Meski IHSG Anjlok, Investor Asing justru Net Buy Didominasi Saham Bank Ini
JAKARTA, investortrust.id – Investor asing membukukan pembelian bersih (net buy) saham senilai Rp 101,96 miliar, meskipun indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (12/1/2026), ditutup anjlok sebanyak 52,03 poin (0,58%) menjadi 8.884.
Net buy terbanyak melanda saham BBRI Rp 234,56 miliar, ANTM senilai Rp 215,61 miliar, TLKM sebanyak Rp 159,26 miliar, ADRO mencapai Rp 129,15 miliar, dan IMPC senilai Rp 108,57 miliar.
Baca Juga
Insight Investments: Obligasi Tetap Atraktif, Saham Mulai Menawarkan Peluang di 2026
Sebaliknya lima saham dengan penjualan bersih terbanyak melanda saham BUMI sebanyak Rp 437,90 miliar, RAJA senilai Rp 285,97 miliar, BBCA senilai Rp 279,65 miliar, RATU mencapai Rp 86,02 miliar, dan PWON sebanyak Rp 78,98 miliar.
Penurunan indeks dipicu atas kejatuhan sejumlah saham big cap, khususnya saham emiten yang dikendalikan Prajogo Pangestu. Di antaranya saham BREN melemah 5,01%, PTRO turun 6,43%, BRPT turun 7,10%, TPIA melemah 3,35%, dan AMMN melemah 2,76%.
Sedangkan sektor utama penekan indeks datang dari kejatuhan sektor infrastruktur melemah 2,37%, sektor teknologi turun 1,68%, sektor energi turun 1,39%, sektor konsumer non primer 0,57%. Sebaliknya kenaikan lebih dari 2% melanda saham sektor industry dan konsumer primer.
Baca Juga
Meski indeks anjlok sebanyak tujuh saham berikut catatkan kenaikan pesat hingga auto reject atas (ARA), seperti saham MSKY menguat 34,88% menjadi Rp 116, DKHH naik 34,83% menjadi Rp 120, KPIG menguat 25% menjadi Rp 280.
ARA juga melanda saham SOHO naik 24,85% menjadi Rp 2.060, GULA naik 24,84% menjadi Rp 382, ATAP naik 24,59% menjadi Rp 760, dan INDS menguat 24,48% menjadi menguat 24,48% menjadi Rp 356.
Sepanjang pekan lalu, IHSG berhasil bukukan kenaikan sebanyak 188 poin atau melesat 2,16% dari level 8.748 menjadi 8.936. Bahkan, IHSG sempat cetak rekor intraday tertinggi sepanjang masa 9.002. Kenaikan tersebut ditopang penguatan mayorita sektor saham, khususnya saham sektor material dasar dipicu kenaikan pesat harga saham emiten nikel.

