Bagikan

Prospek Bitcoin di 2026, Apa Kata Michael Saylor?

Poin Penting

Meski harga Bitcoin turun hampir 10% di akhir tahun, Michael Saylor menilai 2025 bukan kegagalan, melainkan fase persiapan.
Saylor menilai pelemahan Bitcoin lebih disebabkan oleh kontraksi ekonomi global dan likuiditas yang ketat, bukan karena lemahnya fundamental kripto.
Bank-bank besar AS dikabarkan mulai melirik pembelian, penyimpanan, dan pembiayaan berbasis Bitcoin pada 2026.

JAKARTA, investortrust.id - Meskipun Bitcoin (BTC) mengalami penurunan hampir 10% di akhir tahun, Michael Saylor, pendiri MicroStrategy memberikan pandangan optimis untuk koin nomor wahid ini. Menurutnya, tahun 2025 bukanlah kegagalan, melainkan sebuah persiapan untuk lonjakan besar yang akan datang.

Dalam wawancara terbaru di podcast Alex Thorn, Saylor menekankan bahwa 12 bulan terakhir ini merupakan periode paling krusial dalam sejarah Bitcoin (BTC) dari segi fundamental.

“Dua belas bulan terakhir ini mungkin adalah yang terbaik dalam sejarah industri ini dari segi fundamental,” ujar Saylor dilansir dari Pintu, Senin (29/12/2025).

Ia menambahkan bahwa meskipun institusi besar seperti BlackRock mendapatkan banyak perhatian, sekitar 85% Bitcoin (BTC) masih dipegang oleh pemegang awal yang identitasnya belum banyak diketahui. Pasar derivatif, khususnya kontrak perpetual yang menggunakan leverage, memiliki peran besar dalam pergerakan harga jangka pendek.

Baca Juga

Mirae Asset Dikabarkan Bidik Bursa Kripto Korbit, Nilai Akuisisi Bisa Mencapai US$ 101,4 Juta

Menurut Saylor, struktur ini membuat harga Bitcoin (BTC) seringkali lebih dipengaruhi oleh sentimen pedagang dan leverage daripada permintaan spot, bahkan dalam periode adopsi yang kuat.

Lebih lanjut, performa lambat Bitcoin (BTC) lebih disebabkan oleh kondisi makroekonomi global daripada masalah spesifik kripto. Secara historis, Bitcoin (BTC) berkinerja baik ketika aktivitas ekonomi mengalami ekspansi di atas level kritis 50 dalam siklus Indeks Manajer Pembelian (PMI). Namun, ekonomi global telah berada dalam kondisi kontraksi selama hampir tiga tahun terakhir.

Sementara itu, seorang analis, Nico, menggambarkan Bitcoin (BTC) sebagai “termometer likuiditas”. Ketika uang mudah didapat, harga Bitcoin (BTC) naik. Sebaliknya, ketika uang sulit didapat, harga turun. Hal ini menunjukkan bahwa aksi harga yang redup mungkin mencerminkan kondisi likuiditas yang ketat daripada fundamental yang melemah.

Bank Mulai Melirik Bitcoin

Saylor menambahkan, di tahun 2026, partisipasi institusional diharapkan akan meningkat.

“Kami mendengar rumor bahwa bank-bank besar AS akan mulai membeli Bitcoin (BTC), menyimpan Bitcoin (BTC), dan mengeluarkan kredit terhadap aset Bitcoin (BTC) asli pada paruh pertama tahun 2026,” kata Saylor.

Baca Juga

Reli Terkuat dalam Dekade, Emas dan Perak Kalahkan Saham dan Kripto di 2025

Hal ini didukung oleh pertemuan antara CEO MicroStrategy dengan eksekutif dari BNY Mellon, Wells Fargo, Bank of America, dan bank lainnya yang sedang menjajaki cara mengelola Bitcoin (BTC) untuk klien sebelum menawarkan pinjaman atau produk investasi.

MicroStrategy saat ini memiliki 671.268 BTC, bernilai miliaran dolar, memimpin gelombang kepemilikan Bitcoin (BTC) oleh perusahaan publik. Secara keseluruhan, perusahaan publik kini memiliki lebih dari 1 juta BTC, menunjukkan minat yang tumbuh dari institusi dan regulasi yang lebih jelas.

Dengan adanya gelombang adopsi baru dan kondisi makroekonomi yang diharapkan membaik, harga Bitcoin (BTC) di tahun 2026 diperkirakan akan berkisar antara US$ 143.000 hingga US$ 170.000. Kondisi ini menunjukkan prospek yang sangat menjanjikan bagi para investor dan pengamat pasar.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024