hanya berfokus pada penghimpunan dana ritel, tetapi juga pada pembangunan ekosistem bisnis yang lebih luas melalui kombinasi penguatan merek dan kolaborasi institusional.

